Mengubah Passion Menjadi Sumber Pendapatan

Media Komunitas UMKM Muda Indonesia
Konten dari Pengguna
4 April 2022 17:11
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Ayo Naik Kelas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mengubah Passion Menjadi Sumber Pendapatan (109320)
zoom-in-whitePerbesar
Potret sosok Dea Valencia, Founder Batik Kultur. Sumber foto: Instagram @deavalencia
ADVERTISEMENT
JAKARTA - Dea Valencia merupakan pengusaha muda inspiratif sekaligus pemilik dari brand baju batik, yaitu Batik Kultur. Pemilihan nama Batik Kultur ini terinspirasi dari kultur Indonesia sendiri, yaitu batik.
ADVERTISEMENT
Sejak kecil rupanya Dea sudah membantu Ibunya untuk berjualan batik lawas. Dari sana lah awal mula Dea mempelajari bagaimana cara memproduksi batik dan cara memasarkannya.
“Semua ini aku mulai dari membantu Mama menjual koleksi batik yang kebanyakan adalah batik lawas. Saat itu dalam bentuk kain, sambil berjualan juga sambil mempelajari,” ujar Dea Valencia saat Grand Opening Batik Kultur.
Bisnis batiknya ini bermula ketika Dea, yang suka mengoleksi baju antik, ingin memiliki batik seperti yang Ia mau. Namun, karena keterbatasan biaya, akhirnya Dea mencoba untuk memodifikasi batik lawas milik Ibunya. Keluarganya pun memberikan respon yang positif. Maka dari itu, Dea mulai berani untuk membuka bisnis batik.
Dea sudah memulai usaha batiknya ini sejak Ia masih kuliah semester tiga. Awalnya Ia hanya berjualan melalui Facebook dan hanya menjual sekitar 20 potong batik. Namun, sekarang Dea sudah berhasil menjual ratusan batik per harinya.
ADVERTISEMENT
Perjalanan Dea membangun Batik Kultur juga tidak mulus begitu saja. Ia sempat mengalami masalah dalam hak paten nama brand. Pada awalnya Dea ingin menggunakan nama Batik Sinok, tapi ternyata nama tersebut sudah didaftarkan oleh orang lain. Akhirnya digunakanlah nama Batik Kultur.
Dalam memproduksi batik, Dea dibantu oleh 120 karyawannya. Menariknya, 50% dari karyawannya ini merupakan penyandang disabilitas seperti tuna rungu, tuna wicara, dan tuna daksa. Dea merasa bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja, sehingga ia memutuskan untuk merekrut penyandang disabilitas.