Konten dari Pengguna

Di Balik Sebuah Kunjungan, Ada Sebuah Refleksi

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ayudia Meta Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak semua orang yang pandai mengkritik juga pandai berefleksi. Kritik sering kali hanya berhenti menjadi komentar, bukan dorongan untuk memperbaiki diri. Fenomena ini masih sering dijumpai dalam kehidupan berorganisasi. Tidak sedikit yang begitu mudah menunjukkan kekurangan, tetapi lupa bahwa tujuan dari sebuah evaluasi bukanlah mencari siapa yang salah, melainkan menemukan apa yang dapat diperbaiki bersama.

‎

Studi Banding HIMAIKOM x HIMIKOM
zoom-in-whitePerbesar
Studi Banding HIMAIKOM x HIMIKOM

‎Pandangan tersebut semakin saya rasakan ketika mengikuti kegiatan studi banding. Selama diskusi berlangsung, muncul berbagai pertanyaan yang membahas kondisi internal organisasi, bahkan cenderung membandingkan organisasi satu dengan organisasi lainnya. Pertanyaan seperti, "Apakah organisasi lain juga mengalami hal yang sama?" atau "Bagaimana jika kondisi organisasi kami seperti ini?" mungkin terdengar sebagai bentuk rasa ingin tahu. Namun, tanpa disadari cara penyampaiannya dapat membuka persoalan internal organisasi kepada pihak luar.

‎Pada saat itu, pihak organisasi yang kami kunjungi memberikan tanggapan yang menurut saya sangat berkesan. Mereka menyampaikan bahwa persoalan internal atau "dapur organisasi" bukanlah sesuatu yang perlu dibahas secara terbuka dalam forum eksternal. Jawaban tersebut bukan berarti menolak untuk berbagi pengalaman, melainkan mengingatkan bahwa setiap organisasi memiliki batasan yang perlu dijaga. Ada hal-hal yang dapat dijadikan bahan pembelajaran bersama, tetapi ada pula hal yang lebih tepat diselesaikan di dalam organisasi itu sendiri.

‎Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa refleksi tidak selalu berarti mengungkap seluruh kekurangan kepada orang lain. Refleksi justru dimulai dari keberanian untuk mengakui bahwa organisasi masih memiliki banyak hal yang perlu dibenahi, kemudian menjadikan hal tersebut sebagai bahan evaluasi internal. Mengkritik memang mudah, tetapi mengubah kritik menjadi solusi membutuhkan rasa tanggung jawab yang lebih besar.

‎Menurut saya, keberhasilan sebuah studi banding tidak diukur dari seberapa banyak kritik yang disampaikan atau seberapa jauh organisasi lain dibandingkan dengan organisasi kita. Keberhasilannya justru terletak pada kemampuan setiap peserta untuk membawa pulang wawasan baru, memetik nilai positif, lalu menerapkannya sesuai dengan kebutuhan organisasinya. Sebab, setiap organisasi memiliki latar belakang, tantangan, dan proses yang berbeda sehingga tidak semuanya dapat disamakan.

‎Pada akhirnya, studi banding bukanlah ajang untuk membandingkan organisasi atau mencari pembenaran atas kekurangan yang dimiliki. Lebih dari itu, studi banding merupakan ruang untuk belajar, berkaca, dan bertumbuh. Sebuah kunjungan akan memiliki makna apabila mampu melahirkan refleksi, dan refleksi akan menjadi bernilai ketika diwujudkan dalam tindakan nyata demi kemajuan organisasi.