Konten dari Pengguna

Mengenal Kembali Budaya Jawa "Gowok" Melalui Film Gowok: Kamasutra Jawa

Ayuni Dwi Wulandari
Mahasiswi Universitas Pamulang jurusan Sastra Indonesia
4 Januari 2026 4:38 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Mengenal Kembali Budaya Jawa "Gowok" Melalui Film Gowok: Kamasutra Jawa
Tulisan ini mengulas film Gowok: Kamasutra Jawa sebagai upaya mengenalkan kembali tradisi Jawa tentang pendidikan seksual, hubungan gender, dan keharmonisan rumah tangga.
Ayuni Dwi Wulandari
Tulisan dari Ayuni Dwi Wulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi bioskop. Sumber: freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bioskop. Sumber: freepik
ADVERTISEMENT
Film Gowok: Kamasutra Jawa karya Hanung Bramantyo bukan hanya sebagai hibura semata, tetapi juga untuk mengajak penonton untuk mengetahui dan mengedukasi salah satu tradisi masyarakat Jawa yang nyaris dilupakan. Melalui film Gowok: Kamasutra Jawa, sang sutradara berhasil mengenalkan kembali tradisi gowok yang penting untuk diketahui, karena tradisi ini memperlihatkan bahwa pemahaman tentang pendidikan seksual, hubungan gender, dan keharmonisan rumah tangga pernah dipahami secara terbuka oleh masyarakat dulu.
ADVERTISEMENT
Apa itu gowok?
Tradisi gowok merupakan budaya unik yang memberikan peran kepada perempuan untuk membekali calon pengantin laki-laki muda sebelum menikah dengan pengetahuan tentang seksualitas dan keharmonisan rumah tangga (Putra et al., 2025). Dilansir dari Kompas.id, tradisi ini biasanya dilakukan oleh lelaki dari keluarga bangsawan atau priyayi.
Hanung Bramantyo mengangkat tema tradisi gowok sebagai layar lebar sejarah berlatar masyarakat Jawa. Dilansir dari idntimes.com Hanung tertarik mengupas tema tradisi gowok karena nilai pendidikannya, terutama dalam mengajarkan laki-laki untuk memahami tubuh dan kebutuhan pasangannya sehingga laki-laki bisa berperan sebagai pribadi yang dewasa, tanggung jawab, serta dapat membahagiakan pasangannya
Film ini bukan hanya fiksi romantis, tetapi usaha yang menghadirkan kembali budaya yang terlupakan dan beberapa orang pun mengenal adanya tradisi gowok melalui fim tersebut. Bahkan banyak yang belum familiar dengan tradisi gowok, walaupun bagian dari budaya Jawa. Selain berhasil memperkenalkan kembali budaya gowok, film ini berhasil memperoleh ajang Internasional Film Festival Rotterdam.
ADVERTISEMENT
Dengan demikian, film Gowok: Kamasutra Jawa tidak hanya mengangkat tradisi lama, tetapi menghadirkan pembahasan tentan seksualitas dan pendidikan budaya yang pernah ada dalam masyarakat Jawa. Film ini mengajak kita bepikir bahwa tradisi yang berkaitan dengan seksualitas tidak selalu bermakna negatif. Karena itu, film Gowok: Kamasutra Jawa layak mendapatkan apresiasi karena berhasil memperkenalkan kembali tradisi gowok yang jarang diketahui masyarakat Indonesia.
Referensi
Pradana, S. 27 Mei 2025. Hanung Bramantyo Gabungkan Tiga Genre Berbeda dalam Film Gowok. Diakses pada 26 Desember 2025, dari https://www.idntimes.com/hype/entertainment/hanung-bramantyo-gabungkan-tiga-genre-berbeda-dalam-film-gowok-00-ffxpq-1432wf
Putra, M. K., & Rivaldy, T. M. P. (2025). Representasi Perempuan Sebagai Sub-altern Dalam Film Gowok Kamasutra Jawa. Integrative Perspectives of Social and Science Journal, 2(03 Juli), 4675-4679.
ADVERTISEMENT
Rachmawati. 5 Juni 2025. Apa Itu Gowok? Tradisi Pendidikan Seks Laki-Laki di Jawa yang Diangkat Hanung Bramantyo dalam Film. Diakses pada 26 Desember 2025, dari https://www.kompas.com/jawa-timur/read/2025/06/05/163000188/apa-itu-gowok-tradisi-pendidikan-seks-laki-laki-di-jawa-yang-diangkat