Hal Kecil di Kelas yang Bisa Membuat Siswa Enggan Berbicara

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Azalia Davina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernah melihat siswa yang mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan, tetapi akhirnya memilih diam karena ucapannya dipotong orang lain? Atau siswa yang sedang menyampaikan pendapat, tetapi belum selesai berbicara sudah disela oleh teman sekelasnya? Kejadian seperti ini mungkin terlihat biasa. Namun, jika terus dibiarkan, kebiasaan sederhana tersebut dapat memengaruhi keberanian siswa untuk berbicara di kelas.
Sekolah sering mendorong siswa agar aktif bertanya, menjawab pertanyaan, dan menyampaikan pendapat. Keaktifan bahkan kerap dianggap sebagai tanda bahwa siswa memiliki semangat belajar. Namun, ada satu hal yang terkadang luput dari perhatian: siswa tidak hanya membutuhkan keberanian untuk berbicara, tetapi juga kesempatan untuk didengarkan.
Ketika Pendapat Siswa Tidak Mendapat Ruang
Tidak semua siswa memiliki keberanian yang sama ketika berbicara di depan orang lain. Ada siswa yang dengan mudah mengangkat tangan, sementara siswa lainnya membutuhkan waktu lebih lama untuk menyusun kata-kata. Sebagian mungkin sudah mengetahui jawabannya, tetapi masih ragu untuk mengungkapkannya.
Dalam situasi seperti ini, respons orang-orang di sekitarnya menjadi penting. Ketika seorang siswa sedang berbicara lalu dipotong, ditertawakan, atau langsung dianggap salah, ia bisa merasa tidak nyaman. Apalagi jika kejadian tersebut berlangsung di hadapan banyak teman.
Tentu saja, satu kejadian tidak selalu membuat siswa kehilangan kepercayaan diri. Namun, jika pengalaman serupa terjadi berulang kali, siswa mungkin mulai berpikir bahwa berbicara bukanlah pilihan yang nyaman. Mereka akhirnya memilih diam, bukan karena tidak memiliki pendapat, melainkan karena merasa lebih aman untuk tidak menyampaikannya.
Hal ini patut menjadi perhatian karena siswa yang diam belum tentu tidak memahami pelajaran. Bisa jadi, mereka hanya membutuhkan waktu, dorongan, dan suasana yang mendukung agar berani mengungkapkan pikirannya.
Kebiasaan Kecil yang Sering Dianggap Biasa
Memotong pembicaraan terkadang dilakukan tanpa niat buruk. Teman sekelas mungkin terlalu bersemangat untuk menjawab, sedangkan guru bisa saja ingin segera meluruskan jawaban yang kurang tepat. Akan tetapi, niat yang baik tidak selalu membuat dampaknya menjadi positif.
Ketika siswa belum selesai menjelaskan, sebaiknya orang lain memberikan kesempatan terlebih dahulu. Jika jawabannya kurang tepat, guru tetap dapat memberikan arahan dengan cara yang membangun. Dengan begitu, siswa memahami kesalahannya tanpa merasa dipermalukan.
Kebiasaan mendengarkan juga perlu dibangun di antara sesama siswa. Menghargai teman yang sedang berbicara, tidak menertawakan jawaban, dan menunggu giliran merupakan tindakan sederhana yang dapat menciptakan suasana kelas lebih nyaman.
Hal-hal tersebut mungkin tidak terlihat seperti bagian penting dari pembelajaran. Padahal, suasana kelas tidak hanya dibentuk oleh materi dan metode mengajar, tetapi juga oleh cara setiap orang memperlakukan satu sama lain.
Berani Berbicara Dimulai dari Kesempatan untuk Didengarkan
Meminta siswa agar lebih aktif tentu tidak cukup jika mereka belum merasa nyaman untuk menyampaikan pendapat. Keberanian berbicara perlu didukung oleh lingkungan yang memberi ruang bagi siswa untuk mencoba, termasuk ketika jawaban mereka belum benar.
Guru dapat memulainya dengan memberikan waktu kepada siswa untuk menyelesaikan jawabannya. Sementara itu, siswa dapat belajar menghargai pendapat teman meskipun berbeda dengan pemikirannya. Langkah sederhana ini tidak membutuhkan fasilitas khusus, tetapi membutuhkan kesadaran dan kebiasaan yang konsisten.
Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang seberapa banyak materi yang berhasil dipahami siswa, tetapi juga tentang bagaimana mereka belajar menyampaikan pikiran dan menghargai orang lain. Siswa perlu mengetahui bahwa kelas merupakan tempat untuk belajar, bukan tempat yang membuat mereka takut melakukan kesalahan.
Terkadang, hal yang membuat siswa lebih berani bukanlah pujian besar atau dorongan yang berulang-ulang, melainkan kesempatan sederhana untuk menyelesaikan kalimatnya tanpa dipotong. Sebab, sebelum meminta anak berani berbicara, kita perlu memastikan bahwa mereka memiliki ruang untuk didengarkan.
