Pemimpin Ambidextrous: Pendobrak Stagnasi Birokasi

ASN dan Mahasiswa Magister Ilmu Administrasi Universitas Indonesia
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Azis Untung Priyambudi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada masa ketidakpastian ekonomi global saat ini, birokrasi Indonesia menghadapi paradoks yang rumit. Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa tingkat pengunduran diri sukarela (quits rates) stabil di angka 2%, sebuah sinyal bahwa pekerja kini lebih memilih memeluk erat pekerjaan mereka demi keamanan. Singkatnya, fenomena ini kerap disebut dengan job hugging.
Jika ditarik di tubuh birokrasi Indonesia, kejadian ini sangat menarik dan relevan. Di satu sisi, sektor publik dibanjiri oleh talenta yang ingin masuk, namun di sisi lain, ada ancaman risiko stagnasi pegawai yang takut keluar tetapi enggan berkarya. Kursi ASN terisi penuh, absensi nihil, namun roda birokrasi macet akan inovasi. Masalah utamanya bukan hanya pada pegawai yang mencari aman, melainkan juga pada kurangnya peran pemimpin dalam mengelola pegawai yang stagnan.
Mengutip Peter G. Northouse dalam Leadership: Theory and Practice (2019), kepemimpinan adalah proses di mana individu memengaruhi sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. Namun, ketika pengikutnya terjebak dalam zona nyaman, gaya kepemimpinan transaksional yang kaku yang hanya berfokus pada pertukaran tugas dan gaji tidak lagi relevan.
Pemimpin Ambidextrous: Menyeimbangkan Eksplorasi dan Eksploitasi
Birokrasi selama ini fokus pada eksploitasi (efisiensi, kepatuhan prosedur, rutinitas), namun minim eksplorasi (inovasi, pengambilan risiko, pencarian makna kerja baru). Akibatnya, ASN yang melakukan job hugging merasa nyaman karena sistem hanya menuntut mereka untuk taat aturan (eksploitasi), bukan menciptakan nilai (eksplorasi).
Hal ini sesuai dengan riset terbaru dari Muhammad et al. (2025) dalam Multi-level analysis of ambidextrous leadership, yang mana mendefinisikan kepemimpinan ambidextrous sebagai kemampuan pemimpin untuk memfasilitasi dua perilaku yang bertentangan namun saling melengkapi.
Pertama, Opening Behavior, singkatnya, adalah perilaku pemimpin dalam mendorong pegawai untuk bereksperimen hingga berpikir out of the box. Kedua yaitu, Closing Behavior, perilaku yang lebih menekankan pada pengambilan tindakan korektif, menetapkan target spesifik, dan memonitor kepatuhan aturan.
Dalam konteks job hugging, pemimpin birokrasi cenderung belum maksimal dalam melakukan opening behavior. Realitanya, pegawai birokrat saat ini terjebak dalam rutinitas (closing) yang berdampak pada penurunan motivasi intrinsik.
Melawan Stagnasi dengan Inovasi
Dalam penelitiannya, Muhammad et al. (2025) juga menekankan bahwa kepemimpinan ambidextrous memberikan pengaruh terhadap perilaku inovatif (Innovative Work Behavior)
Oleh sebab itu, ketika seorang pemimpin mampu menerapkan sisi eksplorasi, ia dapat mengubah job hugger yang pasif menjadi kontributor aktif. Pemimpin tidak sekadar membiarkan pegawai merasa aman atas jabatannya, tetapi memberikan tantangan untuk mencari solusi baru. Tanpa intervensi kepemimpinan ini, birokrasi hanya akan menjadi tempat parkir bagi talenta yang terjebak pada zona nyaman.
Selain itu, dalam model kepemimpinan tradisional, beban kerja sering ditumpuk pada mereka yang rajin. Namun, pemimpin ambidextrous tahu kapan harus memberi tugas rutin dan kapan harus memberi ruang otonomi bagi talenta terbaik untuk berinovasi, sehingga distribusi beban menjadi lebih adil dan bermakna.
Arah Baru Pengembangan SDM Birokrasi
Northouse (2019) mengingatkan bahwa kepemimpinan yang efektif harus adaptif terhadap situasi. Fenomena job hugging menuntut pemimpin yang bisa menjadi jaring pengaman sekaligus pendorong kemajuan.
Oleh karena itu, pengembangan SDM sektor publik tidak boleh lagi hanya fokus pada pelatihan teknis ASN, tetapi juga pada penciptaan pemimpin ambidextrous. Organisasi membutuhkan pejabat yang mampu memberikan rasa aman psikologis, sekaligus berani mendobrak stagnasi dengan tantangan inovasi.
Lebih lanjut, job hugging adalah realitas ekonomi yang tak bisa ditolak, namun stagnasi adalah sebuah pilihan. Organisasi tidak bisa memaksa pegawai untuk keluar (resign), tetapi bisa memaksa pegawai untuk terus bertumbuh.
Jika pemimpin birokrasi mampu menjadi "ambidextrous", maka fenomena pegawai yang "memeluk erat" pekerjaannya ini bisa diubah menjadi kekuatan loyalitas yang produktif, bukan sebagai beban negara yang pasif.
