Konten dari Pengguna

Erupsi Gunung Api Bersamaan, Benarkah Ada yang Mengorkestrasi?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putu Ayu Nita Marlina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hasil capture aplikasi Simantab — Menampilkan aktivitas visual Gunung Merapi malam hari. Dok. Pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Hasil capture aplikasi Simantab — Menampilkan aktivitas visual Gunung Merapi malam hari. Dok. Pribadi.

Indonesia saat ini sedang dihadapkan pada fenomena bencana alam, salah satunya erupsi enam gunung api Indonesia dengan waktu yang berdekatan. Berbagai opini publik pun bermunculan yang salah satunya mengaitkan fenomena tersebut dengan High-Frequency Active Auroral Research Program (HAARP) dan dugaan bahwa bencana alam sedang “diorkestrasi” oleh kekuatan tertentu.

Jika dibaca sekilas, dugaan tersebut terdengar menarik utamanya bagi pencinta teori konspirasi. Di negara lain, bencana juga terjadi sesaat setelah adanya ketegangan politik antar negara. Di situasi tersebut pertanyaan yang muncul bukan hanya mengapa hal tersebut terjadi namun apakah semua kejadian tersebut benar-benar saling berkaitan?

"belum tentu"

Pada 31 Agustus 2026, tercatat enam gunung api di beberapa titik yakni Gunung Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Ili Lewotolok, Anak Krakatau, dan Sinabung memang mengalami erupsi. Namun dalam konferensi persnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan keenam aktivitas tersebut merupakan dinamika vulkanik yang independen dan tidak menemukan bukti bahwa adanya satu proses geologi yang memicu aktivitas vulkanik ini terjadi secara bersamaan.

Hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang mengagetkan jika kita melihat posisi geografis Indonesia. Indonesia berada di kawasan Ring of Fire dan tercatat memiliki 127 gunung api aktif. Dengan kondisi geologi tersebut, akan sangat mungkin beberapa gunung api mengalami aktivitas vulkanik yang secara bersamaan dan tentunya bukan sesuatu yang secara otomatis menunjukkan adanya satu aktor atau mekanisme yang tersembunyi di baliknya.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana dengan keberadaan HAARP?

HAARP memang ada. Tetapi keberadaan HAARP tidak serta merta menunjukkan bahwa teknologi tersebut memiliki kemampuan mengendalikan bencana. Ringkasnya, HAARP merupakan program ilmiah yang mengeksplorasi fenomena ionosfer yang dilakukan oleh University of Alaska dengan pemancar radio frekuensi tinggi.

Kemudian apakah HAARP memiliki kemampuan untuk memicu gempa atau erupsi gunung api?

Pertanyaan mengenai kemampuan HAARP untuk memicu bencana alam sebenarnya bukanlah hal baru. Klaim serupa pernah muncul dalam kaitannya dengan gempa bumi di Turki. Klaim tersebut telah dibantah oleh Dezenformasyonla Mücadele Merkezi (DMM) di bawah Cumhurbaşkanlığı İletişim Başkanlığı (Lembaga Direktorat Komunikasi Kepresidenan Turki) yang menyatakan klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah. Hal ini dikuatkan oleh United States Geological Survey (USGS) yang menyebutkan bahwa tidak terdapat mekanisme yang masuk akal untuk memicu gempa melalui perangkat seperti HAARP. Jika dilihat secara geografis, wilayah Turki berada dekat dengan pertemuan tiga lempeng yaitu lempeng Anatolia, Arab dan Afrika yang sangat mungkin menghasilkan tekanan dan dilepaskan melalui patahan aktif sehingga memicu terjadinya gempa seperti gempa besar di Kahramanmaraş pada 6 Februari 2023.

Bagaimana dengan Gempa yang Terjadi Setelah Ketegangan Politik?

Argumen kemudian muncul ketika negara yang sedang berselisih dengan Amerika lalu beberapa waktu kemudian terjadi gempa di wilayah tersebut. Namun perlu dipahami, makna setelah hal tersebut terjadi sangat berbeda dengan karena itu terjadi. Jika benar terdapat ketegangan politik antara Turki dan Amerika pada periode tersebut, fakta politik itu tidak bisa menjadi bukti kuat bahwa konflik tersebut menyebabkan gempa. Kita perlu membedakan antara fakta politik dengan mekanisme geologi. Jika pertanyaannya apakah gempa tersebut ada yang mengorkestrasi dan kenapa jaraknya berdekatan? Kita juga perlu memberikan pertanyaan konfirmasi setelahnya. Jika benar, bagaimana mekanismenya? Apa buktinya dan apakah pola tersebut konsisten jika diuji dengan data yang lebih luas? Tanpa jawaban tersebut, hal tersebut tidak dapat dikatakan menjadi kesimpulan ilmiah.

Lalu apa yang lebih penting?

Perdebatan tentang siapa aktor yang “mengorkestrasi” bencana justru jangan sampai membuat kita melupakan fakta yang jauh lebih dekat dan urgent terjadi di kehidupan masyarakat yaitu mitigasi bencana.

Kita tidak bisa menghentikan lempeng bumi yang bergerak, menghentikan gunung api yang sedang erupsi ataupun berbagai fenomena alam lainnya. Karena hal tersebut merupakan bagian dari bagaimana proses alam sedang bekerja. Bencana bisa disebut bencana ketika fenomena alam tersebut berhadapan dengan kondisi yang menimbulkan risiko di dalamnya. Oleh karena itu yang dapat kita lakukan hanyalah mengurangi risikonya.

Banyak yang dapat dilakukan seperti memperkuat pemantauan gunung api, menerapkan sistem peringatan dini, menerapkan kebijakan tata ruang berbasis risiko, menetapkan standar bangunan yang sesuai dengan kondisi wilayah tersebut, jalur evakuasi jika terjadi bencana serta penguatan literasi kebencanaan pada hal hal yang masih berada pada koridor manusia.

Karena itu, ketika fenomena alam terlihat tidak biasa, kita mungkin bisa bertanya banyak hal tentang itu. Namun sebelum menunjuk siapa aktor dibalik fenomena tersebut, mungkin terdapat pertanyaan lebih penting yaitu

“Seberapa siap kita ketika bencana terjadi?”.

Source :

DMM. (n.d.). Marmara Depremleri hakkında açıklamalar. T.C. Cumhurbaşkanlığı İletişim Başkanlığı. Retrieved September 20, 2026, from https://www.iletisim.gov.tr/turkce/haberler/detay/marmara-depremleri-hakkinda-aciklamalar?

KumparanNews. (2026). 3 Gunung di Indonesia Erupsi Hampir Bersamaan, Ini Penjelasan PVMBG. Kumparan. https://kumparan.com/kumparannews/3-gunung-di-indonesia-erupsi-hampir-bersamaan-ini-penjelasan-pvmbg-2810GLSTNq7?

Permadi, A., & Ihsanuddin. (2026). 6 Gunung Erupsi Bersamaan pada 31 Agustus, PVMBG Pastikan Tak Saling Memicu. Kompas.Com. https://regional.kompas.com/read/2026/09/02/162008778/6-gunung-erupsi-bersamaan-pada-31-agustus-pvmbg-pastikan-tak-saling-memicu?page=all

UAF. (n.d.). HAARP (High-frequency Active Auroral Research Program). University of Alaska Fairbanks. Retrieved September 20, 2026, from https://haarp.gi.alaska.edu/

USGS. (n.d.). Frequently Asked Questions about the 2023 Earthquakes in Türkiye. U.S. Geological Survey (USGS). Retrieved September 20, 2026, from https://www.usgs.gov/programs/earthquake-hazards/science/frequently-asked-questions-about-2023-earthquakes-turkiye#overview