Puisi "Ayah" Kerinduan dan Luka Batin Seorang Anak Perempuan

Mahasiswi Universitas Pamulang jurusan Sastra Indonesia
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Ayuni Dwi Wulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puisi merupakan bentuk karya sastra yang menggunakan bahasa yang indah, ringkas, dan penuh makna untuk mengungkapkan perasaan, pikiran, dan pengalaman yang dirasakan oleh penulisnya atau disekitarnya. Dalam puisi, pemilihan kata sangat diperhatikan untuk menciptakan kekuatan imajinasi dan kedalaman makna melalui majas, ritme, dan simbol-simbol tertentu.
Dalam tulisan ini akan menyajikan puisi yang menggambarkan tentang dimana seorang anak yang rindu dengan sosok ayah yang dahulu menjadi cinta pertama dan sumber kebahagiannya, namun kini menjadi sumber luka dan traumanya.
Bait Puisi "Ayah"
Katanya dulu kau cinta pertamaku
Bagai malaikat pelindungku dari murka ibu
Selalu membuat lelucon yang receh
Terbahak diriku dibuatnya
Namun saat ini kau berubah
Melukai fisik, mengoyak batin
Kau bagaikan monster bengis yang tak punya hati
Tangan kekar itu dahulu menyayangiku
Kini kerap kali memukul hatiku
Mengapa rajaku menjadi tempramental?
Entalah...
Berharap kudamba kau kembali memulihkan hati
Puisi ini menceritakan tentang seorang anak yang mengenang masa kecilnya bersama sang ayah yang penuh kasih. Sosok ayah dalam puisi ini digambarkan bagaikan malaikat pelindung yang selalu datang memberikan perlindungan dan canda tawa.
Seiring berjalannya waktu, sosok ayah ini berubah menjadi pribadi yang keras, kasar, dan penuh amarah. Perubahan itu melukai fisik dan batin sang anak sehingga menciptakan trauma yang mendalam pada diri sang anak. Walaupun begitu, di balik luk dan ketakutan yang dirasanya, masih terdapat harapan dalam hati sang anak agar sosok ayahnya kembali seperti di masa kecilnya yang penuh cinta, canda tawa, dan memberikan perlindungan untuknya.
