Efektivitas Intervensi Dzikir dan Mindfulness terhadap Penurunan Anxiety

Mahasiswi UIN Jakarta Fakultas Ushuluddin Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ayu Amelia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Notifikasi tak berhenti, tenggat menumpuk, dan kabar buruk lewat di layar setiap menit. Tidak heran kalau banyak orang, terutama anak muda, akrab dengan dada berdebar, pikiran yang berputar tanpa henti, dan sulit tidur. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai anxiety atau kecemasan.
Di tengah tingginya kebutuhan akan cara mengelola kecemasan, dua pendekatan sering dibicarakan: dzikir dari tradisi Islam dan mindfulness dari tradisi psikologi kontemporer. Keduanya sama-sama mengajak orang untuk melambat dan hadir di saat ini. Pertanyaannya, seberapa efektif keduanya menurunkan kecemasan?
Kecemasan: Wajar, Tapi Bisa Melumpuhkan
Cemas sebenarnya respons alami tubuh terhadap ancaman. Masalah muncul ketika kecemasan berlebihan, berlangsung lama, dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Pada titik itu, pikiran terus memproyeksikan skenario terburuk, sementara tubuh tetap dalam mode siaga: napas pendek, otot tegang, dan tidur terganggu.
Karena itu, intervensi yang efektif biasanya bekerja di dua lini sekaligus: menenangkan tubuh dan mengubah cara seseorang berhubungan dengan pikirannya.
Dzikir dan Mindfulness: Dua Tradisi, Satu Irisan
Dzikir adalah mengingat Allah melalui pengulangan lafaz tertentu seperti tasbih, tahmid, tahlil, atau istighfar, dengan lisan maupun hati. Al-Qur'an menyebut bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (QS. Ar-Ra'd: 28). Dalam praktiknya, dzikir yang dilakukan pelan dan penuh kesadaran cenderung menyelaraskan napas dan menenangkan pikiran.
Mindfulness adalah kesadaran penuh terhadap pengalaman saat ini tanpa menghakimi. Program yang paling dikenal, Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR), dikembangkan Jon Kabat-Zinn pada akhir 1970-an dan kini dipakai luas dalam layanan kesehatan.
Irisannya cukup jelas. Keduanya melatih perhatian pada satu titik fokus, biasanya napas atau lafaz, dan setiap kali pikiran mengembara, perhatian dikembalikan dengan lembut. Perbedaannya ada pada orientasi: dzikir berporos pada hubungan dengan Tuhan, sedangkan mindfulness pada umumnya bersifat sekuler dan berfokus pada kesadaran itu sendiri.
Apa Kata Penelitian?
Bukti untuk mindfulness relatif lebih kuat. Sejumlah tinjauan sistematis dan meta-analisis melaporkan bahwa intervensi berbasis mindfulness membantu menurunkan gejala kecemasan, meskipun besar efeknya bervariasi antarstudi dan populasi.
Untuk dzikir, sejumlah penelitian, banyak di antaranya di Indonesia dan negara Muslim lain, melaporkan penurunan tingkat kecemasan pada kelompok yang menjalani intervensi dzikir, misalnya pada pasien menjelang operasi, mahasiswa, atau ibu hamil. Ada pula temuan bahwa pengulangan kata atau frasa yang bermakna dapat memicu respons relaksasi pada tubuh.
Namun, gambaran ini perlu dibaca dengan hati-hati. Banyak studi dzikir memakai sampel kecil, desain kuasi-eksperimen, dan durasi intervensi yang tidak seragam. Studi yang membandingkan dzikir dan mindfulness secara langsung juga masih terbatas. Jadi, kesimpulan yang jujur adalah bahwa hasilnya menjanjikan, tetapi belum cukup untuk menyatakan salah satunya pasti lebih unggul.
Mengapa Keduanya Bisa Bekerja?
Regulasi napas: ritme napas yang melambat membantu menurunkan ketegangan tubuh.
Pengalihan dari ruminasi: fokus pada lafaz atau napas memutus lingkaran pikiran cemas yang berulang.
Penerimaan: mengamati pikiran tanpa langsung bereaksi membuat kecemasan tidak membesar.
Makna dan dukungan spiritual: bagi orang beriman, dzikir memberi rasa dijaga dan dekat dengan Tuhan, yang berperan sebagai sumber ketenangan tersendiri.
Cara Waras Mempraktikkannya
Agar manfaatnya terasa dan tidak sekadar rutinitas, beberapa langkah berikut bisa dicoba.
Mulai dari napas. Duduk nyaman, tarik napas pelan, lalu hembuskan lebih panjang. Lakukan beberapa menit sebelum memulai dzikir.
Padukan dzikir dengan kesadaran. Ucapkan lafaz pelan-pelan sambil memahami maknanya, bukan sekadar menghitung jumlah.
Kembalikan fokus tanpa menyalahkan diri. Saat pikiran melayang, sadari, lalu kembali ke napas atau lafaz.
Konsisten, bukan lama. Lima sampai sepuluh menit setiap hari umumnya lebih realistis daripada sesi panjang yang jarang.
Kenali batasnya. Jika kecemasan mengganggu tidur, pekerjaan, atau relasi secara terus-menerus, konsultasikan dengan psikolog atau psikiater.
Pelengkap, Bukan Pengganti
Dzikir dan mindfulness layak dipandang sebagai keterampilan yang dapat dilatih untuk membantu mengelola kecemasan. Keduanya tidak perlu dipertentangkan: seorang Muslim dapat memanfaatkan teknik kesadaran napas dan perhatian penuh sebagai jembatan menuju dzikir yang lebih khusyuk.
Yang penting diingat, keduanya adalah pelengkap, bukan pengganti penanganan profesional pada kecemasan yang berat. Ketika ikhtiar spiritual dan ikhtiar medis berjalan bersama, peluang untuk pulih justru lebih besar.
