Konten dari Pengguna

Ketika Medsos Berbisik, Kita Memilih Diam

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ayu Daisy Apriliani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi di atas menggambarkan fenomena yang kerap kita alami tanpa sadar: memilih diam di tengah hiruk-pikuk media sosial. Spiral of Silence mengajarkan bahwa ketakutan akan isolasi nyatanya lebih kuat daripada keberanian menyuarakan kebenaran.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi di atas menggambarkan fenomena yang kerap kita alami tanpa sadar: memilih diam di tengah hiruk-pikuk media sosial. Spiral of Silence mengajarkan bahwa ketakutan akan isolasi nyatanya lebih kuat daripada keberanian menyuarakan kebenaran.

Beberapa waktu lalu, saya masuk ke sebuah grup diskusi di salah satu aplikasi pesan instan. Topik yang sedang hangat terkait kebijakan baru pemerintah menjadi pembahasan utama. Dari 200 anggota grup, mungkin hanya lima atau enam orang yang aktif berdebat. Sisanya? Diam. Termasuk saya.

Bukan karena tidak punya pendapat. Justru sebaliknya. Saya punya banyak hal yang ingin saya katakan. Tapi setiap kali jari saya hampir mengetik, saya berpikir ulang. Bagaimana kalau pendapat saya berbeda dengan yang lain? Nanti saya dicap apa? Akhirnya saya memilih aman: like saja postingan yang sejalan dengan arus utama, lalu lanjut scroll.

Pengalaman ini mungkin terasa akrab bagi banyak dari kita.

Teori yang Tak Pernah Usang

Ada sebuah teori komunikasi massa yang cukup tua—dikemukakan oleh Elisabeth Noelle-Neumann pada 1970-an—tetapi sampai sekarang masih terasa relevan. Namanya Spiral of Silence atau teori spiral keheningan.

Sederhananya, teori ini mengatakan bahwa orang cenderung diam ketika mereka merasa pendapatnya berbeda dengan mayoritas. Kenapa? Karena takut dikucilkan. Takut dihujat. Takut dianggap out of the loop. Di era media sosial yang serba terhubung ini, ketakutan itu justru makin terasa.

Coba perhatikan linimasa media sosial Anda. Pernah melihat orang yang berani menyuarakan pendapat yang benar-benar berbeda dari narasi yang sedang viral? Saya yakin jumlahnya tidak banyak. Dan kalau pun ada, seringkali mereka langsung diserbu komentar negatif, bully-an, bahkan ancaman.

Mayoritas yang Menakutkan

Yang menarik, di dunia digital, kita tidak bisa benar-benar tahu apa yang orang lain pikirkan. Yang kita lihat hanyalah apa yang mereka tampilkan. Noelle-Neumann menyebut ini sebagai pluralistic ignorance—kondisi di mana apa yang kita perkirakan sebagai pendapat mayoritas ternyata keliru.

Bayangkan: di sebuah grup WA dengan 200 anggota, lima orang berdebat sengit di satu sisi, satu orang mencoba melawan di sisi lain, dan 194 orang sisanya diam. Kita yang diam lalu berpikir, "Wah, kayaknya mayoritas di sini setuju dengan si A. Lebih baik aku ikut diam saja."

Padahal, bisa jadi 194 orang yang diam itu sebenarnya tidak setuju dengan si A. Tapi karena mereka diam, kita tidak pernah tahu. Dan karena kita tidak tahu, kita ikut diam. Lingkaran setan yang terus berulang.

Media Sosial Memperparah

Di era televisi dan radio dulu, spiral keheningan terjadi karena media massa hanya menampilkan satu sisi cerita. Sekarang, algoritma media sosial malah membuatnya lebih rumit.

Algoritma dirancang untuk menampilkan konten yang sesuai dengan preferensi kita. Akibatnya? Kita hanya melihat satu jenis pendapat berulang-ulang—seolah-olah itulah satu-satunya pendapat yang ada. Ini yang disebut echo chamber atau ruang gema. Kita merasa semua orang setuju dengan satu hal, padahal sebenarnya tidak.

Dan saat kita melihat konten yang berbeda? Biasanya konten itu datang dengan kemasan yang provokatif, membuat kita semakin enggan untuk terlibat. Lebih mudah menghindar daripada berdebat.

Harga yang Harus Kita Bayar

Masalahnya, ketika terlalu banyak orang memilih diam, kita kehilangan sesuatu yang berharga: keberagaman sudut pandang. Diskusi publik menjadi datar, hanya diisi oleh suara-suara yang sudah dominan. Pendapat-pendapat alternatif—yang mungkin justru lebih logis atau lebih adil—tenggelam sebelum sempat terdengar.

Kita jadi hidup di dalam gelembung. Mengira dunia ini sesederhana yang terlihat di layar ponsel. Padahal nyata-nya jauh lebih kompleks.

Pulihkan Keberanian

Tentu, tidak mudah melawan arus. Saya sendiri masih sering memilih diam. Tapi mungkin kita bisa mulai dari hal-hal kecil. Ketika melihat seseorang menyuarakan pendapat berbeda dengan sopan, kita bisa beri dukungan. Ketika kita sendiri punya pandangan alternatif, kita bisa sampaikan dengan cara yang tidak menghakimi.

Karena pada akhirnya, ruang publik yang sehat bukanlah ruang di mana semua orang setuju. Tapi ruang di mana perbedaan bisa diungkapkan tanpa rasa takut.

Jadi, lain kali ketika jari Anda hampir mengetik sesuatu yang berbeda, tapi urung karena takut—ingatlah bahwa Anda mungkin tidak sendiri. Ada banyak orang diam di luar sana yang mungkin menunggu seseorang untuk memulai.

Kenapa tidak memulainya dari Anda?