Konten dari Pengguna

Hilirisasi Ekonomi Sulawesi Barat:Mengatasi Lemahnya Hilirisasi Ekonomi Rakyat

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Rahayu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hilirisasi Ekonomi Sulawesi Barat. (Sumber Gambar: Ilustrasi dari AI)
zoom-in-whitePerbesar
Hilirisasi Ekonomi Sulawesi Barat. (Sumber Gambar: Ilustrasi dari AI)

Pertumbuhan Ekonomi Belum Sepenuhnya Menyejahterakan Masyarakat

Sulawesi Barat memiliki potensi ekonomi yang besar melalui sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan industri pengolahan. Komoditas seperti kelapa sawit, kakao, kopi, kelapa, dan rumput laut menjadi sumber penghidupan masyarakat sekaligus bagian penting dalam perekonomian daerah. Namun, besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya menghasilkan nilai tambah yang dapat dirasakan masyarakat secara luas.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa ekonomi Sulawesi Barat tumbuh sebesar 5,36 persen pada 2025. Pertumbuhan tersebut menunjukkan perkembangan ekonomi yang positif. Namun, pada September 2025 masih terdapat 149,88 ribu penduduk miskin atau sekitar 10,18 persen dari jumlah penduduk Sulawesi Barat. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum otomatis menyelesaikan persoalan kesejahteraan masyarakat.

Persoalan tersebut juga dibahas SulbarOnline dalam tulisan “Sulawesi Barat dan Paradoks Pertumbuhan”. Tulisan tersebut menyoroti adanya kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Salah satu persoalan yang dianggap penting adalah lemahnya hilirisasi ekonomi rakyat sehingga Sulawesi Barat masih banyak berperan sebagai penyedia bahan mentah.

Hilirisasi Yang Masih Menjadi Tantangan

Menurut saya, lemahnya hilirisasi merupakan salah satu tantangan utama dalam pembangunan ekonomi Sulawesi Barat. Hilirisasi seharusnya tidak hanya dipahami sebagai pembangunan industri pengolahan berskala besar, tetapi juga sebagai proses meningkatkan nilai suatu komoditas melalui pengolahan, pengemasan, pemasaran, dan pengembangan produk oleh masyarakat lokal.

SulbarOnline melaporkan bahwa Sulawesi Barat masih menghadapi masalah dalam pengolahan komoditas unggulan. Pada sektor kelapa sawit, produk turunannya yang dihasilkan di daerah masih terbatas. Sementara itu, sebagian besar hasil kakao dan kopi masih dipasarkan ke luar daerah dalam bentuk bahan mentah. Kondisi ini menyebabkan sebagian nilai tambah dari komoditas tersebut berpotensi tercipta di luar Sulawesi Barat.

Contoh lain terlihat pada komoditas rumput laut. SulbarOnline melaporkan bahwa sekitar 80 persen produksi rumput laut Sulawesi Barat masih keluar daerah dalam bentuk bahan mentah. Padahal, terdapat sekitar 23.000 rumah tangga pembudidaya yang menggantungkan kehidupan pada sektor tersebut. Fakta ini menunjukkan bahwa pengembangan industri pengolahan lokal dapat menjadi bagian penting dalam memperbesar manfaat ekonomi yang diterima masyarakat pesisir.

Ketergantungan terhadap bahan mentah juga membuat perekonomian daerah lebih mudah terpengaruh oleh perubahan produksi dan harga komoditas. Bank Indonesia mencatat bahwa pada triwulan I 2026 ekonomi Sulawesi Barat tumbuh 5,33 persen, tetapi mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Perlambatan tersebut antara lain dipengaruhi oleh melambatnya produksi CPO dan produk turunannya, penurunan produksi kakao, serta kontraksi subsektor perikanan akibat cuaca buruk. Bank Indonesia juga mencatat bahwa kesejahteraan petani mengalami tekanan akibat penurunan harga beberapa komoditas perkebunan.

Hal ini menunjukkan bahwa persoalan Sulawesi Barat bukan sekadar kurangnya sumber daya alam, melainkan bagaimana sumber daya tersebut diolah dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Jika petani dan nelayan hanya berperan sebagai pemasok bahan mentah, sementara proses pengolahan dan pemasaran bernilai tinggi berlangsung di luar daerah, maka pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya menciptakan pemerataan nilai tambah.

Mendorong Hilirisasi Berbasis Masyarakat Lokal

Pertama, pemerintah daerah perlu memperkuat hilirisasi komoditas unggulan seperti kakao, kopi, kelapa sawit, rumput laut, dan hasil perikanan. Pengembangan industri tidak harus selalu berupa perusahaan besar, tetapi dapat dilakukan melalui UMKM, koperasi, dan kelompok usaha masyarakat.

Kedua, petani, nelayan, dan UMKM perlu diberikan pendampingan dalam teknologi pengolahan, pengemasan, sertifikasi, pemasaran digital, serta akses pembiayaan. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh manfaat tidak hanya dari penjualan bahan mentah, tetapi juga dari produk olahan.

Ketiga, pemerintah perlu memperkuat kerja sama antara masyarakat, pelaku usaha, perguruan tinggi, dan pemerintah. Perguruan tinggi dapat membantu penelitian dan inovasi produk, sedangkan pemerintah dapat menyediakan pelatihan dan infrastruktur pendukung.

Keempat, pemerintah perlu mengembangkan pasar bagi produk lokal. Salah satu contoh yang diberitakan SulbarOnline adalah pengembangan produk seperti bakso ikan dan keripik rumput laut melalui Rumah Pangan B2SA serta penjajakan pemasaran untuk Program Makan Bergizi Gratis. Langkah seperti ini dapat menjadi contoh bagaimana hasil produksi masyarakat dihubungkan langsung dengan pasar.

Memastikan Nilai Tambah Tetap di Sulawesi Barat

Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat yang positif belum sepenuhnya menunjukkan kuatnya transformasi ekonomi masyarakat. Ketergantungan terhadap komoditas primer dan masih terbatasnya pengolahan di daerah menyebabkan sebagian nilai tambah berpotensi dinikmati di luar Sulawesi Barat.

Oleh karena itu, hilirisasi perlu diarahkan bukan hanya untuk meningkatkan produksi dan ekspor, tetapi juga untuk memperkuat posisi petani, nelayan, UMKM, dan koperasi dalam rantai ekonomi. Keberhasilan pembangunan seharusnya tidak hanya dilihat dari tingginya angka pertumbuhan, tetapi juga dari meningkatnya pendapatan masyarakat dan semakin banyaknya nilai tambah yang dapat dipertahankan di daerah. Dengan hilirisasi yang inklusif dan berbasis pada potensi lokal, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih nyata bagi masyarakat.