Begini Neurosains Membuktikan Kekuatan Affirmasi Positif

B.Ed English UNIM Bone. Muhammadiyah Student Association
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sekar Azhari Risdiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Believe you can and you're halfway there
Theodore Roosevelt.
Kita sering mendengar kutipan-kutipan motivasi seperti ini. Atau, yang lebih familiar, "jika kau berpikir kau bisa, maka kamu akan bisa". Bagi sebagian orang, kalimat-kalimat ini mungkin hanya dianggap sebagai bualan kosong atau kata-kata manis dari motivator.
Tapi siapa sangka, ungkapan ini ternyata punya dasar ilmiah yang kuat dan berhubungan erat dengan cara kerja otak kita. Ini bukan sekadar kata-kata, melainkan sebuah prinsip yang terintegrasi dengan neuroscience.
Mengenal Sistem Pengaktifan Retikuler (SPR)
Dalam buku "The Answer" karya Allan dan Barbara Pease, dijelaskan bahwa pada pertengahan abad ke-20, tepatnya tahun 1949, para fisiolog menemukan sebuah struktur di dalam otak yang mengatur kesadaran, kewaspadaan, dan motivasi.
Dua peneliti, H.W. Magoun dan Giuseppe Moruzzi, saat mempelajari mekanisme tidur-bangun, menemukan sebuah sistem di batang otak yang mereka sebut Sistem Pengaktifan Retikuler (SPR) atau Reticular Activation System (RAS).
Tugas utama SPR sangat krusial: menyaring informasi. Dalam satu detik saja, otak kita dibanjiri oleh jutaan informasi dari panca indera. Tanpa SPR, kita akan kewalahan dan tidak bisa fokus. Oleh karena itu, SPR bertindak sebagai "filter" yang hanya membiarkan informasi yang dianggap penting atau relevan untuk kita.
Bagaimana Pikiran Memengaruhi Kenyataan?
SPR inilah yang menghubungkan antara apa yang kita pikirkan dengan apa yang kita lihat di dunia nyata. Ini mirip dengan konsep law of attraction, di mana pikiran positif maupun negatif dapat memengaruhi realitas yang kita alami.
Allan dan Barbara Pease memberikan contoh sederhana:
Coba pikirkan semua benda berwarna merah di sekitarmu. Setelah itu, lihatlah sekeliling. Seketika, otakmu hanya akan berfokus pada benda-benda berwarna merah. Contoh lain, saat kamu mencari kaus kaki cokelat yang hilang, otakmu secara otomatis akan menampilkan semua kemungkinan lokasi kaus kaki itu berada, dan bahkan membuatmu lebih peka terhadap benda-benda lain yang berwarna cokelat.
Ini adalah bukti bagaimana SPR bekerja. Ia mengarahkan perhatian kita pada apa yang kita pikirkan dan inginkan. Apa pun yang menjadi fokus utama dalam pikiran, itulah yang akan lebih sering kita lihat dan temukan di dunia nyata.
Bukan Sekadar Kata-Kata Tenang
Penulis sendiri pernah mengalaminya. Saat bertekad kuat untuk melanjutkan studi, persiapan dimulai dengan belajar bahasa Inggris. Secara ajaib, fokus pada tujuan memicu serangkaian kejadian. Algoritma media sosial pun ikut berubah, menampilkan rekomendasi kursus dan informasi beasiswa. Hingga akhirnya, penulis menemukan brosur beasiswa belajar bahasa Inggris intensif di Malang. Berkat Sistem Pengaktifan Retikuler (SPR), penulis menjadi lebih sensitif terhadap informasi itu hingga berhasil lolos seleksi.
Hal ini seolah mengonfirmasi perkataan Paulo Coelho dalam bukunya Sang Alkemis:
Jika kau menginginkan sesuatu, maka seluruh alam semesta bekerja sama membantumu meraihnya.
Intinya, afirmasi positif bukan sekadar kata-kata penenang diri. Itu adalah instruksi yang kita berikan kepada otak. SPR akan bekerja keras membantu kita melihat dan mengambil peluang menuju tujuan tersebut, membuat kita lebih peka terhadap informasi yang relevan, sehingga kita bisa mencapainya.
