Aku yang Mencintai Aku: Bagaimana Proses Otak Belajar Self-Love

Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ayyash Fathi Atho'ullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita akrab dengan kata self-love yang sering kali muncul di media sosial kita. Setiap hari pasti ada saja konten-konten atau unggahan bertemakan cinta diri, mulai dalam bentuk video motivasi atau bahkan sampai kutipan-kutipan bertuliskan self-love itu sendiri.
“Cintailah dirimu sendiri, sebelum mencintai orang lain,” katanya. Tetapi aku sendiri sering berpikir: apakah kita benar-benar mengetahui arti dari mencintai diri itu sendiri? Atau jangan-jangan, kita hanya mengikuti dan mengulang-ulang kata yang sering muncul tersebut tanpa tahu apa sih makna atau rasa dari mencintai diri sendiri itu?
Aku teringat, ketika aku pernah mendapatkan banyak struggle saat menempuh pendidikan SMA aku di turki kemarin. Saat itu aku mendapatkan pressure dari banyak arah; ujian, tugas, pertemanan, sampai percintaan pun berhasil membuatku merasa hancur berantakan. Perasaan gila yang aku rasakan saat itu pun menjadikanku lupa bahwa aku memiliki “aku” yang selalu menemani senang-sedihku.
Sebagai salah satu bagian dari generasi Z, aku hidup ditengah-tengah kehidupan serba digital; serba cepat, serba dibandingkan, dan selalu menuntut akan kesempurnaan. Semuanya berlomba-lomba untuk terlihat bahagia, semua orang tak ingin terlihat memiliki kekurangan, dan semua orang ingin sekali terlihat memiliki kehidupan yang sempurna.
Padahal di balik semua itu, banyak manusia yang diam-diam sangat-sangat lelah. Banyak sekali orang yang pura-pura terlihat bahagia. Semua orang hidup, tetapi tak semua orang benar-benar merasa hidup. Aku sendiri pun pernah merasakan itu; merasa tak pernah dilihat, merasa benar-benar tak pantas untuk menikmati keindahan dunia, merasa bahwa diriku tak pernah dicintai oleh siapapun. Bahkan aku pernah lupa hal terpenting dalam hidup, bahwa aku belum pernah mencoba untuk mencintai “aku” itu sendiri
Dalam dunia psikologi, self-love bukan hanya perihal perasaan, keharusan, atau bahkan motivasi untuk kita hidup. Ia juga merupakan bagian dari biologi –tentang bagaimana proses otak dan tubuh saling terhubung untuk menciptakan keseimbangan emosi kita. Pinel & Barnes (2020) dalam buku Biopsychology menyatakan bahwa sistem limbik, khususnya amigdala dan hipokampus, memiliki peran yang sangat penting untuk mengatur emosi kita.
Amigdala ada selayaknya alarm bahaya. Ia cepat merespon ketika kita merasakan takut, sedih, atau stres. Sedangkan hipokampus bekerja memberikan konteks dalam semua perasaan itu, ia seperti berkata “Eh santai aja, kamu cuma belum berhasil, ini semua belum berakhir.” Namun jika kita terus-terusan memberikan pressure kepada diri kita sendiri, alarm itu juga akan terus menyala, bahkan tanpa adanya sinyal bahaya sekalipun, ia akan selalu menyala. Dan itu akan membuat otak kita overload dan menjadikan tubuh kita ini lelah sekali layaknya seorang buruh yang bekerja 24 jam penuh.
Sebaliknya, ketika seorang individu bisa mencintai diri sendiri –menenangkan pikiran, menerima kesalahan, dan memberi jarak waktu untuk beristirahat– amigdala akan lebih tenang. Otak menjadi lebih percaya bahwa kita aman. Korteks prefrontal –bagian otak yang mengendalikan emosi dan logika– bisa mengerjakan tugasnya dengan lebih jernih. Aku jadi paham, mencintai itu bukan hanya perkara hati, tetapi ia juga merupakan perihal otak yang harus bisa menenangkan diri.
Self-love sendiri memiliki hubungan yang sangat erat dengan kata self-compassion, sebuah konsep yang disebarluaskan oleh Neff (2011). Ia mengajarkan bahwa konsep self-compassion memiliki tiga elemen dasar: bersikap baik terhadap diri sendiri, menyadari bahwa penderitaan adalah salah satu bagian manusia, dan memiliki kesadaran penuh akan perasaan yang sering muncul tanpa harus menghakimi.
Aku teringat ketika aku SMA kemarin, ketika aku selalu berusaha dan gagal untuk mencapai suatu tujuan tertentu; entah itu soal akademik, pertemanan, dan bahkan sampai persoalan tentang percintaan. Aku selalu menyalahkan diriku sendiri akan semua kekecewaan yang aku dapatkan. Dan disaat aku mencoba untuk menerimanya, aku mulai dengan kalimat afirmasi sederhana, “Ya, aku mengakui semua kesalahan yang telah kamu perbuat, tetapi saat ini aku telah memaafkan semuanya.”
Sejak saat itu, anehnya perasaan tidak mengenakkan tersebut jadi tidak sering lagi muncul. Aku merasa bahwa aku bisa menikmati kehidupanku dengan lebih tenang. Dan sejak saat itu aku paham, bersikap lembut pada diri sendiri dapat menenangkan saraf pada otak sedahsyat ini.
Salah satu topik paling menarik dalam dunia biopsikologi adalah neuroplastisitas, kemampuan beradaptasi milik otak berdasarkan pengalaman pribadi. Sebuah penelitian A Review of Self-Compassion as an Active Ingredient in the Prevention and Treatment of Anxiety and Depression in Young People (2022) menyatakan bahwa kebiasaan positif yang berkelanjutan seperti self-love dan self-compassion dapat mengubah struktur saraf pada otak. Otak kita akan membentuk saraf baru yang meningkatkan rasa aman dan juga meminimalisir adanya stres.
Kalimat afirmasi kecil untuk diri kita seperti “I’m good enough” jika diulang terus-menerus, akan mengokohkan jalur saraf yang menguatkan rasa percaya diri. Seperti kita membuka jalan di padang rumput yang luas: semakin sering kita lewati, semakin terlihat jelas bentuk jalannya dan mudah dilewati. Maksudnya, semakin kita belajar menerima diri sendiri, otak kita pun akan semakin belajar untuk menikmati kehidupan ini.
Sebuah penelitian di Frontiers in Psychology (2021) menemukan fakta bahwa ekspresi self-love dipengaruhi juga oleh nilai-nilai budaya. Dalam budaya Asia, self-love dipahami sebagai pengendalian diri dan juga keseimbangan sosial baik kepada orang lain ataupun juga kepada lingkungan. Di Indonesia, makna self-love sering dikaitkan dengan bentuk syukur kepada Tuhan dan menjaga diri supaya bermanfaat bagi sesama. Artinya, pandangan penilaian terhadap self-love itu egoisme adalah salah. Self-love adalah tanggung jawab kepada diri kita supaya kita bisa menjaga diri dan menyayanginya dengan penuh.
Ketika seseorang sudah bisa menerima dirinya dengan penuh kasih, sistem limbik dalam otak dapat mengatur emosi menjadi lebih seimbang, amigdala menjadi kurang reaktif kepada stress, dan konteks prefrontal berfungsi lebih efektif pada saat mengendalikan pikiran negatif. Penurunan hormon stres (kortisol) juga membuat tubuh kita berada dalam kondisi tenang, sementara hormon serotonin dan oksitosin dapat meningkat: sehingga dapat menumbuhkan rasa aman, bahagia, dan tidak mudah keterhubungan dengan orang lain.
Semakin aku tumbuh, semakin aku sadar bahwa tidak ada yang selamanya akan ada disisiku kecuali diri ini. Semua orang boleh dan bisa untuk pergi, tetapi tidak dengan “aku” yang ada di dalam diri ini. Jika tubuh memerlukan oksigen untuk bernafas, maka pikiran kita pun perlukan kasih sayang untuk bertahan.
Self-love adalah penghargaan terbaik untuk diri kita. Ia adalah suatu bentuk perayaan terhadap semua perasaan kita sebagai manusia. Temuilah dia –the me within you– dan ucapkan maaf serta terima kasih, karena dia benar-benar pantas mendapatkannya lebih dari siapapun.
