Konten dari Pengguna

Cerita Cintaku yang Abu-abu: It's My First Love (1)

Azis Saputra

Azis Saputra

Renewable Energy Engineer

·waktu baca 5 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azis Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi masa SMA (Sumber: Pexels.com/cottonbro)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi masa SMA (Sumber: Pexels.com/cottonbro)

Cinta merupakan hal yang sangat misterius bagi saya. Sampai detik ini, saya masih kesulitan dalam menemukan arti cinta yang sesungguhnya. Bukan orang yang romantis, bukan pula orang yang puitis, namun hari ini saya akan coba membagikan pengalaman saya merasakan pahit dan manisnya cinta.

Sebelumnya kalian apa kabar? Semoga selalu sehat dan semangat dalam menjalani hari-hari yang melelahkan tak berujung. Pagi ini saya terbangun dengan satu hal yang membakar hati saya seakan berkata "ayo tuangkan semua yang menjadi beban ke dalam tulisan." Ya, baiklah, saya akan coba.

Bercerita sedikit tentang hari-hari belakang ini, minggu lalu saya merasa menjadi orang paling produktif sejagat. Berpikir di malam hari, menulis di pagi hari, saya tidak pernah absen untuk publikasi tulisan ke media online setiap hari dalam sepekan penuh. Saya kira saya kuat, ternyata setelah itu saya sakit selama 2 hari hingga pagi ini kembali pulih untuk kembali menulis.

Jika kalian bertanya apa yang membuat saya menulis, jawabannya gala. Tentunya bukan ya, saya bukan mayang anaknya Pak Dodit. Membahas alasan dibalik tulisan saya mungkin tidak akan habis jika kita bahas di sini, butuh satu artikel khusus sepertinya. Tapi yang pasti ada cinta yang mendorong saya untuk menulis.

Cinta itu banyak bentuknya. Cinta terhadap bidang ilmu tertentu contohnya. Hal ini yang menjadi salah satu pendorong saya dalam menulis 10 artikel yang sudah terpublikasi di media. Namun pada pagi yang cerah ini saya akan mengerucutkan pembahasannya menjadi lebih sempit lagi. Yaitu rasa cinta kepada seseorang yang tidak punya ikatan keluarga, orang asing, beda jenis kelamin tentunya, tapi rasanya sudah seperti ledakan nuklir rusia.

Tak pasti kapan saya pertama kali merasakan hal tersebut. Yang saya ingat ketika SD kelas 4, ada seorang anak perempuan yang mengatakan bahwa dia mencintai saya. Sayangnya saat itu saya belum mengetahui arti perkataan tersebut. Jadinya saya tidak menggubris anak perempuan tersebut.

Tumbuh semakin dewasa, waktu sekolah dasar dan menengah pertama saya diisi dengan cinta monyet yang sungguh sangat lucu jika dipikirkan hari ini. Bisa-bisanya cinta hanya digunakan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Pengakuan bahwa saya bisa mendapatkan perempuan tersebut.

Akhirnya, masa SMA membawa saya menjadi pribadi yang sangat jauh berbeda. SMA saya adalah sekolah yang sangat unik. Membentuk pemimpin masa depan dengan didikan militer, membangun iman dengan pendidikan pesantren. Sungguh unik bukan, tapi semua yang diajarkan itu saya gunakan hari ini.

Masa SMA ini juga yang membuat saya pertama kali merasakan cinta, katanya. Saat itu saya mengikuti lomba penelitian belia di Jakarta. Total sekolah mengirimkan 5 tim yang masing-masing tim terdiri dari 2 orang dan 1 pembimbing. Total dalam perjalanan Palembang-Jakarta tersebut ada 15 orang.

Lucunya, dari 15 orang tersebut, selama di Jakarta perhatian saya hanya terpusat ke 1 orang saja. Namanya, kita samarkan saja menjadi "Siti." Tidak terlalu tinggi, namun memiliki senyum yang sangat manis, juga sangat sedikit sekali bicara, membuat saya terkagum dibuatnya. Matanya seakan memberikan sinyal yang sangat kuat. Seakan memberi isyarat bahwa dia adalah cinta.

Dipikir-pikir menulis hal seperti ini sedikit menjijikan, tapi mari kita lanjutkan. Selama di Jakarta kami berdua banyak menghabiskan waktu bersama. Bercerita hal-hal tidak penting hingga hal yang paling serius. Akhirnya kami pun pulang ke Palembang dan selama perjalanan kami tetap berbicara seakan tidak ada manusia lainnya.

Kehidupan asrama yang nyata pun dilanjutkan. Sedikit informasi, pacaran adalah hal yang dilarang di asrama saya. Jadi, membagikan cerita ini seperti membuka dosa saya selama SMA. Kehidupan di asrama kami habiskan dengan belajar dan aktivitas lainnya yang menunjang karier kami. Hanya sedikit waktu yang diberikan bagi kami untuk menggunakan HP.

Waktu sedikit itu saya dan Siti gunakan untuk tetap saling mengobrol. Hingga pada akhirnya setelah waktu pendekatan yang cukup lama kami menjadi saling cinta dan berpacaran. Definisi pacaran yang sangat berbeda, karena kami sama-sama anak asrama yang hanya bisa pulang ketika libur semester tiba.

Tidak disangka seseorang seperti saya pada akhirnya bisa merasakan cinta dan menjalin hubungan yang cukup lama. Satu tahun lebih saya bersama Siti. Selama itu juga kami merasakan manis dan pahitnya cinta. Terkadang cinta sungguh menenangkan, namun tak jarang juga gejolak hati merusak kepercayaan.

Namun satu hal yang luar biasa dari Siti adalah dia orang paling sabar di muka bumi ini. Tentu tidak mudah menjalin hubungan dengan orang seperti saya, namun dia memerankannya dengan begitu sempurna. Hal ini juga yang telat saya sadari hingga pada akhirnya harus membuat kami berpisah ketika lulus dari SMA.

Setelah berkuliah, kami tetap menjalin hubungan sebagai teman. Tetap belajar bersama ketika menemukan kesulitan di perkuliahan. Hingga kami benar-benar hilang kontak ketika dia memutuskan untuk mengambil studi kedokteran. Tidak lagi hal yang menjadi alasan bagi kami untuk terus berhubungan. Karena studi yang kami ambil sangatlah berseberangan.

Semakin lama, rasa penyesalan itu pun semakin menjadi-jadi. Hal yang paling bodoh yang saya lakukan adalah menangis karena hanya mendengarkan sebuah lagu. Bukan lagunya, tetapi pikiran yang ada di kepala saya ketika mendengarkan lagu tersebut yang membuat hatinya terasa sangat perih. Nikka Costa - It’s My First Love.

Tak terasa sudah 800 kata sampai saat ini, tentunya akan sangat panjang jika saya lanjutkan pada satu publikasi saja. Tenang, masih ada satu bagian lagi. Namun akan saya jelaskan pada publikasi yang berbeda. Jadi, sampai jumpa di bagian selanjutnya ya.