Konten dari Pengguna

Mengapa Kesehatan Mental Sama Pentingnya Dengan Kesehatan Fisik?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurlia Ayu Ashari Ramandey tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana konsultasi antara tenaga medis dengan pasien. Dok. Magnific
zoom-in-whitePerbesar
Suasana konsultasi antara tenaga medis dengan pasien. Dok. Magnific

Selama berabad-abad, masyarakat kita cenderung menempatkan kesehatan fisik di panggung utama. Kita diajarkan untuk rutin berolahraga, menjaga pola makan bergizi, dan segera berobat saat mengalami demam atau luka. Namun, ketika perasaan sedih berlarut-larut, kecemasan yang tak kunjung hilang, atau hilangnya semangat hidup muncul, seringkali dianggap sebagai "perasaan biasa saja", "kurang sabar", atau bahkan "lemah iman". Padahal, kesehatan mental dan kesehatan fisik adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan - keduanya sama pentingnya, saling memengaruhi, dan menentukan kualitas hidup seseorang secara utuh.

Salah satu tanda paling nyata dari keterikatan ini adalah maraknya kasus penyakit psikosomatis. Kita melihat banyak orang yang datang ke dokter dengan keluhan nyeri lambung, jantung berdebar, sakit kepala hebat, atau pegal linu di seluruh tubuh, namun setelah diperiksa dengan alat canggih, tidak ditemukan kelainan fisik yang berarti. Padahal, sumber sakitnya ada pada emosi yang terpendam: stres pekerjaan yang menumpuk, tekanan keluarga, atau rasa cemas yang tak kunjung usai. Tubuh mereka "berteriak" lewat rasa sakit karena pikiran mereka menolak mengakui beban yang sedang dipikul. Fenomena ini membuktikan bahwa luka pada jiwa bisa berubah menjadi luka nyata pada tubuh jika tidak segera diobati.

Keduanya Merupakan Bagian dari Satu Kesatuan Tubuh

Secara biologis, pikiran dan tubuh terhubung melalui sistem saraf, hormon, dan kekebalan tubuh. Saat kita mengalami stres berat atau tekanan emosional yang berkepanjangan, tubuh akan memproduksi hormon kortisol dalam jumlah berlebih. Hal ini dapat menurunkan daya tahan tubuh, meningkatkan risiko penyakit jantung, gangguan pencernaan, gangguan tidur, hingga sakit kepala kronis. Sebaliknya, kondisi fisik yang buruk - seperti penyakit kronis, rasa sakit yang terus-menerus, atau kecacatan dapat memicu kecemasan, depresi, dan hilangnya kepercayaan diri.

"BHYOPSYCHO MODEL" Tubuh dan Pikiran Bersama-sama Menentukan Apakah SSO Sehat atau Sakit

Pentingnya kesehatan mental di layanan mana saja?

Layanan kesehatan mental tidak boleh hanya disediakan di rumah sakit jiwa atau praktik psikolog saja. Wade, D. T., & Halligan, P. W. (2017) Menyatakan bahwa mengacu pada prinsip pendekatan bio-psiko-sosial dan definisi kesehatan WHO, layanan ini harus ada di setiap tempat di mana manusia hidup, belajar, bekerja, dan berobat. Berikut adalah pentingnya keberadaannya di berbagai sektor Di Lingkungan Pendidikan (Sekolah dan Perguruan Tinggi)

Ini adalah tempat paling strategis karena sebagian besar masa pertumbuhan dan perkembangan karakter terjadi di sini. Pentingnya: Membantu mendeteksi gangguan emosi sejak dini, mencegah perundungan, kekerasan, hingga tindakan yang membahayakan diri sendiri. Manfaat Siswa yang memiliki kesehatan mental yang baik akan lebih mudah menyerap pelajaran, beradaptasi, dan membangun hubungan sosial yang sehat. Tanpa layanan ini, potensi kecerdasan anak tidak akan berkembang maksimal meskipun mereka pintar secara akademik. Di Tempat Kerja dan Lingkungan Industri Lingkungan kerja adalah salah satu penyebab utama stres pada orang dewasa. Pentingnya: Membantu mengelola tekanan pekerjaan, mencegah kelelahan kronis (burnout), dan menangani konflik antar rekan kerja.

Manfaat: Karyawan yang sehat secara mental akan lebih produktif, memiliki tingkat kesalahan yang lebih rendah, dan menurunkan risiko kecelakaan kerja. Hal ini juga menjaga stabilitas emosi yang mendukung kesehatan fisik jangka panjang.

Di Fasilitas Kesehatan Umum (Puskesmas, Rumah Sakit Umum)

Kesehatan mental seringkali beriringan dengan penyakit fisik. Pentingnya Memastikan setiap pasien yang berobat untuk penyakit fisik juga diperiksa kondisi emosionalnya. Banyak penyakit fisik seperti nyeri kronis, gangguan pencernaan, atau hipertensi dipengaruhi oleh faktor psikologis. Manfaat Mempercepat proses penyembuhan penyakit fisik dan mencegah kekambuhan. Ini mewujudkan prinsip bahwa tubuh dan pikiran adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam pengobatan. Di Lembaga Penegak Hukum dan Pemasyarakatan Kondisi psikologis memengaruhi perilaku seseorang secara signifikan. Pentingnya Membantu penyidik memahami latar belakang perilaku seseorang, serta memberikan dukungan bagi korban kejahatan dan narapidana. Manfaat Mencegah terjadinya kekambuhan tindak kriminal, membantu pemulihan trauma pada korban, dan memastikan perlakuan yang adil serta manusiawi.

Di Lingkungan Keluarga dan Masyarakat Umum

Keluarga adalah lingkungan pertama tempat seseorang tumbuh. Pentingnya Memberikan pemahaman tentang cara mengasuh anak, menyelesaikan konflik rumah tangga, dan mendukung anggota keluarga yang sedang mengalami kesulitan emosi. Manfaat Membentuk lingkungan yang aman dan mendukung, sehingga mencegah masalah mental yang lebih berat di masa depan.

Contoh nyata sering kita temui: seseorang yang sedang mengalami tekanan berat di pekerjaan tiba-tiba jatuh sakit tanpa sebab yang jelas. Atau pasien dengan penyakit jantung yang pemulihannya terhambat karena merasa putus asa. Hal ini membuktikan bahwa merawat tubuh tanpa merawat pikiran sama saja hanya merawat separuh dari diri kita. Keduanya Sama-Sama Membutuhkan Perawatan dan Pencegahan Kita semua paham bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati ketika berbicara tentang kesehatan fisik. Kita melakukan vaksinasi, berolahraga, dan menjaga kebersihan. Namun, mengapa kita tidak menerapkan hal yang sama pada kesehatan mental? Kesehatan mental yang baik juga membutuhkan perawatan rutin memberi waktu istirahat bagi pikiran, mengekspresikan perasaan dengan jujur, menetapkan batasan terhadap tekanan luar, dan berani mencari bantuan saat merasa tidak sanggup. Sama seperti tubuh yang bisa sakit jika terus dipaksa bekerja tanpa istirahat, pikiran juga memiliki batas kemampuan. Mengabaikan tanda-tanda gangguan mental sama berbahayanya dengan mengabaikan luka yang terinfeksi yang awalnya terlihat ringan, bisa berkembang menjadi masalah yang serius dan sulit disembuhkan.

Keduanya Menentukan Kemampuan Kita Menjalani Hidup

Kesehatan fisik yang baik menjadi dasar bagi seseorang untuk menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari, seperti bergerak, dan beraktivitas secara optimal. Namun, kesehatan mental yang sehat lah yang memberi kita kemampuan untuk menikmati aktivitas tersebut, berinteraksi dengan orang lain secara bermakna, dan bangkit kembali saat menghadapi kegagalan. Seseorang yang memiliki tubuh kuat namun terperangkap dalam kecemasan yang melumpuhkan, tidak akan bisa berfungsi secara maksimal. Sebaliknya, seseorang dengan kondisi fisik terbatas namun memiliki ketahanan mental yang baik, mampu menjalani hidup dengan penuh semangat dan makna. Keduanya saling melengkapi fisik adalah wadahnya, sedangkan mental adalah jiwanya. Waktunya Mengubah Pandangan Menganggap kesehatan mental kurang penting dibandingkan kesehatan fisik adalah sebuah kesalahpahaman yang merugikan banyak orang. Stigma yang melekat pada gangguan mental seringkali membuat orang takut untuk mencari bantuan, padahal berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater sama wajar nya dengan memeriksakan diri ke dokter umum saat sakit.Kesehatan yang utuh adalah keseimbangan antara tubuh yang sehat dan pikiran yang tenang. Mari kita mulai menempatkan kesehatan mental pada kedudukan yang setara memahaminya, merawatnya, dan mendukung orang lain yang sedang berjuang menjaganya. Karena tanpa kesehatan mental yang baik, kesehatan fisik yang sempurna pun belum tentu membawa kebahagiaan sejati. Dalam dunia kedokteran dan psikologi, dikenal konsep psikosomatis serta pendekatan bio-psiko-sosial. Teori ini menegaskan bahwa tidak ada pemisahan mutlak antara pikiran dan tubuh. Secara biologis, terdapat jalur komunikasi langsung yang disebut Sumbu.

Sarafino, E. P. (2017) Pada Tahun Hipotalamus-Hipofisis-Adrenal (HHSA). Ketika pikiran merasakan stres atau tekanan emosional, tubuh secara otomatis merespons dengan melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Jika kondisi ini terjadi terus-menerus, menurut teori tersebut, hal ini akan merusak sistem kekebalan tubuh, mengganggu irama jantung, merusak pencernaan, hingga mengganggu keseimbangan kimia otak. Sebaliknya, teori Engel, G. L. (1980) menyatakan psikoneuroimunologi menjelaskan bahwa kondisi fisik yang sakit atau lemah akan mengirim sinyal ke otak yang dapat memengaruhi suasana hati dan pola pikir. Inilah sebabnya mengapa pasien dengan penyakit kronis memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan atau depresi. Keduanya saling memengaruhi dalam satu sistem yang utuh.

Kesehatan Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

Suryawati, S. (2018) Menyatakan bahwa definisi kesehatan yang paling mendasar dan diakui secara internasional tertuang dalam piagam Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1948, yang berbunyi:

"Kesehatan adalah keadaan sejahtera yang sempurna, baik secara fisik, mental, maupun sosial, dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau kelemahan."

Tubuh dan Pikiran Tidak Terpisahkan

Teori yang dikemukakan oleh George L. Engel pada tahun (1977) menyatakan bahwa ini menegaskan bahwa tidak ada batas tegas antara kondisi fisik dan mental. Keduanya terhubung erat melalui sistem saraf, hormon, dan emosi. Saat kita diliputi stres, cemas, atau sedih berkepanjangan, tubuh merespons dengan melepaskan hormon kortisol berlebih yang melemahkan daya tahan tubuh, mengganggu pencernaan, meningkatkan tekanan darah, hingga memicu sakit kepala kronis. Sebaliknya, penyakit fisik yang diderita lama atau rasa sakit yang terus-menerus juga bisa memicu keputusasaan, kecemasan, hingga depresi. Berdasarkan teori ini, seseorang tidak bisa disebut sehat secara utuh jika tubuhnya kuat namun pikirannya terganggu. Kesehatan mental adalah pilar utama yang setara dengan kesehatan fisik. Mengabaikan salah satunya berarti melanggar prinsip dasar definisi kesehatan itu sendiri.

Suryawati, S. (2018) Menyatakan teori Pencegahan dan Pemeliharaan Kesehatan Prinsip promosi kesehatan yang dikemukakan oleh ahli kesehatan menyatakan bahwa pemeliharaan kesehatan harus mencakup seluruh aspek manusia. Sama seperti tubuh yang membutuhkan nutrisi, istirahat, dan olahraga agar tidak jatuh sakit, otak dan jiwa juga membutuhkan "nutrisi" berupa emosi yang seimbang, hubungan sosial yang baik, dan kemampuan mengelola stres. Stres dan koping menjelaskan bahwa jika seseorang tidak memiliki ketahanan mental yang baik, tekanan hidup sehari-hari akan berubah menjadi beban yang merusak fungsi tubuh jangka panjang. Oleh karena itu, merawat kesehatan mental bukanlah hal tambahan atau sekadar kemewahan, melainkan bagian dari upaya mempertahankan kelangsungan fungsi tubuh secara keseluruhan.