Konten dari Pengguna

Asa Menjadi Guru Profesional di Tengah Keterbatasan

Ayu Novita Pramesti

Ayu Novita Pramesti

Aparatur Sipil Negara yang melayani guru, tenaga kependidikan, dan pemangku kepentingan di bidang pendidikan di Direktorat Jenderal GTK, Kemendikbud

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ayu Novita Pramesti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mbak Ayu, mau pergi monitoring UKPPPG* ke mana?" tanya ketua tim saya. Mendengar pertanyaan itu, saya kemudian berpikir. Apakah saya harus pergi ke Papua lagi?

"Ke Manokwari aja, Mbak! Sekolah tempat ujiannya cuma 10 menit dari bandara," kata teman satu tim saya memberikan usulan.

Manokwari ada di Papua Barat. Ya, saya memang belum pernah ke sana. Namun saya sudah punya pengalaman pergi ke Keerom, Papua di tahun 2018. "Bismillah, oke kalo begitu berangkat ke Manokwari saja!" ujar saya tanpa ragu lagi.

Perjalanan dinas menuju Papua ada saja dinamikanya. Waktu mau bertugas ke Keerom, saya harus mencari rekan seperjalanan agar diizinkan pergi oleh Ibu saya. Saat akan bertugas ke Manokwari, saya harus menunggu kepastian keberangkatan teman seperjalanan. Saya sampai harus bertanya beberapa kali kepadanya. Menjelang H-3 keberangkatan, baru ada kepastian. Tiket pesawa PP dan kamar hotel langsung kami pesan. Koordinasi dengan tim di Manokwari juga langsung dilakukan. Saya memulai koordinasi dengan staf BGTK** Papua Barat dan fasilitator SM3T*** di Manokwari.

Perjalanan dinas kali ini juga cukup menantang. Kami hanya diberikan waktu tiga hari. Satu hari untuk berangkat, satu hari untuk monitoring ujian, dan satu hari untuk pulang. Idealnya, waktu berada di Papua mulai dari berangkat hingga pulang minimal empat hari, mengingat waktu perjalanan yang panjang. Bisa lima jam dengan penerbangan langsung. Atau tujuh jam dengan penerbangan transit.

Perjalanan ke Manokwari tepat tiga hari setelah Hari Guru Nasional (HGN) ini terasa istimewa bagi saya. Ketika lepas landas dari Jakarta pada Jumat 28 November 2025 pukul 00.30 WIB, usia saya baru bertambah satu tahun. Saya menganggap perjalanan ini adalah hadiah ulang tahun untuk saya. Selain itu, UKPPPG yang akan kami monitoring harapannya bisa menjadi hadiah istimewa pada HGN 2025 ini untuk guru-guru di daerah khusus yang ada di Manokwari dan sekitarnya.

Menjelang jam 9.00 WIT, kami sampai dengan selamat di Manokwari. Manokwari disebut juga Kota Injil, karena Injil masuk ke Papua pertama kali di kota ini. Saya sempat bertanya pada Pak Jamal, guru sekaligus fasilitator SM3T yang menjemput kami mengenai hari libur yang hanya ada di Manokwari. “Ya, itu betul Bu Ayu. Ada libur fakultatif di bulan Februari untuk memperingati Hari Pekabaran Injil,” kata Pak Guru yang sudah lebih dari lima tahun mengajar dan menetap di Manokwari ini.

Sebelum jam 10.00 WIT, kami tiba di lokasi UKPPPG di SMAN 2 Manokwari. Sekolah yang terletak di Jalan Pertanian, Manokwari Barat ini memiliki halaman yang cukup luas serta fasilitas yang memadai. Sekolah ini dipilih sebagai tempat UKPPPG karena memiliki lab komputer serta telah berpengalaman menyelenggarakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) serta tes kepegawaian berbasis komputer.

Setelah sampai di sekolah, kami langsung disambut oleh penanggung jawab lokasi ujian beserta pengawas. Kami memastikan ruangan beserta perangkat komputer yang ada di dalamnya bisa digunakan untuk ujian yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 29 November 2025. Kami juga berkoordinasi dengan Pak Saul, staf dari Dinas Pendidikan Kabupaten Manokwari, untuk memastikan seluruh peserta ujian bisa hadir sesuai jadwal ujian. Saat berkoordinasi, beliau menyampaikan kepada kami bahwa Ibu Kadisdik Kabupaten Manokwari akan hadir untuk membuka pelaksanaan ujian.

Koordinasi Awal dengan Tim Pendamping Ujian (Dokumentasi staf Disdik Kab. Manokwari)

Pada hari Sabtu, kami tiba di lokasi ujian menjelang pukul 08.00 WIT. Di depan lab komputer, guru-guru yang menjadi peserta ujian sudah berbaris rapi untuk dicek kehadirannya oleh Pak Saul. Selain itu, peserta juga mendapatkan kartu yang berisi user name untuk masuk ke aplikasi ujian.

Peserta siap memasuki ruang ujian (Dokumentasi staf Disdik Kab. Manokwari)

“Bu, silakan kalau ada arahan yang ingin diberikan kepada Bapak Ibu Guru,” kata Pak Saul kepada saya.“ “Tidak perlu, Pak”, ujar saya singkat. Saya percaya bahwa beliau sudah berusaha mengondisikan peserta ujian serta memastikan bahwa semua yang hadir adalah benar-benar peserta ujian. Arahan untuk peserta ujian cukup berasal dari Ibu Kadisdik saja.

Menjelang pukul 8.30 WIT, Ibu Kadisdik Manokwari hadir di lokasi ujian. Karena akan langsung menghadiri peringatan HGN di tempat lain, beliau langsung memberikan arahan kepada peserta ujian. Dalam arahan yang sangat singkat, beliau menyampaikan bahwa keterbatasan justru menjadi pemantik bagi para peserta ujian untuk menjadi guru profesional, dan setelah menjadi guru profesional agar kembali bertugas di tempatnya masing-masing. Setelah Bu Kadis memberikan arahan, ujian segera dimulai.

Menyambut Ibu Kadisdik Kabupaten Manokwari (paling kiri) - Dokumentasi staf Disdik Kab. Manokwari

Kami berkeliling untuk memastikan setiap peserta ujian bisa masuk ke aplikasi untuk mengerjakan soal. Masih ditemukan beberapa peserta yang kebingungan untuk mengetikkan user name yang tertera di kartu yang tadi sudah dibagikan.

“Maaf Pak, ini mohon digeser mousenya,” ujar saya pada salah satu Pak Guru yang masih kebingungan untuk mengetikkan user name. Saya kemudian tersenyum karena Pak Guru malah menggeser badannya. Saya tetap berusaha membantu beliau agar bisa segera login untuk mengerjakan soal ujian.

Saya menceritakan hal yang saya alami tadi kepada Pak Ahmad, staf Balai GTK Papua Barat yang sama-sama mendampingi pelaksanaan ujian. “Iya, di sini memang seperti itu, Bu…” ujar beliau singkat. Mendengar hal itu, saya menerima kenyataan bahwa tidak semua guru di daerah khusus sudah terbiasa menggunakan komputer.

Peserta bersiap mengerjakan soal uji tertulis berbasis komputer (Dokumentasi staf Disdik Kab. Manokwari)

Setelah selesai mengerjakan soal uji tertulis berbasis komputer, kami membantu peserta ujian untuk mengunggah video praktik pembelajaran dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ke aplikasi ujian. Ada guru yang sudah siap membawa video dan RPPnya di laptop atau USB. Namun, ada juga guru yang masih menyimpan video dan RPPnya di handphone karena tidak mempunyai laptop. Bahkan, ada guru yang video pembelajarannya masih berada di rekannya yang membantu pengambilan video di ruang kelas.

Saya sendiri berusaha membantu Bu Maria untuk mentransfer video yang ada di handphone nya agar bisa diupload di aplikasi ujian melalui komputer yang tersedia di lab. Menjelang pukul 15.00 WIT, saya belum berhasil mentransfer video itu karena kendala teknis, padahal sudah berbagai cara dilakukan. Alhamdulillah, Pak Ahmad akhirnya membantu beliau, setelah selesai membantu peserta lain yang kesulitan mengunggah video dan RPP.

Setelah itu, saya beralih membantu Bu Lidia yang masih kebingungan mencari RPP yang beliau miliki. Bersama dengan guru lain, kami mencoba menelusuri dokumen RPP yang katanya sudah tersimpan di USB. Setelah cukup lama mencari, akhirnya dokumen yang dimaksud ditemukan. Saya kemudian membantu mengunggah dokumen tersebut ke aplikasi ujian. Sebelum saya mengklik tombol submit, saya memeriksa sekilas dokumen itu.

“Bu Guru mengajar SD kan?” tanya saya kepada beliau.

“Iya, saya mengajar SD dan pelajarannya matematika.”

“Bu Guru, ini RPP nya IPA. Ya sudah, kita buat lagi RPPnya sekarang. Bu Guru yang ketik atau saya yang ketik?”

Dengan suara agak pelan, beliau berkata pada saya, “Ibu saja, saya lama kalau mengetik.”

Tanpa berlama-lama, saya membuka video pembelajaran yang dibuat oleh beliau. Kemudian, saya mengajak beliau menonton kembali video itu serta mengingat hal-hal yang beliau lakukan dalam video itu. Untungnya, saya masih menyimpan RPP milik Ibu Guru lain yang dokumennya saya bantu unggah ke aplikasi ujian. Saya bisa mengambil format RPP itu dan cukup mengganti isinya dengan RPP matematika untuk SD.

Untuk menuliskan kompetensi inti dan kompetensi dasar, saya menggunakan bantuan mesin pencari. Kompetensi yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh beliau,saya masukkan ke dalam RPP. Saya berusaha membimbing beliau sesuai kemampuan yang saya miliki sebagai mantan guru mapel.

Walaupun belum sempurna, RPP yang dibuat ‘dadakan’ ini sudah mencakup kegiatan pembuka, inti, dan penutup. Dan yang paling penting, isi RPP sudah sesuai dengan video pembelajarannya. Akhirnya, sekitar pukul 17 WIT, beliau bisa meninggalkan lokasi ujian. Beliau yang ternyata lokasi rumahnya sangat jauh dari Manokwari ini, menjadi peserta yang terakhir meninggalkan tempat ujian.

Walaupun merasa lelah, saya merasa terharu karena bisa membantu pelaksanaan ujian ‘langsung dengan tangan saya sendiri’. Selama ini, saya bersama tim hanya memantau peserta ujian dari jarak yang jauh. Namun, kali ini ada kesempatan yang berharga untuk membantu Bapak dan Ibu Guru secara langsung. Teman satu tim yang juga membantu bahkan sampai ingin diberikan uang oleh seorang Guru sebagai ucapan terima kasih. ”Nanti biar Tuhan saja yang membalas,” ujar teman saya agar tidak menyinggung perasaan beliau.

Pengalaman saya dan teman-teman dalam melayani Bapak dan Ibu Guru peserta ujian di daerah khusus, baik di Manokwari maupun di daerah lain, menjadi pengalaman yang berharga. Kami melihat semangat Bapak dan Ibu Guru yang luar biasa untuk menjadi guru profesional di tengah keterbatasan. Tugas kami masih belum selesai. Masih ada tugas lain yang menunggu, yaitu memastikan kesejahteraan serta mengembangkan kompetensi Bapak dan Ibu Guru, khususnya yang berada di daerah khusus.

Keterangan

*UKPPPG: Uji Kompetensi Peserta Pendidikan Profesi Guru

** BGTK : Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (unit pelaksana teknis Kemendikdasmen)

***SM3T : Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal