PLTS VS PLTB: Mana yang Lebih Unggul?

Renewable Energy Engineering student at Prasetiya Mulya University. Creative and innovative researcher. Currently, work as CEMS (Continous Emission Monitoring System) for Faraday Reliable Energy Management.
Konten dari Pengguna
3 November 2022 16:02
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Azis Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Turbin Angin (Sumber: Pexels.com/Narcisca)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Turbin Angin (Sumber: Pexels.com/Narcisca)
ADVERTISEMENT
Berbicara tentang transisi energi tidak selalu tentang energi surya atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Banyak energi terbarukan lainnya yang dimiliki Indonesia. Salah satunya yang terbesar selain PLTS adalah turbin angin atau Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB).
ADVERTISEMENT
Dalam RUPTL 2021-2030, Indonesia menargetkan bahwa pengembangan pembangkit listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) akan mencapai 5,3 GW yang terdiri dari PLTS 4,7 GW dan PLTB 0,6 GW.
Mari kita lihat seberapa besar sebenarnya potensi energi angin di Indonesia dan perbandingannya secara global. Hal ini bisa kita lakukan dengan mengunjungi laman Global Wind Atlas. Dari peta tersebut, bisa terlihat berapa besar potensi energi angin dari kecepatan angin pada wilayah tertentu.
Umumnya, potensi angin dan kecepatan angin diukur pada ketinggian 100 meter dengan mengambil data dari 10% daerah paling berangin di suatu wilayah.
Dari 10% daerah paling berangin di dunia, kecepatan angin rata-rata skala global adalah 10,61 m/s di ketinggian 100 meter. Dari kecepatan angin tersebut didapat potensi sebesar 1330 W/m2. Kecepatan angin paling tinggi dari 2% total daerah paling berangin di dunia adalah 12,43 m/s. Sementara itu jika populasi pengukuran diperbesar menjadi 100%, maka rata-rata kecepatan angin secara global menjadi 6,72 m/s.
ADVERTISEMENT
Di Indonesia sendiri kecepatan angin dari 10% wilayah paling berangin yaitu 4,89 m/s. Dari kecepatan angin tersebut, potensi energi yang dimiliki Indonesia sebesar 144 W/m2. Angka tersebut jauh dibawah potensi secara global, atau hanya 11% saja. Kecepatan angin paling tinggi dari 2% total daerah di wilayah Indonesia adalah 5,91 m/s. Sementara itu jika populasi pengukuran diperbesar menjadi 100%, maka rata-rata kecepatan angin di Indonesia menjadi 2,99 m/s. Itu artinya daerah paling berangin di Indonesia sekalipun masih berada di bawah rata-rata terendah secara global.
Kementerian ESDM mengklaim bahwa Indonesia sendiri memiliki potensi sebesar 60.647 MW. Nusa Tenggara Timur menjadi daerah dengan potensi terbesar yaitu sebesar 10.188 MW. Kecepatan angin di NTT mencapai 6,34 m/s dan memiliki potensi 288 W/m2.
ADVERTISEMENT
Sementara itu turbin angin terbesar di Indonesia berada di Sulawesi Selatan, yaitu Sidrap Wind Farm. Sulawesi Selatan sendiri memiliki potensi sebesar 4.193 MW. Kecepatan angin di wilayah tersebut mencapai 5,98 m/s dengan potensi 277 W/m2. Angka tersebut tidak terlalu jauh jika dibandingkan dengan NTT.
Jika NTT lebih besar, kenapa tidak dipasang di NTT? Sebenarnya banyak faktor yang menjadi pertimbangan. Mulai dari sistem turbin angin, hingga regulasi termasuk pembebasan lahan. Selengkapnya akan kita bahas pada artikel selanjutnya.
Sidrap Wind Farm sendiri memiliki kapasitas 75 MW. Jika dibandingkan dengan potensi yang ada di provinsi tersebut, 75 MW hanya 1,7% atau kurang dari 2% dari potensi yang ada. 75 MW ini terdiri dari 30 turbin angin dengan kapasitas masing-masing 2,5 MW. Memiliki tinggi 80 meter dan diameter turbin 57 meter.
ADVERTISEMENT
Turbin angin ini dipersiapkan untuk mensuplai listrik rumah-rumah masyarakat sekitar. Namun sayangnya belum ditemukan laporan terkait bagaimana perkembangan turbin angin ini. Apakah berjalan sesuai yang diharapkan, atau ada beberapa hal yang perlu dievaluasi selanjutnya. Bahkan Sidrap Wind Farm tidak masuk ke dalam laporan dunia mengenai turbin angin yaitu GWEC Global Wind Report 2022.
Selain kapasitas yang begitu besar, salah satu faktor lain yang menyebabkan perkembangan PLTB lebih lambat dibanding PLTS adalah kekurangan sumber daya manusia. PLTB membutuhkan perawatan yang lebih kompleks jika dibandingkan dengan PLTS.
Jauh dari itu semua, masih banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Mulai dari trilema energi, studi kelayakan secara teknis dan finansial. Detail semua ini akan dibahas pada artikel selanjutnya. Termasuk pembahasan bagaimana perkembangan turbin angin secara global.
ADVERTISEMENT
Sebenarnya baik PLTS ataupun PLTB sama-sama memiliki peran yang penting dalam mencapai bauran EBT di Indonesia. Masing-masing juga memiliki keunggulan dan kekurangan tersendiri. Tinggal bagaimana pengaplikasiannya saja yang perlu diperhatikan.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020