Konten dari Pengguna

ASEAN di Era Perang Digital: Saatnya Jaga Perbatasan Dunia Maya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aysya Rachsyanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

source: https://www.freepik.com/free-photo/macro-shot-old-vintage-globe_2524233.htm#from_element=cross_selling__photo
zoom-in-whitePerbesar
source: https://www.freepik.com/free-photo/macro-shot-old-vintage-globe_2524233.htm#from_element=cross_selling__photo

Kata Kunci: keamanan siber ASEAN, ASEAN cybersecurity, perang siber, kedaulatan digital, Asia Tenggara, keamanan regional, transformasi digital, ancaman siber

Di Era Digital, Keamanan ASEAN Diuji di Dunia Maya

Hingga kini, pembahasan-pembahasan terkait keamanan kawasan Asia Tenggara sering dikaitkan dengan isu-isu seperti Laut Cina Selatan atau ancaman militer yang konvensional. Akan tetap di balik jaringan internet yang semakin masif digunakan, kawasan ini dihadapi ancaman-ancaman baru yang tidak kalah serius dan patut untuk dikaji: yaitu keamanan siber (cyber security).

Pada era digital masa kini, serangan tidak semata hanya datang dalam bentuk rudal atau pun serangan dari pesawat tempur saja, melainkan dari virus, peretasaan (hacking), dan pencurian data. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, tercatat bahwa sejumlah negara ASEAN mengalami serangan siber skala besar yang menargetkan lembaha pemerintahan, sektor keuangan, sampai bahkan infrastruktur-infrastruktur penting.

Menurut dokumen resmi, ASEAN meluncurkan “ASEAN Cybersecurity Cooperation Strategy 2021–2025” pada 28 Januari 2022 yang menetapkan lima pilar utama kerja sama siber: kesiapan digital, koordinasi kebijakan regional, kepercayaan siber, pengembangan kapasitas, dan kerja sama internasional. Pilar ini dimaksudkan agar ASEAN tak hanya mengejar transformasi digital, tetapi juga bisa melindungi dunia maya kawasannya.

Meski strategi sudah ada, tantangannya tidak kalah besar. Dilansir dari CSIS bahwa beberapa negara anggota ASEAN, seperti Myanmar, Kamboja, dan Laos, memiliki kapasitas siber yang relatif rendah dibandingkan negara seperti Singapura dan Malaysia. Akibatnya, kesenjangan antar negara dalam kesiapan menghadapi serangan siber terasa nyata.

Dampak nyata serangan siber juga sudah terlihat di sektor keuangan. Misalnya, dilaporkan pada global pt security bahwa pada tahun 2023 serangan siber terhadap lembaga keuangan di Vietnam menyebabkan gangguan operasional dan bocornya data nasabah senilai sekitar US$420.000.

Di laut lepas pun ancaman siber hadir. Dilansir The Diplomat, terdapat kampanye phishing terhadap perusahaan energi lepas pantai di Laut Cina Selatan yang menyasar email dan menyisipkan malware dari Maret 2021 hingga Juni 2022, yang diyakini melibatkan kelompok mata-mata dari China. Serangan ini mengingatkan bahwa ruang maya kini juga menjadi wilayah kompetisi geopolitik.

ASEAN sejatinya telah mengambil langkah untuk menjembatani tantangan ini. Misalnya, strategi siber kawasan juga mencakup rencana pembentukan ASEAN Regional CERT (Computer Emergency Response Team) yang akan memfasilitasi koordinasi antar CERT nasional anggota ASEAN. Namun sampai sekarang pembentukan ASEAN CERT itu belum sepenuhnya terealisasi.

Tantangan besar lainnya adalah normatif dan operasional: meskipun ASEAN telah menerjemahkan norma-norma perilaku negara di ruang siber ke dalam “cyber norms checklist”, proses implementasi dan adopsinya masih lamban karena perbedaan tingkat transparansi dan kapasitas antar negara anggota.

Dengan realitas itu, ASEAN perlu memperkuat beberapa langkah-langkah kolektif untuk menghadapi ancaman di dunia maya. Akselerasi pembentukan ASEAN CERT (Computer Emergency Response Team) menjadi langkah mendesak agar negara-negara anggota dapat merespons bersama ketika terjadi insiden lintas batas. Selain itu, ASEAN perlu menstandarkan regulasi keamanan data dan protokol penanganan korban serangan siber, supaya negara dengan kapasitas rendah tidak tertinggal. Pelatihan serta transfer teknologi juga penting dilakukan bagi anggota yang masih lemah dalam kapasitas digitalnya.

Di saat yang sama, kerja sama lintas sektor antara pemerintah, swasta, dan masyarakat juga harus diperkuat agar momentum transformasi digital tidak diiringi kerentanan yang meluas. Di masa depan, “perang” tak selalu dimulai dengan tembakan, tetapi bisa dengan satu klik di ujung jari. Jika ASEAN gagal menjawab tantangan digital secara bersama, kawasan ini berisiko menjadi pion dalam konflik maya yang semakin sulit ditelusuri. Karena itu, sudah saatnya ASEAN menjaga perbatasan dunia mayanya cyberspace friendly, bukan hanya laut dan udara.

Tentang Penulis: Aysya Rachsyanda seorang mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya.

Referensi

ASEAN Secretariat. ASEAN Cybersecurity Cooperation Strategy 2021–2025. ASEAN, 2022.

CSIS. “ASEAN’s Cyber Initiatives: A Select List.” CSIS Strategic Technologies Blog.

Global ERIA. Strengthening ASEAN’s Cybersecurity: Collaborative Strategies for ASEAN.

The Diplomat. “Phishing in the South China Sea.” April 2023.

Kaspersky. “Cyber Threats Growing in Malaysia.” 2024.

AsiaPacific / Asia Connects. “Cybercriminals Step Up Attacks on ASEAN Businesses.” 2025.

CSIS. Significant Cyber Events List.