Deng Xiaoping: Sang Arsitek Kebangkitan China

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Aziz Rahhary tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

China adalah raksasa yang sedang tertidur. Biarkan ia tidur, karena ketika ia bangun, ia akan mengguncang dunia.
- Napoleon Bonaparte
Seperti kata Napoleon Bonaparte, tentang ramalannya bahwa China adalah raksasa yang tertidur. Sebuah perkataan yang telah menjadi kenyataan, China kini telah terbangun dari tidur panjang dan menjadi salah satu negeri adidaya di dunia saat ini.
Seperti sebuah gedung, ia tidak akan bisa berdiri kokoh tanpa adanya rancangan dari seorang arsitek yang mahir. Begitu pun China, kebangkitannya tidak lepas dari sosok Deng Xiaoping, arsitek kebangkitan negeri Sang Naga pada hari ini.
Lalu, siapa sebenarnya sosok Deng Xiaoping yang ternyata menjadi idola presiden Prabowo Subianto, bagaimana ia melakukan perubahan pada perekonomian China, warisannya dalam politik dan kebijakan luar negeri China, dan apa tantangannya?
Masa kecil dan jatuh bangun karir politik
Deng Xiaoping atau Teng Hsiao-p'ing, lahir pada 22 Agustus 1904 di Guang'An, provinsi Sichuan, China. Deng, lahir dari keluarga petani kaya. Sejak kecil, Deng sudah terlihat punya jiwa pemberontak.
Saat usianya 16 tahun, ia dikirim ke Prancis untuk mengenyam pendidikan dan bukan untuk akademis saja, tapi belajar kerasnya hidup di negeri orang sembari bekerja serabutan. Di sana, Deng mulai mengenal Marxisme dan mulai aktif di komunitas komunis Eropa.
Sekembalinya Deng ke China, ia menjadi organisator politik dan militer terkemuka di Soviet Jiangxi, sebuah kantong komunis otonom di barat China yang didirikan pada tahun 1931 oleh Mao Zedong dan kemudian berhasil menjadi figur penting dalam Perang Saudara China.
Perjalanan karir Deng bukan tanpa rintangan, ia berkali-kali telah diasingkan dan dijatuhkan oleh rekan-rekannya sendiri. Namun, Deng tak pernah mundur di tengah segala tekanan dan tetap bertahan.
Hingga akhirnya, Deng berhasil mencapai puncak kekuasaan pada akhir tahun 1970-an ketika ia menjadi pemimpin tertinggi Republik Rakyat China sejak tahun 1978 sampai pada tahun 1992.
Reformasi Ekonomi
Meskipun Deng dikenal sebagai sosok yang sangat praktis dan tidak terlalu berpegang pada teori-teori buku, tetapi ia telah berhasil mengambil langkah cepat di lapangan serta tidak banyak bicara.
Pada tahun 1978, Deng Xiaoping meluncurkan kebijakan 改革开放 (Gaigé kāifàng) atau Reformasi dan Keterbukaan, melalui pengembangan konsep “sosialisme dengan karakteristik Tiongkok” dan ”ekonomi pasar sosialis”. Kebijakan ini dilakukan untuk mengubah sistem ekonomi China, dari ekonomi terencana menjadi sistem ekonomi terbuka dan terdesentrialisasi.
Adapun langkah-langkah utama Deng, dalam melakukan reformasi ekonomi seperti:
- Memperkenalkan Sistem Pasar Bebas: Deng, memperkenalkan berbagai elemen sistem pasar bebas ke dalam ekonomi dengan memperbolehkan perusahaan swasta beroperasi. Kemudian, sistem pertanian kolektif yang sudah diterapkan lalu dihapus dan digantikan dengan sistem tanggung jawab rumah tangga, yang memungkinkan petani menjual hasil panennya di pasar.
- Zona Ekonomi Khusus/Special Economic Zones/SEZ: Deng, mendirikan zona ekonomi khusus di beberapa kota pesisir seperti Shenzhen, Zhuhai, Shantou, dan Xiamen. Di wilayah tersebut investasi asing diperbolehkan dengan aturan yang lebih longgar, guna mendorong masuknya modal asing dan teknologi luar negeri agar dapat meningkatkan pertumbuhan industri serta manufaktur.
- Kebijakan Pintu Terbuka: Di mana, Deng membuka pintu keran China bagi investasi asing, perdagangan, dan pengetahuan teknologi global. Ini dilakukan China, dengan tujuan untuk menarik Perusahaan multinasional untuk menanamkan modal di dalam negeri.
Selain itu, Deng Xiaoping mengusulkan Modernisasi Empat Pilar, kebijakan besar yang bertujuan untuk membawa China keluar dari keterpurukan ekonomi dan menjadikannya negara maju serta mandiri.
Kebijakan ini difokuskan pada empat sektor utama seperti pertanian, industri, pertahanan, serta sains dan teknologi, yang masing-masing dianggap vital bagi kemajuan China dalam jangka panjang.
Tidak peduli kucing putih atau kucing hitam, yang penting bisa tangkap tikus.
- Deng Xiaoping
Diatas adalah salah satu kutipan paling terkenal dari Deng yang mencerminkan sikap pragmatisnya. Deng, tidak peduli apakah kebijakannya berasal dari sistem kapitalis atau sosialis, selama kebijakan itu membawa hasil nyata bagi rakyatnya.
Hasilnya, PDP China mengalami kenaikan 20 kali lipat. Data dari Bank Dunia menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) China sejak tahun 1997 mengalami peningkatan yang sangat pesat.
Pada tahun 1997 angkanya hanya 967,75 miliar US$. PDB China terus mengalami kenaikan yang signifikan pada awal tahun 2000-an, hingga pada tahun 2021 PDB China naik hingga 18,2 Triliun US$ yang sebelumnya tahun 2020 berada pada angka 15 Triliun dan bertahap naik hingga mencapai 18,74 Triliun US$ pada tahun 2024.
Warisan kebijakan politik dan luar negeri
Sepeninggal Deng, ia tidak hanya mewarisi sistem perekonomian yang berhasil membawa China menuju kebangkitan saja. Deng, juga telah mewarisi kebijakan politik dan juga kebijakan luar negeri China yang sebagian masih diterapkan sampai saat ini.
Seperti menurut Gao Zhikai, Direktur China National Association of Internasional Studies dan mantan penerjemah Deng Xiaoping dalam artikelnya pada harian China Daily tanggal 21 Agustus 2014 yang berjudul “Learn from Deng’s Diplomacy”.
Meski Deng telah wafat pada tahun 1997, China masih melanjutkan proses reformasi dan keterbukaan menyeluruh berdasarkan konsep-konsep yang dibuat oleh Deng saat menjadi pemimpin kharismatik China pada tahun 1978.
Gao juga menambahkan, meskipun saat ini China menghadapi situasi dan tantangan internasional yang sangat berbeda dengan masa saat Deng masih menjadi pemimpin China, namun langkah diplomasi China saat ini masih menyandarkan pada kebijakan-kebijakan Deng.
Setidaknya terdapat 4 kebijakan Deng yang sampai saat ini masih terus dilaksanakan dalam praktik kebijakan luar negeri China yaitu:
1. China menghindari setiap upaya perlombaan senjata atau konfrontasi militer
Menurut Deng, bahwa meski terdapat perlombaan senjata, perang dunia tidak akan segera terjadi. Karena itu, Deng memutuskan tidak terlibat dalam perlombaan senjata dan memanfaatkan semaksimal mungkin sumber daya yang ada untuk mengembangkan perekonomian negara daripada menghabiskan waktu untuk memperkuat militernya.
2. China tidak perlu menjadi kekuatan yang dominan (hegemoni)
Meskipun China telah menjadi negara dengan perekonomian terbesar kedua dan dinilai akan melampaui AS pada dekade ini, China tidak harus melakukan ekspansi dan mendominasi negara lain dengan memaksakan nilai-nilai yang dimilikinya kepada negara lain.
3. China senantiasa berdiri kokoh sesuai prinsip
Kebijakan ini pernah dilakukan pada tahun 1980-an, saat Deng bersikeras untuk menerapkan prasyarat untuk memulihkan hubungan diplomatik China-Uni Soviet dengan: menarik mundur pasukan Uni Soviet dari Afghanistan, perbatasan Uni Soviet-China dan perbatasan Mongolia-China, serta penarikan pasukan Vietnam dari Kamboja.
4. China selalu menerapkan Smart Diplomacy
Selain menggunakan hard power untuk urusan luar negeri, China juga menerapkan smart diplomacy dengan memiliki visi, semangat dan sikap bijak dalam mencari Solusi terbaik dalam setiap penyelesaian krisis internasional.
Contohnya saat Deng menyelesaikan kebuntuan dalam negosiasi China-Inggris mengenai masa depan HongKong, serta kebijakannya yang menjauhkan China dalam Perang Irak-Iran pada tahun 1980-an (meski saat itu AS mendesak China untuk mendukung Irak dan menentang Iran).
Hasilnya AS telah terjebak dalam permusuhan di Irak dan Iran, sementara China tetap berhubungan baik dengan keduanya.
Selain itu, Deng juga mewarisi sebuah usulan politik dengan meluncurkan kebijakan 國兩制 (Yīguó liangzhì) atau satu negara, dua sistem. Kebijakan ini bertujuan agar tercapainya persatuan dan reunifikasi China yang terdiri dari Hong Kong, Macau, dan Taiwan kebawah naungan Republik Rakyat China.
Satu negara di sini adalah Republik Rakyat China dengan pemerintah pusatnya di Beijing. Sedangkan dua sistem adalah pemerintahan pusat di Beijing akan menangani kebijakan luar negeri dan pertahanan, tetapi Hongkong, Macau, dan Taiwan dapat membentuk pemerintahannya sendiri dalam status kawasan otonomi khusus.
Tantangan dan jejak kontroversi
Meski Deng telah banyak dipuji atas jasanya dalam mereformasi ekonomi China, namun Deng juga terkenal keras dalam menanggapi protes Tiananmen tahun 1989. Keputusannya menggunakan kekuatan militer untuk menekan para demonstrasi pro-demokrasi telah mencoreng namanya di mata dunia internasional.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar yang datang, seringkali dibayar dengan harga yang sangat mahal.
Terlepas dari jejak kontroversialnya, Deng Xiaoping mengajarkan bahwa perubahan besar tidak harus melalui jalan yang sudah ada.
Deng menciptakan jalannya sendiri, dengan menggabungkan berbagai elemen terbaik dari ideologi berbeda untuk membangun China modern yang berhasil mengangkat jutaan masyarakatnya keluar dari kemiskinan dan membawa China menuju negara superpower.
起來! 不願做奴隸的人們! Qilái! Bùyuàn zuò núlì de rénmen!
Bangkit! Wahai kalian yang tak sudi diperbudak!
把我們的血肉, 築成我們新的長城! Ba women de xiěròu, zhú chéng women xīn de chángchéng!
Dengan darah dan daging kami, mari kita bangun Tembok Besar kita yang baru!
中華民族到了最危險的時候 Zhōnghuá mínzú dàole zuì wéixian de shíhòu
Bangsa Tionghoa telah sampai pada masa tergentingnya
前進! 前進! 前進! 進! Qiánjìn! Qiánjìn! Qiánjìn! Jìn!
Maju! Maju! Maju! Maju!
