Mengenal Teknologi Lie Detector dan Manfaat Bagi Kepolisian Republik Indonesia

Mahasiswa S1 Teknik Telekomunikasi Institut Teknologi Telkom Purwokerto
Tulisan dari Aziz Wahyu Prayoga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apakah kalian tahu tentang alat pendeteksi kebohongan, pernah tidak kalian berpikir kalau mungkin saja kebohongan dapat diketahui, jawabannya mungkin saja, ada loh alat yang mungkin dapat membantu kita agar tahu kebohongan itu terjadi baik yang dilakukan oleh teman atau sahabat kita.
Mengenal lebih lanjut tentang sebuah teknologi ini, saya akan membahas tentang teknologi yang dapat membantu kita untuk mendeteksi sebuah kebohongan, teknologi ini dikenal sebagai alat untuk mendeteksi kebohongan yakni lie detector atau pendeteksi kebohongan merupakan sebuah alat yang diprogram melalui komputer, teknologi ini kerap digunakan untuk membantu kepolisian dalam mengungkap berbagai kasus atau permasalahan, teknologi ini merupakan sebuah inovasi alat untuk mempermudah kepolisian dalam menyelidiki pelaku atau saksi dalam sebuah kejadian guna memperoleh informasi dan keterangan yang akurat dari pelaku, saksi dan korban.
Mengapa sih kok bisa disebut teknologi lie detector, kata tersebut berasal dari bahasa inggris yakni dari kata "lie." yang berarti bohong dan "detector." yang berarti pendeteksi maka lie detector dapat diartikan sebagai alat pendeteksi kebohongan tujuannya untuk mengetahui sebuah informasi berdasarkan fakta, menggali kejujuran dan sebagai pembuktian ketidakbersalahan, sehingga dapat menjadi solusi untuk memecahkan sebuah perkara yang sulit diselesaikan.
Alasannya apa sih kok perlu sangat teknologi ini, karena adanya kemungkinan saksi ataupun pelaku apabila menghilangkan kebenaran suatu peristiwa atau berbohong, jadi peran penting dari teknologi ini yakni untuk membantu meminimalisir terjadinya kebohongan suatu informasi yang disampaikan oleh pelaku atau saksi. Lalu bagaimana sih teknologi ini dapat bekerja? atau bagaimana sih cara kerja teknologi ini, jadi teknologi ini bekerja dengan mendeteksi tekanan darah, helaan napas, detak jantung, denyut nadi dan perubahan fisik penggunanya. Apabila kondisi detak jantung dan denyut nadi berjalan secara normal maka suatu informasi yang disampaikan benar, begitu pun sebaliknya apabila kondisi detak jantung dan denyut nadi bekerja secara tidak normal dan terdapat perubahan fisik, maka suatu informasi yang disampaikan tidak benar atau bohong. Namun masih ada pro dan kontra dari penggunaan teknologi ini, beberapa ahli masih meragukan keakuratan dari teknologi tersebut.
Jadi, akurasi atau ketepatan pada alat pendeteksi kebohongan, menurut American Psychological Association (APA) alat poligraf ini digunakan untuk memantau perubahan yang signifikan dalam tubuh.
Dikutip dari detik.com, dasar dari keakuratan alat pendeteksi kebohongan menurut Profesor Aldert Vrij.
"Alat ini tidak mengukur kebohongan, yang seharusnya jadi inti fungsinya. Konsepnya, pembohong akan menunjukkan peningkatan respons tubuh saat menjawab pertanyaan kunci, sementara orang yang menjawab jujur tidak," jelasnya.
Alat polygraph ini akan memperoleh data sekaligus menganalisis data berupa respons fisiologis manusia melalui sensor yang telah digunakan. Alat ini mulai digunakan pada awal tahun 1924, hingga kini mengalami penyesuaian dengan perkembangan teknologi.
Jadi bagaimana gambaran dari penggunaan teknologi ini? penggunaan teknologi ini digambarkan pada saat kita mengobrol dengan teman atau sahabat kita, misal pada saat kita bertanya tentang suatu hal yang mungkin memang sengaja untuk tidak diberitahukan kepada kita, kemudian teman atau sahabat kita berbohong, sehingga mengatakan hal yang tidak benar atau tidak sesuai dengan hati dan dirinya, semisal kita memberikan pertanyaan kemudian jawaban yang kita terima dari teman kita tidak sesuai dengan hati dan pikiran mereka, sehingga kebohongan jawaban dalam obrolan dapat terjadi.
Maka bisa kita katakan alat ini merupakan inovasi teknologi yang akan membantu kamu mengetahui temanmu ketika mereka berbohong, teknologi yang dirancang menjadi sebuah bentuk yang mudah untuk digunakan, penggunaan teknologi ini biasanya digunakan dibagian tangan, biasanya berupa sarung tangan atau bentuk lain, yang mudah digunakan, sehingga teman kita akan merasakan efek yang akan terjadi dibagian yang telah terpasang lie detector ketika teman atau sahabat kita berbohong, baik reaksi secara langsung atau tidak langsung, teknologi ini juga dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kejujuran pasangan kalian loh, agar dapat makin mengetahui satu sama lain, misal nih kalian bertanya dengan pasangan kalian, apabila ingin mendapatkan jawaban yang sesungguhnya atau jawaban yang benar, maka cobalah untuk menggunakan teknologi ini, maka kalian sendiri akan mengetahui seberapa besar tingkat kejujuran pasangan kalian.
Menurut saya teknologi ini merupakan sebuah inovasi yang dapat bermanfaat tidak hanya untuk kepolisian, tetapi juga hal lain, karena alat ini juga dapat membantu ketika kita ingin mengetahui sebuah kebohongan yang dilakukan oleh seseorang baik teman, sahabat bahkan pasangan kita, sehingga kita dapat mengetahui tingkat kejujuran mereka, teknologi ini juga digunakan konten kreator dalam membuat konten video yang diunggah di media sosial dengan tujuan mengetahui tingkat kejujuran teman atau sahabatnya.
Lalu, bagaimana contoh dari penggunaan teknologi ini, salah satu contohnya yakni penggunaan lie detector dalam konten media sosial, ada beberapa video konten kreator yang menggunakan lie detector sebagai konten di kanalnya, jadi mereka menggunakan alat ini dengan teman atau sahabatnya, kemudian salah satu dari mereka bertanya tentang suatu hal, apabila jawaban dari pertanyaan yang diberikan benar atau tidak maka lie detector akan bereaksi, terkadang pertanyaan tersebut yang dapat mengetahui tingkat kejujuran teman atau sahabat dalam konten mereka.
Lalu, mulai kapan polri menggunakan teknologi ini. Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mulai menggunakan teknologi lie detector pada tahun 1994, lie detector atau alat pendeteksi kebohongan merupakan mekanisme legal yang digunakan untuk membantu polri dalam upaya mengungkapkan sebuah kasus kejahatan di Indonesia. Bareskrim Polri sendiri memiliki alat pendeteksi kebohongan buatan Kanada tahun 2019. Alat tersebut telah diakui oleh asosiasi polygraph Amerika dan diklaim memiliki tingkat akurasi hingga 93% sesuai standar ISO (The International Organization for Standardization) atau IEC 17025. Polri telah memanfaatkan teknologi lie detector dalam berbagai kasus atau perkara, akhir-akhir ini polri menggunakan teknologi lie detector pada kasus pembunuhan berencana Brigadir J.
Kapan sih polri menggunanakan alat ini, salah satu contoh penggunaan teknologi lie detector di kepolisian yakni pada kasus pembunuhan berencana Brigadir J, masing-masing pelaku diperiksa dengan menggunakan teknologi lie detector untuk memperoleh banyak bukti dan memperoleh sebuah informasi yang aktual serta mendeteksi kebohongan yang dilakukan masing-masing pelaku sehingga mempermudah dalam penyelidikan kasus dan memecahkan kasus tersebut.
