Konten dari Pengguna

Anak SD Juga Butuh Konseling: Kenapa Kita Sering Lupa?

Azalia Davina

Azalia Davina

Mahasiswa Universitas Pamulang FKIP Prodi PGSD

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azalia Davina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: ilustrasi Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
sumber: ilustrasi Gemini AI

"Ah, anak SD mah belum ada masalah. Masalah beneran baru datang kalau sudah SMP."

Kalimat itu terdengar familiar, bukan? Entah dari obrolan warung kopi, rapat orang tua, atau bahkan dari mulut guru itu sendiri. Ada anggapan yang mengakar kuat di masyarakat kita bahwa masa sekolah dasar adalah masa yang sederhana, masa bermain, belajar membaca, dan menghafal perkalian. Masalah emosional dan psikologis dianggap urusan remaja.

Sayangnya, anggapan itu salah. Dan kekeliruan itu dapat berdampak panjang.

Anak usia 7 hingga 12 tahun sedang berada di salah satu fase perkembangan paling krusial dalam hidupnya. Di usia ini, mereka mulai membangun konsep diri, siapa aku, apakah aku disukai, apakah aku cukup baik? Mereka mulai belajar bernavigasi dalam dunia sosial yang lebih kompleks dari sekadar keluarga inti. Mereka menghadapi tekanan akademik pertama yang nyata: PR, ulangan, dan ranking kelas.

Dan tidak semua anak melewati fase itu dengan mulus.

Data dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa 26% korban bullying di Indonesia berasal dari jenjang SD, proporsi tertinggi dibanding jenjang pendidikan lainnya. KPAI mencatat sepanjang 2025 saja sudah ada 61 anak yang menjadi korban perundungan di sekolah, dan angka itu diyakini hanya puncak gunung es karena banyak kasus yang tak pernah dilaporkan.

Bullying bukan sekadar "kenakalan biasa" Riset menunjukkan bahwa anak-anak yang menjadi korban perundungan sejak SD berisiko lebih tinggi mengalami depresi, gangguan kecemasan, penurunan harga diri, hingga dampak jangka panjang yang terbawa hingga dewasa.

Dan itu baru satu jenis masalah. Belum bicara soal anak yang orang tuanya bercerai, anak yang kesulitan belajar tapi malu bertanya, anak yang merasa tidak punya teman, atau anak yang mengalami kekerasan di rumah namun tidak tahu harus bicara kepada siapa.

Ada beberapa alasan mengapa kebutuhan konseling anak SD sering luput dari perhatian, yaitu:

  1. Anak-anak tidak tahu cara mengungkapkannya. Berbeda dengan orang dewasa yang bisa mengartikulasikan kegelisahan mereka, anak SD mengekspresikan masalah emosional dengan cara yang berbeda: tiba-tiba malas sekolah, sering sakit perut tanpa sebab medis yang jelas, agresif kepada teman, atau justru menjadi sangat pendiam. Sinyal-sinyal ini mudah diabaikan jika kita tidak terlatih membacanya.

  2. Kita terlalu fokus pada nilai. Sekolah dan orang tua sering mengukur "baik-tidaknya" seorang anak dari rapor. Anak yang nilainya bagus dianggap baik-baik saja. Padahal, ada anak yang berprestasi akademik namun menyimpan kecemasan yang berat, dan ada anak yang nilainya biasa saja namun justru sangat butuh perhatian ekstra.

  3. Stigma tentang konseling. Masih banyak yang berpikir bahwa "pergi ke BK" berarti anak bermasalah atau nakal. Padahal konseling bukan hukuman, ia adalah layanan yang seharusnya tersedia untuk semua anak, bukan hanya yang sudah bermasalah.

Di sekolah dasar, guru kelaslah yang paling banyak berinterkasi dengan siswa. Mereka hadir setiap hari, tahu perubahan perilaku sekecil apa pun, dan sering menjadi orang dewasa paling dipercaya oleh anak yang kadang bahkan melebihi orang tua.

Bukan berarti guru kelas harus menjadi psikolog. Tapi mereka perlu memiliki kepekaan dan keterampilan dasar untuk menjadi jembatan pertama antara anak yang sedang berjuang dan bantuan yang mereka butuhkan.

Layanan bimbingan dan konseling di sekolah dasar bukan program tambahan yang boleh ada boleh tidak. Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 secara eksplisit mengatur bahwa layanan BK berlaku sejak jenjang pendidikan dasar. Artinya, setiap anak SD berhak mendapatkan layanan ini.

Namun antara regulasi dan realita, masih ada jurang yang lebar. Banyak SD terutama di daerah terpencil yang tidak memiliki konselor profesional. Anggaran untuk layanan BK sering kali menjadi yang pertama dipangkas. Dan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental anak masih belum merata di kalangan pendidik maupun orang tua.

Padahal investasi dalam kesehatan emosional anak sejak dini adalah investasi paling efisien yang bisa kita lakukan. Masalah yang ditangkap dan ditangani sejak kecil tidak perlu berkembang menjadi krisis yang jauh lebih besar dan lebih mahal untuk diselesaikan di kemudian hari.