Cerita Cintaku yang Abu-abu: It's not Happiness, It's a Blue Jeans (2)

Renewable Energy Engineer
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Azis Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cinta, cinta, cinta, capek. Ya, mari kita lanjutkan membahas topik yang menurut saya pribadi sungguh merupakan topik yang sangat berat. Bahkan lebih berat dari isu energi hingga krisis global. Karena tidak pernah tahu ujungnya.
Masih di posisi yang sama, duduk depan pekarangan rumah. Mungkin satu jam yang lalu saya sudah ceritakan tentang pengalaman cinta pertama saya dengan Siti, nama samaran. Cinta yang sangat tulus, sepertinya. Juga orang yang sangat sabar, namun sayangnya saya telat untuk menyadari itu hingga semua hilang untuk selamanya.
Butuh waktu yang sangat lama bagi saya untuk melupakan Siti. Namun karena pada kehidupan sehari-hari saya dikenal sebagai orang yang seru dan konyol, semua itu tidak pernah terlihat. Cukup saya simpan sendiri. Sembari berharap saya bisa memperbaiki keadaan.
Beruntungnya saya dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa. Keluarga yang hangat dan teman-teman yang gokil. Hari demi hari saya lewati dengan senyuman. Hingga hitungan tahun saya belum juga membuka hati untuk cinta lagi.
Di samping itu, teman-teman saya mulai meledek. Ya, seperti pertemanan pada umumnya, mereka sering membuat lelucon tentang saya yang masih saja tidak mau berpacaran. Tapi karena memang mereka tidak tahu cerita di balik itu. Hingga mereka dan bahkan ibu saya menganggap saya tidak normal. Lucu, tapi memang maksud mereka baik dan saya tahu itu.
Untuk melupakan itu semua, saya menyibukkan diri dengan bekerja, berinteraksi dengan banyak orang dan terkadang keluar hanya untuk jalan sendiri juga membantu. Itu bertahan kurang lebih 3 tahun lamanya. Hingga pada akhirnya saya dikenalkan dengan seseorang, sebut saja Putri.
Putri merupakan teman dari adik kelas saya yang cukup dekat. Awalnya saya tidak menggubris niat dari adik kelas saya tersebut. Tapi entah kenapa pada satu ketika saat selesai bermain basket saya berpikir untuk memulai percakapan. Melalui Instagram saat itu saya coba untuk mengirim pesan.
Cukup sulit karena memang sudah lama rasanya untuk tidak berkenalan dengan perempuan. Sulit harus memulai percakapan dari mana. Namun karena ada dorongan untuk menebus semua kesalahan saat masih bersama siti, akhirnya saya mencoba.
Setelah beberapa kali kirim pesan dan beberapa kali juga menghilang, akhirnya ada momen yang membuat kami semakin sering chatting. Ternyata kami menyukai hal yang sama. Mulai dari film-film Marvel, hingga ketertarikan yang sama akan investasi saham.
Setelah gagal dari Siti, saya memang memiliki janji bahwa ketika saya diberikan kesempatan untuk kenal perempuan lagi, maka saya akan memberikan semua yang terbaik. Memperlakukan dia dengan sepenuh hati tanpa ada keraguan sedikitpun.
Singkat cerita kami pun semakin dekat. Saya pun berkesempatan untuk pulang ke Palembang. Saat di Palembang, saya mengatakan sesuatu yang sedikit mengarang. Karena ada film Marvel terbaru, Eternals, saya mengatakan bahwa ingin menemani Putri untuk nonton film tersebut.
Sebagai informasi, Putri tinggal di Lampung dan saya pun telah menonton Eternals sebelumya bersama kakak saya. Sungguh hal yang tidak masuk akan bagi saya untuk nonton lagi dan itu pun di kota Bandar Lampung.
Tapi pada akhirnya saya benar-benar pergi ke Lampung untuk menepati apa yang saya ucapkan. Bagi saya itu suatu prestasi yang besar, karena saya adalah orang yang lebih suka menghabiskan waktu di rumah dan memilih beristirahat ketika memiliki waktu luang.
Pergi ke bioskop, jalan-jalan ke kebun binatang, itulah hal-hal yang membuat kami semakin akrab dan lebih dekat. Semuanya sangat indah dan terasa sangat nyata. Kami pun memutuskan untuk berpacaran.
Semenjak itu, saya semakin memberikan semua yang terbaik dalam diri saya untuk Putri. Bahkan saya dan Putri telah memperkenalkan mami satu sama lain. Jika saya diminta untuk memilih satu lagu untuk menggambarkan perasaan saya saat itu maka lagu itu adalah Happiness - Rex Orange County.
Kami sering menghabiskan waktu untuk video call sambil mendengarkan lagu favorit masing-masing secara bergantian. Saya dengan Rex Orange County dan dia dengan blue jeans-nya. Namun saya pernah berkata bahwa semoga blue jeans tidak pernah menjadi lagu yang menggambarkan hubungan ini.
Saya pun akhirnya pulang ke Jakarta untuk melanjutkan studi. Kini jarak kami pun semakin jauh. Yang awalnya Palembang-Lampung, sekarang Jakarta-Lampung. Tapi itu bukanlah masalah bagi kami. Kami tetap saling berkabar. Hingga pada akhirnya ada kabar yang membuat blue jeans benar-benar menjadi lagu yang menggambarkan hubungan ini.
Untuk sebuah alasan yang tidak masuk akal, Putri memutuskan hubungan ini begitu saja. Saya merasa sangatlah terluka. Pada titik ini, saya kembali menjadi orang yang bodoh. Menjadi terlihat sangatlah lemah karena meneteskan air mata.
Tapi bagian terbodohnya bukanlah air mata tersebut. Melainkan harapan yang masih saya pegang untuk terus membahagiakan Putri. Bahkan saya rela memutuskan untuk pulang ke Palembang karena sekarang Putri sudah mulai berkuliah di Palembang.
Sesampainya di bandara SMB II, saya langsung bergegas untuk menjemput putri karena ia hendak pulang dari Palembang ke Indralaya. Selama di perjalanan saya mencoba tetap menjadi orang yang asik dan memulai beberapa obrolan. Hingga kami sampai dan berbicara di sebuah coffee shop untuk obrolan yang lebih serius.
Saya mencoba mencerna alasan Putri dan berharap semua itu berubah ketika kita berbicara secara langsung. Namun hasilnya nihil. Keputusan dia tetaplah sama. Seketika hari kemarin yang indah menjadi gelap gulita. Saya pun langsung pulang ke Palembang.
Semenjak hari itu saya kembali ke titik untuk tidak percaya dengan cinta. Saya mulai menjadi pribadi yang tertutup untuk satu kata itu. Mulai menyibukkan diri kembali. Salah satunya bergabung bersama program MSIB Gerilya.
Pagi ini saya mendapat pesan dari adik kelas saya tentang Putri. Hal inilah yang kemudian membuat saya tergerak untuk menulis cerita ini. Mencoba menuangkan semua yang saya rasakan ke dalam tulisan. Lega rasanya.
Jika kalian bertanya kondisi saya saat ini maka jawabannya adalah saya merasakan hal lebih dari cinta satu perempuan. Saya dipenuhi cinta keluarga, sahabat, bahkan teman-teman dari Gerilya. Jika dipikir kembali masalahnya ada pada diri saya.
Saya seharusnya bisa lebih bersyukur dan tidak serakah. Saya sudah mendapatkan begitu banyak cinta tapi masih mengharapkan cinta yang lainnya. Sekarang saya berharap bahwa ketika waktunya tiba bagi saya untuk mengenal hal itu lagi. Semoga saya bisa memberikan yang jauh lebih baik dan orang tersebut juga melakukan hal yang sama.
Dan untuk Putri, semoga kamu pada akhirnya menemukan buku dan halaman yang kamu idamkan. Karena sesungguhnya kita tidak hanya berada di halaman yang berbeda. Tetapi kita juga berada pada buku yang jauh berbeda. Dan sekarang saya sadar, It’s not happiness, it’s a blue jeans.
