Pengaruh Pandemi Covid—19 terhadap Pendidikan di Indonesia

Mahasiswi semester 6 di ITB Ahmad Dahlan
Tulisan dari Ayu Nadya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak terasa hampir 2 tahun Pandemi Covid—19 melanda Indonesia, tidak hanya dirasakan di Indonesia saja tetapi di seluruh dunia juga. Berbagai kebijakan dilakukan pemerintah guna mencegah laju pertumbuhan kasus Covid—19 yang bisa disebut dengan protokol kesehatan. Salah satunya larangan untuk berkerumunan disatu tempat, memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan, mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer, dan menjaga jarak sosial (physical distancing/sosial distancing).
Menurut saya, covid—19 yang semula dianggap virus biasa oleh sebagian kalangan hingga tidak mematuhi kebijakan yang dianjurkan oleh pemerintah. Namun, perkiraan mereka salah virus ini dapat membunuh manusia sekaligus menyebar sangat cepat. Gejala yang muncul dapat menyerupai flu, masuk angin, batuk, dan demam. Hingga tanpa kita sadari hanya dalam waktu singkat virus ini sudah menyebar diberbagai tempat di Indonesia. Akibat angka kasus Covid—19 semakin meningkat pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan, yaitu dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar ('PSBB') atau lockdown dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat ('PPKM').
Dengan adanya kebijakan tersebut pemerintah melakukan pembatasan mulai dari tutupnya tempat yang diprediksi dapat menimbulkan kerumunan seperti, mall, tempat hiburan, perusahaan, dan juga sekolah. Hal ini membuat banyak perubahan terutama dalam dunia pendidikan. Contohnya mulai dari Kegiatan Belajar dan Mengajar ('KBM') yang biasanya dilakukan dengan tatap muka di dalam kelas, namun sejak pendemi berlangsung berubah menjadi belajar secara online/daring yang mengharuskan kita untuk menggunakan media online seperti whatsapp, instagram, google meet, aplikasi zoom ataupun media lainnya sebagai media pembelajaran jarak jauh tanpa bertemu langsung.
Lalu bagaimana dengan anak-anak kecil dalam perubahan ini? Orang tua yang memiliki anak yang masih bersekolah dari PAUD dan SD kebanyakan dari mereka mengeluh karena anaknya tidak semangat untuk belajar. Contoh dengan perubahan ini mengharuskan Kegiatan Belajar dan Mengajar ('KBM') secara daring menggunakan smartphone, laptop atau tablet namun sebagian anak menggunakannya untuk bermain game, menonton youtube atau film.
Saya sendiri sebagai pelajar juga terkejut dengan adanya perubahan proses pembelajaran yang diakibatkan Covid—19 ini, mulai dari siswa dituntut untuk bisa menghadirkan proses pembelajaran yang aktif dan efektif walaupun harus dilaksanakan dari rumah masing-masing. Namun, akhirnya saya menjadi tertarik dengan pembelajaran daring ini karena dapat menambah pengetahuan mengenai teknologi, yang awalnya tidak pernah tahu menahu cara menggunakan media tersebut hingga akhirnya saya tahu.
Masalah-masalah yang timbul akibat pembelajaran daring
Masalah yang sering sekali timbul dalam pembelajaran daring ini adalah sinyal. Orang yang tinggal di daerah perkotaan saja kadang sulit untuk terjangkau sinyal, apalagi yang di perdesaan akan sangat sulit bagi mereka. Karena tidak semua guru memaklumi siswanya yang terkendala sinyal untuk tidak mengikuti pembelajaran daring. Masalah lainnya, yaitu tidak semua siswa dan orang tua siswa pandai mengoperasikan media online, tidak semua orang tua siswa mampu membeli kuota internet dan memiliki smartphone karena mungkin sebagian besar dari mereka ada yang kondisi ekonominya pas-pasan. Sehingga masyarakat sudah terbiasa dan harus menerima serta mendukung adanya kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah dalam dunia pendidikan.
Dan seiring dengan berjalannya waktu kasus Covid—19 sedikit mereda pemerintah memperbolehkan sebagian sekolah dan universitas melakukan pembelajaran tatap muka, dengan uji coba membagi sebagian pelajarnya 50% tatap muka minggu pertama dan 50% lagi minggu kedua, hal ini dilakukan supaya pembelajaran bisa dilakukan seperti sebelum adanya kasus Covid—19 yaitu secara langsung. Pandemi ini juga membawa dampak positif bagi saya sendiri, yaitu bisa makin menguasai teknologi yang sudah ada, lebih memotivasi dan memberikan semangat baru untuk terus mencapai tujuan pendidikan di Indonesia lebih maju dan modern dengan metode dan teknologi yang tersedia.
Dapat disimpulkan bahwa pandemi ini membawa pengaruh besar terhadap dunia pendidikan salah satunya dalam Kegiatan Belajar dan Mengajar ('KBM') yang biasa dilakukan secara tatap muka menjadi online/daring. Saran saya sebagai seorang pelajar kita harus mau meningkatkan kemampuan adaptasi agar bisa tetap belajar di masa krisis ini baik di masa sekarang ataupun yang akan datang.
