Konten dari Pengguna

Begadang Demi Tugas, Benarkah Sebanding dengan yang Dikorbankan?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ayu Amanda Novasya Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perempuan mengantuk. Foto: Chay_Tee/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan mengantuk. Foto: Chay_Tee/Shutterstock

Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Laptop masih menyala, beberapa tab materi kuliah terbuka, tugas belum selesai, dan notifikasi dari grup kelas terus berdatangan. Di satu sisi, mata mulai terasa berat. Namun, di sisi lain, masih ada tugas yang harus dikumpulkan keesokan harinya. Situasi seperti ini mungkin cukup familiar bagi mahasiswa. Tidur akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang bisa ditunda ketika tugas, organisasi, kegiatan kampus, atau sekadar bermain media sosial terasa lebih mendesak.

Padahal, tidur bukan hanya waktu ketika tubuh berhenti beraktivitas. Tidur merupakan bagian penting dari kesehatan dan pemulihan tubuh. American Academy of Sleep Medicine bersama Sleep Research Society merekomendasikan orang dewasa berusia 18–60 tahun untuk tidur setidaknya tujuh jam secara teratur. Selain durasi, tidur yang sehat juga berkaitan dengan kualitas dan keteraturan tidur (Watson et al., 2015).

Bagi mahasiswa, persoalan tidur menjadi semakin menarik karena kehidupan perkuliahan sering membuat jadwal sehari-hari berubah. Kuliah pada pagi hari dapat disusul praktikum, kegiatan organisasi, mengerjakan tugas, belajar untuk kuis, hingga berbagai aktivitas lainnya. Ketika semua kegiatan tersebut belum selesai, malam hari sering menjadi waktu tambahan untuk mengejar pekerjaan. Akibatnya, tidur dapat menjadi aktivitas yang dikorbankan terlebih dahulu.

Kurang Tidur Bukan Hanya Soal Mengantuk

Masalahnya, kurang tidur bukan sekadar membuat seseorang merasa mengantuk pada keesokan harinya. Tidur berkaitan dengan berbagai fungsi penting dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, tidur yang cukup tidak seharusnya dipandang hanya sebagai waktu istirahat setelah semua pekerjaan selesai, tetapi sebagai bagian dari kebutuhan kesehatan.

Hubungan antara tidur dan kegiatan akademik juga telah diteliti secara khusus pada mahasiswa. Penelitian Creswell et al. (2023) mengamati mahasiswa tahun pertama dari tiga universitas dengan menggunakan actigraphy untuk mengukur tidur. Hasilnya menunjukkan bahwa durasi tidur malam yang lebih panjang pada awal semester berkaitan dengan GPA akhir semester yang lebih tinggi. Hubungan tersebut tetap terlihat setelah peneliti mempertimbangkan GPA semester sebelumnya.

Temuan tersebut bukan berarti setiap mahasiswa yang tidur lebih sedikit pasti mendapatkan nilai buruk. Prestasi akademik dipengaruhi banyak faktor, seperti kebiasaan belajar, kemampuan akademik, kondisi pribadi, lingkungan, dan beban perkuliahan. Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa tidur merupakan salah satu aspek yang layak diperhatikan dalam kehidupan akademik mahasiswa.

Hal serupa terlihat dalam systematic review Whatnall et al. (2024). Dari 18 penelitian yang menilai hubungan tidur dengan performa akademik mahasiswa pendidikan tinggi, 12 penelitian menunjukkan hubungan negatif antara masalah tidur dan performa akademik. Hasil ini menunjukkan adanya pola hubungan yang cukup konsisten, meskipun bukan berarti tidur menjadi satu-satunya faktor yang menentukan prestasi mahasiswa.

Penelitian yang lebih baru juga memberikan gambaran serupa. Meta-analysis yang diterbitkan pada 2026 menganalisis 59 artikel dengan total 163.357 peserta. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan positif antara kualitas tidur dan performa akademik. Durasi tidur juga menunjukkan hubungan positif dengan performa akademik, meskipun besarnya hubungan relatif kecil (Zhou et al., 2026).

Artinya, tidur memang berkaitan dengan performa akademik, tetapi hubungan tersebut perlu dipahami secara proporsional. Tidur bukan “kunci utama” yang secara otomatis membuat seseorang mendapatkan nilai tinggi. Sebaliknya, tidur merupakan salah satu bagian dari kebiasaan hidup yang dapat mendukung mahasiswa dalam menjalani proses belajar.

Mengapa Mahasiswa Sering Mengorbankan Tidur?

Kesibukan akademik merupakan salah satu alasan yang mudah ditemukan. Mahasiswa dapat menghadapi jadwal kuliah, praktikum, tugas kelompok, organisasi, kegiatan sosial, hingga persiapan ujian dalam waktu yang berdekatan. Ketika manajemen waktu kurang baik, pekerjaan yang seharusnya diselesaikan sejak siang atau sore akhirnya dikerjakan pada malam hari.

Selain itu, penggunaan gawai juga dapat membuat waktu tidur semakin mundur. Awalnya hanya ingin membuka media sosial sebentar, tetapi tanpa terasa waktu sudah berlalu cukup lama. Kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang tidur lebih larut dan mengurangi kesempatan untuk memperoleh waktu tidur yang cukup.

Masalah tidur juga berkaitan dengan kesejahteraan mahasiswa. Systematic review Hutchesson et al. (2025) terhadap mahasiswa pendidikan tinggi menemukan adanya hubungan antara perilaku kesehatan, termasuk tidur, dengan kondisi kesehatan mental mahasiswa. Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan tidur tidak hanya berkaitan dengan kegiatan akademik, tetapi juga perlu dilihat sebagai bagian dari kesehatan mahasiswa secara lebih luas.

Karena itu, menganggap begadang sebagai sesuatu yang sepenuhnya normal hanya karena dilakukan oleh banyak mahasiswa perlu dipertimbangkan kembali. Kalimat seperti “namanya juga mahasiswa” atau “kalau tidak begadang, tugas tidak selesai” mungkin terdengar biasa, tetapi kebiasaan tidur yang terus-menerus kurang tetap perlu diperhatikan.

Tidur Juga Bagian dari Produktivitas

Menjaga tidur bukan berarti mahasiswa harus berhenti produktif. Justru, tidur dapat dipandang sebagai salah satu bagian dari cara menjaga produktivitas. Mengerjakan tugas sampai larut malam memang dapat memberikan tambahan waktu dalam jangka pendek. Namun, jika kebiasaan tersebut terus mengurangi waktu tidur, aktivitas pada hari berikutnya juga dapat terganggu.

Mahasiswa tidak harus mengubah seluruh pola hidup dalam satu malam. Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan, seperti membuat jadwal tugas yang lebih realistis, menghindari kebiasaan menunda pekerjaan hingga tengah malam, mengurangi penggunaan gawai menjelang tidur, dan menyediakan waktu tidur yang cukup.

Yang tidak kalah penting adalah mengubah cara pandang terhadap tidur. Tidur bukan hadiah yang baru boleh dilakukan setelah semua tugas selesai. Tidur merupakan kebutuhan dasar yang seharusnya ikut diperhitungkan ketika menyusun jadwal kuliah, belajar, organisasi, maupun aktivitas lainnya.

Pada akhirnya, menjadi mahasiswa memang berarti memiliki banyak tanggung jawab. Namun, memenuhi tanggung jawab tersebut tidak seharusnya berarti mengabaikan kebutuhan dasar tubuh. Tidur bukan sekadar jeda dari kesibukan, melainkan bagian dari kesehatan dan kehidupan sehari-hari.

Jadi, ketika malam berikutnya tugas belum selesai dan rasa kantuk mulai datang, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan mempertimbangkan kembali pilihan yang ada. Menambah beberapa jam untuk menyelesaikan pekerjaan mungkin terlihat produktif, tetapi tidur yang cukup juga merupakan investasi untuk menghadapi hari berikutnya. Menjaga tidur bukan berarti berhenti mengejar prestasi, melainkan memberi tubuh dan pikiran kesempatan untuk kembali siap menjalani aktivitas.