Menjembatani Kesenjangan: Pendidikan di Ujung Pulau

B.Ed English UNIM Bone. Muhammadiyah Student Association
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sekar Azhari Risdiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Education is the most powerful weapon which you can use to change the world” – Nelson Mandela, Presiden ke-9 Afrika Selatan.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi tantangan unik dalam berbagai sektor, termasuk pendidikan. Visi Indonesia Emas 2045 berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia secara merata melalui pendidikan, sebuah harapan besar yang harus diwujudkan mengingat adanya ketimpangan yang masih terjadi. Perbedaan akses pendidikan antara daerah terpencil dan perkotaan tetap menjadi jurang yang memisahkan kita.
Di Halmahera Selatan, yang terdiri dari tiga puluh kecamatan dengan 249 desa—di mana 70% di antaranya merupakan pulau kecil—akses pendidikan menjadi tantangan nyata. Menyeberangi lautan untuk mengenyam pendidikan bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi simbol perjuangan bagi anak-anak yang ingin menggapai masa depan lebih baik. Menurut data Badan Pusat Statistik Kabupaten Halmahera Selatan, terdapat 58 SMA, 120 SMP, dan 275 SD yang tersebar di berbagai pulau. Namun, perguruan tinggi hanya ada dua, dan keduanya berlokasi di ibu kota, Bacan.
Meskipun sarana pendidikan tersedia, kualitas pembelajaran masih jauh dari ideal. Tidak jarang dosen tidak hadir tanpa pemberitahuan, menambah kesulitan bagi mahasiswa yang telah menempuh perjalanan panjang demi mendapatkan ilmu. Situasi ini mencerminkan kebutuhan mendesak akan kebijakan yang lebih adaptif dalam meningkatkan akses dan kualitas pendidikan di daerah kepulauan.
Revitalisasi Pendidikan: Dari Asah Pedagogik hingga Bangun Ekosistem Akademik
Menajamkan Kompetensi Pedagogik Guru
Dalam masa pertumbuhan intelektual anak, kualitas pengajaran menjadi faktor krusial. Guru yang berkualitas tidak sekadar menyampaikan materi, tetapi juga memahami kebutuhan setiap siswa dan menyesuaikan metode pembelajaran.
Sayangnya, terdapat fenomena di mana seseorang menjadi guru bukan karena panggilan hati, melainkan karena keterbatasan pilihan profesi. Hal ini berpotensi menghambat kualitas pembelajaran. Guru yang sudah berusia tua menghadapi tantangan relevansi metode mengajar dengan psikologi anak masa kini, sementara guru yang masih muda sering kali kurang memiliki pengalaman dan konsep mengajar yang matang.
Evaluasi berkala terhadap guru mutlak diperlukan. Pengembangan kompetensi melalui pelatihan seperti micro teaching harus diperbarui secara berkelanjutan untuk menyesuaikan dengan kondisi dan perkembangan zaman. Kepala Dinas Halmahera Selatan aktif melakukan kunjungan ke sekolah, tetapi pengawasan ini harus konsisten dan dibarengi dengan program pelatihan yang terarah.
Mewujudkan Transparansi Pengelolaan Dana Pendidikan
Kurangnya transparansi dalam pengelolaan dana BOS di Halmahera Selatan menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan masyarakat. Beberapa sekolah menghadapi dugaan penyalahgunaan anggaran, seperti SDN 85 yang diduga mengalami penggelapan dana sejak 2022 hingga 2024, serta SDN 26 yang dana BOS tahap 1 dan 2 tahun 2024 tidak dialokasikan sesuai aturan, berdampak pada pembayaran gaji guru honorer.
Menyikapi hal ini, pemerintah dan masyarakat memiliki peran krusial dalam memastikan efektivitas penggunaan anggaran pendidikan. Salah satu langkah yang telah dilakukan adalah pelibatan masyarakat dalam pengawasan dana BOS, sebagaimana difasilitasi oleh Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Inovasi dan Daya Saing, Ananto Kusuma Seta. Namun, upaya ini masih perlu diperkuat dengan regulasi transparansi yang lebih ketat serta peningkatan pengawasan berbasis teknologi.
Menghidupkan Vibrasi Kota Pelajar
Pembangunan infrastruktur di ibu kota Halmahera Selatan tengah berjalan, tetapi harus selaras dengan peningkatan sumber daya manusia agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Pemerintah daerah dapat mendorong ekosistem pendidikan dengan mengadakan seminar rutin dan kompetisi akademik tingkat kabupaten, seperti cerdas cermat dan debat bahasa Inggris. Selain meningkatkan keterampilan berpikir kritis, kompetisi ini juga dapat membangun kepercayaan diri siswa serta memberikan apresiasi berupa beasiswa bagi mereka yang berprestasi.
Selain itu, keberadaan perpustakaan daerah perlu dioptimalkan. Lokasinya yang kurang strategis menyebabkan aksesibilitas rendah, sehingga diperlukan gerakan literasi yang lebih inovatif dan konsisten. Kegiatan membaca buku di tepi pantai yang sebelumnya sempat dilakukan staf perpustakaan dapat menjadi program reguler dengan cakupan lebih luas, melibatkan berbagai komunitas dan segmentasi pembaca.
Kesimpulan
Pendidikan di daerah kepulauan bukan sekadar tentang penyediaan fasilitas, tetapi juga tentang bagaimana memastikan ekosistem akademik yang sehat dan berkelanjutan. Status daerah 3T bukanlah identitas yang harus dipertahankan, melainkan tantangan yang harus dipecahkan melalui langkah konkret. Regulasi, pengawasan, evaluasi guru, serta program literasi harus berjalan selaras agar masyarakat benar-benar merasakan dampak dari peningkatan kualitas pendidikan.
