Konten dari Pengguna

Membedah Akar Pelecehan: Rasa Malu Membunuh Ilmu Pengetahuan

Sekar Azhari Risdiani

Sekar Azhari Risdiani

B.Ed English UNIM Bone. Muhammadiyah Student Association

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sekar Azhari Risdiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Persoalan pelecehan seksual seakan menjadi residu peradaban yang tak kunjung terkikis. Realitanya, latar belakang pendidikan yang tinggi maupun citra religiositas seseorang tidak lagi menjadi jaminan individu terbebas dari perilaku menyimpang ini. Di tengah maraknya kasus yang muncul, perempuan masih menempati urutan tertinggi sebagai korban—meski kita tidak menutup mata bahwa laki-laki pun bisa mengalami hal serupa. Namun, beban ganda sering kali menimpa korban perempuan; mereka tetap berada di posisi yang rentan terhadap penyalahan (victim blaming). Fakta menunjukkan bahwa berpakaian sopan dan tertutup sekalipun tidak mampu membendung niat pelaku jika kontrol diri tidak pernah diajarkan.

Secara neurosains, kita mungkin bisa dengan mudah mengakses literasi mengenai bagaimana otak pelaku bekerja. Platform digital seperti YouTube bahkan telah menyediakan ilustrasi yang memadai. Namun, satu hal yang harus disadari: pelaku tidak akan berubah hanya melalui rentetan cacian atau kritik sosial. Mereka membutuhkan kesadaran internal yang mendalam. Pertanyaannya, dari mana kesadaran dan kontrol diri itu berasal jika kita sendiri masih enggan membicarakan akarnya?

Ilustrasi Edukasi Seksual di sekolah. Foto: Tima Miroshnichenko/Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Edukasi Seksual di sekolah. Foto: Tima Miroshnichenko/Pexels.com

Kurikulum yang Hanya di Atas Kertas

Sejujurnya, materi mengenai seksualitas bukanlah hal baru; materi ini sudah ada dalam kurikulum pendidikan kita sejak lama. Namun, masalah fundamentalnya terletak pada implementasi. Di ruang-ruang kelas, edukasi seksual sering kali disampaikan dengan setengah hati atau bahkan "diloncati" karena dianggap tabu oleh pengajar maupun peserta didik.

Kita terjebak dalam rasa malu yang salah tempat. Ironis ketika seorang pendidik yang mencoba mengupas materi seksualitas secara gamblang demi ilmu pengetahuan justru berakhir dihujat dan dianggap vulgar oleh masyarakat. Ketakutan akan stigma sosial ini membuat para pendidik memilih bermain aman. Guru-guru akhirnya lebih memilih "aman secara sosial" daripada "efektif secara edukasi". Akibatnya, pembelajaran tidak pernah mencapai akarnya, dan siswa kehilangan kesempatan untuk mendapatkan navigasi moral serta logika yang sehat terkait tubuh mereka sendiri.

Ilmu Pengetahuan vs Moralitas Semu

Edukasi seksual adalah bagian dari sains yang menuntut kejujuran intelektual. Sudah saatnya kita berhenti memandang penjelasan ilmiah sebagai sesuatu yang "kotor". Memilih untuk tetap "malu-malu" dalam membahas edukasi seksual secara benar di sekolah dan rumah, sama saja dengan membiarkan generasi muda mencari informasi sendiri di ruang gelap internet tanpa filter yang benar.

Peran orang tua dan sekolah harus bersinergi. Orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk mendidik anak sejak dini tanpa harus memanjakan kesalahan perilaku mereka. Di sisi lain, institusi pendidikan harus memberikan dukungan penuh bagi guru untuk menyampaikan materi seksual secara detail dan berpendidikan. Rasa canggung saat mendengarkan edukasi seksual saat ini jauh lebih terhormat daripada menanggung malu akibat perilaku menyimpang yang menghancurkan masa depan di kemudian hari.

Ilustrasi Solusi Mutakhir Edukasi Seksual. Foto: Markus Winkler/Unsplash.com

Munculnya hasrat seksual adalah dorongan biologis yang normal bagi manusia. Namun, dorongan ini membutuhkan solusi mutakhir dan edukasi yang presisi agar dapat terkelola dengan baik secara psikis dan sosial, sebelum termanifestasi menjadi tindakan pelecehan yang nyata. Sudah saatnya kita memecah kebisuan ini demi perlindungan generasi yang lebih baik.