Konten dari Pengguna

Ketika Umur 20-an Dipenuhi Pertanyaan: Sebenarnya Aku Mau Jadi Apa?

Ayumi Indira

Ayumi Indira

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang.

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ayumi Indira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seseorang yang sedang merenungkan masa depan di usia 20-an. (Sumber: Gaspar Zaldo, Pexels)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang yang sedang merenungkan masa depan di usia 20-an. (Sumber: Gaspar Zaldo, Pexels)

Usia 20-an sering kali dipenuhi pertanyaan tentang masa depan

“Setelah lulus mau kerja di mana?”

“Jurusan kamu nanti mau kerja jadi apa?”

“Lima tahun lagi kamu mau jadi apa?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin terdengar sederhana. Tapi untuk sebagian orang yang sedang berada di usia 20-an, pertanyaan tersebut justru bisa terasa cukup berat.

Bagaimana kalau sampai sekarang kita sendiri belum tahu jawabannya?

Usia 20-an sering dianggap sebagai masa ketika seseorang mulai menentukan arah hidup. Setelah menyelesaikan pendidikan, kita seolah diharapkan sudah tahu pekerjaan apa yang ingin ditekuni, ingin tinggal di mana, ingin mencapai apa, bahkan seperti apa kehidupan yang ingin dijalani.

Padahal kenyataannya tidak semua orang punya gambaran yang jelas.

Ada yang sudah tahu ingin menjadi apa sejak sekolah. Ada yang setelah lulus kuliah langsung mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. Ada juga yang memilih melanjutkan pendidikan atau membangun usaha.

Dan ada pula yang masih berada di titik “aku sebenarnya mau ke mana?”

Kebingungan itu terasa semakin besar ketika melihat kehidupan orang lain.

Di media sosial, kita bisa melihat teman sebaya yang sudah mendapatkan pekerjaan, melanjutkan pendidikan, memiliki penghasilan sendiri, bepergian ke berbagai tempat, atau mulai membangun kehidupan yang terlihat mapan. Tanpa sadar, pencapaian mereka kemudian menjadi ukuran untuk menilai kehidupan kita sendiri.

“Dia sudah sampai sana, kok aku masih di sini?”

Pertanyaan seperti itu mungkin pernah muncul di kepala.

Padahal, yang kita lihat di media sosial biasanya hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Kita melihat hasilnya, tetapi tidak melihat proses panjang, kegagalan, rasa takut, dan kebingungan yang mungkin mereka alami sebelum sampai di titik tersebut.

Membandingkan diri dengan orang lain memang tidak selalu mudah dihindari.

Ada masa ketika melihat keberhasilan orang lain justru membuat kita ikut senang. Tetapi ada juga saat ketika pencapaian orang lain membuat kita mempertanyakan diri sendiri. Bukan karena kita tidak ikut bahagia, melainkan karena kita mulai merasa tertinggal.

Seolah-olah usia 20-an memiliki batas waktu tertentu.

Mungkin salah satu hal yang paling melelahkan dari usia 20-an adalah keharusan untuk terus menjawab pertanyaan tentang masa depan, ketika kita sendiri masih berusaha memahami diri sendiri.

Tidak tahu ingin menjadi apa di usia 20-an bukan berarti kita gagal. Bisa jadi kita memang sedang berada dalam proses mencari.

Dan proses mencari itu tidak selalu terlihat seperti pencapaian. Kadang bentuknya adalah mencoba sesuatu yang ternyata tidak cocok. Kadang berupa mengambil keputusan yang salah. Kadang juga hanya berupa bertahan melewati hari-hari ketika kita belum tahu harus melangkah ke mana.

Mungkin kita tidak sedang tertinggal. Kita hanya sedang berjalan dengan kecepatan yang berbeda.

Pada akhirnya, usia 20-an bukan perlombaan untuk melihat siapa yang paling cepat mencapai sesuatu. Kita tidak harus memiliki pekerjaan yang sempurna, kehidupan yang mapan, atau jawaban lengkap tentang masa depan hanya karena orang lain sudah memilikinya.

Kalau hari ini kita masih bertanya, “Sebenarnya aku mau jadi apa?”, mungkin tidak apa-apa.

Tidak semua pertanyaan harus langsung memiliki jawaban.

Sekarang kita hanya perlu terus berjalan, mencoba, dan memberi diri sendiri kesempatan untuk berubah pikiran.

Karena mungkin tujuan hidup bukan sesuatu yang selalu kita temukan dalam satu keputusan besar. Bisa jadi, ia terbentuk sedikit demi sedikit dari hal-hal yang kita coba, orang-orang yang kita temui, kegagalan yang kita alami, dan keputusan-keputusan kecil yang kita ambil sepanjang perjalanan.