Konten dari Pengguna

Dari Qatar untuk Trump

Aziz Rahhary

Aziz Rahhary

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aziz Rahhary tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam kunjungannya ke Qatar pada 14 Mei 2025 ( YouTube: Reuters).
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam kunjungannya ke Qatar pada 14 Mei 2025 ( YouTube: Reuters).

Dalam kunjungan kerja presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ke negara-negara Teluk selama 3 hari yakni dari 12 Mei-15 Mei 2025 ada satu hal yang menarik perhatian dunia.

Pasalnya dalam kunjungannya ke Doha, Qatar pada 14 Mei 2025, pemerintah Qatar menghadiahi sebuah pesawat jet jumbo mewah yakni Boeing 747-8 yang ditaksir bernilai sekitar USD 400 juta atau sekitar Rp.6,6 triliun dan diberikan secara gratis kepada presiden Amerika Serikat ke 47 itu.

Apa Motifnya?

Perdana Menteri Qatar, Syeikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, mnyatakan bahwa pemberian pesawat tersebut bukanlah hadiah pribadinya untuk Trump. Menurutnya, tindakan ini adalah bagian dari ‘ transaksi antarpemerintah’, dengan tujuan memperkuat hubungan diplomatik antar kedua negara.

Pesawat yang dijuluki sebagai “istana terbang” tersebut, rencananya akan digunakan sebagai pesawat kenegaraan AS selama masa jabatan Trump yakni Air Force One untuk sementara waktu dan akan dipindahkan ke Trump Presidential Library Foundation, saat ia meninggalkan jabatannya.

Bukan tanpa sebab Trump ingin menjadikan pesawat hadiah tersebut sebagai Air Force One, sebelumnya ia telah mengeluh tentang penundaan dan membengkaknya biaya dalam kontrak dengan Boeing tentang pengadaan dua jet baru Air Force One guna menggantikan model lama yang digunakan saat ini.

Selain itu, ia menyindir langkah Partai Demokrat, yang menurutnya menentang adanya penerimaan pesawat jumbo ini sebagai hadiah dan menyoroti usia Air Force One saat ini yang sudah berusia 40 tahun.

“Jadi fakta bahwa Departemen Pertahanan mendapatkan HADIAH, GRATIS, dari sebuah pesawat 747 untuk menggantikan Air Force One yang berusia 40 tahun, untuk sementara, dalam sebuah transaksi yang sangat terbuka dan transparan, sangat menggangu kaum Demokrat yang licik sehingga mereka bersikeras agar kita membayar, dengan HARGA TERTINGGI, untuk pesawat tersebut,” tulis Trump dalam Truth Social.

Menuai Kontroversi

Trump dinilai menabrak aturan yang ada, sejumlah senator kongres dari Partai Demokrat maupun Republik mengkritik penerimaan pesawat tersebut. Mereka menyoroti Emoluments Clause, aturan dalam konstitusi AS yang bertujuan melarang pejabat tinggi negara, termasuk presiden untuk menerima hadiah atau imbalan dari pemerintah asing tanpa persetujuan Kongres.

Senator Rand Paul menyatakan sikap tegas terkait ini. Menurutnya, penerimaan hadiah seperti itu tidak pantas. “ Menurut saya, pesawat itu tidak terlihat bagus atau berbau harum.”, katanya.

Menurut Pemimpin Senat Demokrat, Chuck Schumer, bahwa partainya akan bersikap keras soal ini. Schumer juga menyatakan, Partai Demokrat akan memblokir semua calon pejabat di Departemen Kehakiman yang diajukan Trump.

Penerimaan hadiah tersebut jelas menimbulkan pertanyaan dari kedua belah pihak di Kongres, yang menilai Trump seolah mengabaikan hukum yang dibuat untuk menghentikan korupsi di tubuh pemerintahan.