Konten dari Pengguna

Amygdala Hijack: Ketika Hilang Kendali Menjadi Penyesalan

Ayyash Fathi Atho'ullah

Ayyash Fathi Atho'ullah

Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ayyash Fathi Atho'ullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi orang yang sedang menyesal, Source: Canva AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang yang sedang menyesal, Source: Canva AI

Pernah ga sih ngerasa marah atau panik tiba-tiba karena hal sepele? Kaya tiba-tiba meledak dan akhirnya kamu menyesal akan ledakan emosi kamu itu? Tiba-tiba aja memukul, bentak-bentak gak jelas, atau nangis gara-gara hal sepele yang bahkan kamu sendiri ngerasa kalau itu gak pantes buat kamu marahin atau nangisin karena hal ini. Bisa jadi ini adalah fenomena yang disebut Amygdala Hijack.

Aku teringat, dulu ketika aku kecil aku pernah marah bahkan sampai bentak-bentak gak jelas ke orang cuma gara-gara gak mau di foto. Lagi kumpul keluarga besar, semua ada dalam satu rumah. Dan pas keluarga mau foto bersama aku malah marah-marah gak jelas cuma karena ga mau difoto. Lucu sih kalau diingat-ingat, perasaan malunya itu loh pas menyadari aku bisa marah karena hal sepele.

Reaksi instan dan perasaan akan kehilangan akses ke logika ini sering loh terjadi pada kita, sesimpel kayak lagi sensitif terus bales chat orang dengan dry text atau teriak ke guru matematika karena gak paham materinya pun bisa masuk ke fenomena Amygdala Hijack ini juga. Dan penyesalan setelahnya pun biasanya akan hadir dikarenakan fenomena ini.

Fenomena ini bukan semata-mata hanya karena kita belum bisa mengendalikan emosi, tapi ada penjelasan psikologisnya juga. Semua orang pasti pernah merasakan, bahkan orang yang biasanya stabil emosinya pun pernah tau ngerasain. Lantas bagaimana sih hal ini bisa terjadi secara psikologis?

Apa dan bagaimana sih konsep Amygdala Hijack itu?

Amygdala Hijack adalah istilah yang diperkenalkan oleh Goleman (1995) dalam bukunya Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ untuk menggambarkan respon secara tiba-tiba dan intens yang muncul pada suatu situasi. Dimana pengendali emosi (amigdala) mengambil kendali sebelum satpam logika (prefrontal korteks) memahami situasi untuk memberikan respon. Kondisi ini akan memberikan reaksi impulsif dan emosional yang intens sampai kita menyesali hal ini setelahnya.

Ketika amigdala mengambil alih, ia akan memicu respon fight or flight sebelum sang satpam logika di otak memprosesnya secara logis. Pada saat ini, adrenalin dilepaskan dan akan menetap di dalam tubuh selama 18 menit. Fenomena ini ditandai dengan 3 hal; reaksi emosional yang kuat, kemunculan secara tiba-tiba, dan terakhir penyesalan atas tindakan atau reaksi yang telah dilakukan.

Faktor yang biasanya mempengaruhi fenomena ini bisa dikarenakan; stres, trauma, kurang tidur, fobia, dll. Keadaan bahaya atau ancaman –yang bahkan tidak nyata pun bisa memicu fenomena ini. Orang yang rentan terhadap Amygdala Hijack ini akan kesulitan untuk mengendalikan emosinya, hal ini akan mempengaruhi kesehatan psikologisnya dan menyebabkan banyak sekali masalah dengan hubungan, pekerjaan, maupun aspek kehidupan lainnya. Banyak sekali gejala yang ditimbulkan oleh fenomena ini; mulai dari jantung yang berdebar dengan cepat, pupil yang melebar, sampai reaksi emosional yang berlebihan.

Hal ini terjadi bukan dikarenakan ingin menyakiti, tetapi karena pengendali emosi terlebih dahulu mengendalikan sebelum pada akhirnya satpam logika memegang kendali atas situasi yang terjadi.

Lalu bagaimana kita memperbaikinya?

Gambar otak yang memiliki kemampuan Neuroplastisitas, Source: Unsplash.

Bicara memperbaiki, otak kita memiliki kemampuan bernama neuroplastisitas. Konsep yang diperkenal oleh William James (1842-1910) bahwa otak manusia memiliki saraf yang bisa diubah melalui reorganisasi, ini bisa menjawab keresahan kita akan fenomena yang sedang kita hadapi ini. Dan untuk mengatasi Amygdala Hijack ini, kita tak akan jauh-jauh dari konsep Regulasi Emosi. Ada banyak sekali cara untuk mengatasi hal ini, dan ini bukan suatu hal yang tak bisa diperbaiki;

Mindfulness: ketika menerapkan teknik mindfulness secara berkala, kamu akan dapat lebih mudah untuk menyadari emosi dan merespons emosi tersebut dengan lebih efektif sehingga fenomena Amygdala Hijack tidak akan terjadi lagi.

Mengatur nafas: untuk memperbaiki ini, kamu bisa memulainya dengan mengatur nafas setiap kali ada emosi yang meledak. Hal ini akan membantu untuk mengurangi respon dari emosi yang muncul dan menenangkan saraf pada otak kita.

Identifikasi emosi: kamu akan mudah untuk mengatasi fenomena ini dengan mengenali pemicunya. Sekedar ‘oh aku lagi marah’ itu sangat berpengaruh terhadap reaksi atau respon emosional yang sedang meledak.

Dan banyak lagi cara untuk mengatasi fenomena ini. Jangan pernah mengira bahwa hal ini adalah perilaku yang tak bisa diubah, buat penyesalan-penyesalan yang sudah terjadi itu sebagai pemicu untuk kita bisa menyelesaikan permasalahan ini.

Ilustrasi orang yang bisa Regulasi Emosi, Source: Canva AI

Amygdala Hijack bukan hanya teori tentang bagaimana emosi mengendalikan kita, ia adalah respon emosional intens dan tiba-tiba yang tak hanya mempengaruhi kesehatan mental, namun ia juga dapat mempengaruhi banyak permasalahan kita sebagai makhluk sosial. Ketika kita dapat memahami pemicunya, kita bisa lebih efektif untuk memberikan respon terhadap emosi-emosi yang muncul.

Proses untuk mengendalikan emosi memanglah tak semudah membalikkan tangan. Apalagi ada Amygdala Hijack yang menyulitkan kita untuk mengontrol emosi dan memberikan respon yang sehat. Namun meskipun sulit, bukan berarti kita tidak mungkin untuk memperbaiki hal ini. Tak harus langsung berubah, mulailah dari hal kecil yang bisa kamu kendalikan. Seseorang pernah berkata kepadaku

Semua hal akan datang bukan karena kamu memaksanya, tapi karena kamu sudah siap untuk menerima.