Konten dari Pengguna

Perselingkuhan dan Trauma Emosional: Bagaimana Korban Bertahan dan Pulih?

Ayu Purnama Lestari

Ayu Purnama Lestari

Mahasiswi Universitas Pamulang - Sistem Informasi

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ayu Purnama Lestari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perselingkuhan adalah salah satu bentuk pengkhianatan paling menyakitkan dalam sebuah hubungan. Dari sudut pandang psikologi, dampaknya terhadap korban sangat mendalam dan jauh melampaui luka emosional biasa. Seperti yang dijelaskan Dr. Shirley Glass dalam Not “Just Friends”, perselingkuhan bukan sekadar tindakan fisik, tetapi pelanggaran kepercayaan dan ikatan emosional.

Di Indonesia, perselingkuhan masih dianggap tabu, namun kenyataannya cukup umum terjadi sekitar 20–30% pasangan pernah mengalaminya. Korban biasanya menghadapi tekanan mental seperti hilangnya rasa diri, kecemasan berlebihan, serta gangguan tidur. Hal ini berkaitan dengan teori attachment John Bowlby, yang menyebutkan bahwa ketika ikatan emosional rusak, seseorang dapat mengalami trauma mirip kehilangan orang terdekat.

Secara psikologis, korban sering mengalami “betrayal trauma,” dengan gejala depresi, kecemasan, hingga jatuhnya harga diri. Menurut riset American Psychological Association (APA), korban perselingkuhan memiliki risiko tinggi mengalami PTSD, di mana ingatan traumatis memicu reaksi fight-or-flight yang sulit dikendalikan.

sumber : Foto pribadi. | Foto ini hanya ilustrasi semata

Distorsi kognitif seperti menyalahkan diri sendiri juga sering muncul, diperparah oleh stigma sosial yang menganggap korban “kurang layak.” Faktor gender turut memengaruhi reaksi korban; perempuan cenderung terdampak secara emosional, sementara laki-laki lebih fokus pada aspek fisik. Dalam jangka panjang, banyak korban kesulitan membangun kepercayaan pada hubungan berikutnya sering kali membutuhkan terapi seperti CBT untuk memperbaiki pola pikir.

Dari sisi pemulihan, ada kelebihan dan kekurangan berdasarkan strategi coping yang dipilih korban. Kelebihan terlihat ketika korban aktif mencari bantuan, misalnya lewat terapi atau dukungan sosial, yang terbukti meningkatkan ketahanan dan harga diri. Sekitar 70% korban yang mengikuti bantuan profesional melaporkan peningkatan kualitas hidup dalam waktu enam bulan. Dukungan keluarga atau komunitas juga membantu mengurangi rasa terisolasi dan mendorong pertumbuhan pribadi bahkan beberapa korban mengalami post-traumatic growth.

Sebaliknya, kekurangan muncul jika korban memilih menghindar, enggan mencari bantuan, atau terjebak dalam keinginan membalas dendam. Hal ini dapat memperpanjang rasa sakit, memicu depresi berat, hingga meningkatkan risiko bunuh diri 2–3 kali lipat menurut WHO. Lingkungan sosial yang konservatif turut menyebabkan korban merasa malu dan enggan membuka diri, sehingga proses pemulihan menjadi lebih lambat.

Hasil berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemulihan itu mungkin, meski prosesnya berbeda-beda. Menurut Dr. Tammy Nelson dalam The New Monogamy, sekitar 50–60% pasangan yang melalui perselingkuhan mampu memperbaiki hubungan dengan terapi, terutama ketika korban memiliki ketahanan mental kuat. Namun, 30–40% memilih berpisah dan justru merasa lebih mandiri serta bahagia dalam jangka panjang. Di Indonesia, survei Kemenkes menunjukkan bahwa sekitar 25% korban membutuhkan pengobatan untuk mengatasi dampak psikologisnya.

Pembahasannya lebih dalam ungkap faktor kayak lama hubungan, seberapa sering perselingkuhan, dan respons awal korban pengaruh hasil. Misal, korban yang cepat cari dukung punya tingkat depresi lebih rendah. Di Indonesia, survei Kemenkes nunjukin korban perselingkuhan sering alami gangguan mental, dengan 25% butuh obat. Pembahasan ini tekankan pentingnya edukasi psikologi awal buat cegah dampak buruk, plus peran terapis dalam fasilitasi dialog sehat.

sumber : Foto pribadi. | Foto ini hanya ilustrasi semata

Keseluruhan analisis menegaskan bahwa pengkhianatan dapat menimbulkan trauma berat, tetapi juga membuka peluang untuk pertumbuhan diri. Dengan pemahaman psikologi, dukungan sosial, dan intervensi profesional sejak dini, korban memiliki peluang besar untuk bangkit dan menjadi lebih kuat. Jika mengalami situasi ini, mencari bantuan tenaga kesehatan mental adalah langkah terbaik untuk memulai proses pemulihan.