Konten dari Pengguna

Saat Hidup Kian Menyesakkan, Ayat Kursi Hadir Mengingatkan tentang Kuasa Allah

azizah rahmawati

azizah rahmawati

Mahasiswi Manajemen Dakwah Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari azizah rahmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mengingat Allah dengan membaca Al-Qur'an (Sumber:https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-tangan-tidak-berwajah-acara-7654909/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mengingat Allah dengan membaca Al-Qur'an (Sumber:https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-tangan-tidak-berwajah-acara-7654909/)

Dalam era modern yang serba cepat ini, banyak individu merasa diharuskan untuk selalu tampil kuat, produktif, dan menguasai segalanya. Media sosial kerap menampilkan berbagai prestasi, sedangkan persaingan semakin intens dan tekanan hidup datang dari berbagai sisi. Dalam arah. Ada kalanya hidup terasa dipenuhi dengan pikiran yang berisik, jantung mudah berdebar, dan dunia seolah bergerak terlalu cepat untuk bisa diikuti. Namun di balik tuntutan untuk selalu nampak baik-baik saja, banyak individu sebenarnya diam-diam berjuang dengan rasa kondisi seperti ini, banyak orang berujung pada rasa cemas, keletihan, dan bahkan kehilangan lelah yang mereka alami, bahkan tanpa sempat mengakuinya.

Di tengah hiruk pikuk kehidupan yang semakin berisik, banyak orang mencari tempat bersandar. Ada yang mencarinya melalui pekerjaan, pengakuan dari orang lain, atau pencapaian yang demi pencapaian. Namun, mengapa hati masih terasa hampa walaupun segala sesuatu tampak sudah dimiliki? Mengapa manusia tetap gelisah meskipun telah memperoleh apa yang selama ini diinginkan?

Lalu, kepada siapa lagi manusia bersandar saat hidup terasa sesak?

Dalam situasi seperti itu, Al-Qur’an menghadirkan pesan yang menenangkan melalui QS Al-Baqarah ayat 163 dan 255. Dua ayat ini menjelaskan siapa Allah sebagai tempat bergantung,sekaligus mengingatkan bahwa manusia tidak menjalani hidup sendirian. Allah itu Sebagai Pusat Kehidupan.

Konsep Ketuhanan dalam QS Al-Baqarah Ayat 163

Dalam QS Al-Baqarah ayat 163, Allah menegaskan bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada sesembahan selain-Nya, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang.

وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُࣖ ۝١٦٣

“Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Secara keseluruhan, ayat ini menegaskan bahwa Allah merupakan Tuhan bagi semua umat, tanpa memandang apakah mereka adalah mukmin, kafir, atau munafik. Hanya Dia yang memiliki hak untuk disembah. Allah menjadi Tuhan bagi seluruh umat manusia, baik yang percaya, tidak percaya, maupun yang berpura-pura beriman, dengan tiada sekutu bagi-Nya dan hanya Dia yang layak untuk disembah. Setiap bentuk ibadah yang ditujukan kepada selain Allah atau yang menyekutukan-Nya tidak akan diterima. Dia Maha Esa dalam eksistensi, sifat-sifat, dan tindakan-Nya, serta satu-satunya Penguasa yang mengatur seluruh jagat raya. Allah juga adalah Maha Pemurah yang memberikan rahmat kepada semua ciptaan-Nya di dunia, dan Dia Maha Penyayang yang khusus memberikan rahmat kepada hamba-hamba-Nya yang taat di kehidupan setelah mati. Penegasan ini menggambarkan bahwa ketuhanan Allah memiliki sifat absolut dan menyeluruh, sehingga mengharuskan pengakuan dari setiap manusia tanpa terkecuali sebagai esensi dari ajaran Islam.

Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan seharusnya tidak tergantung pada penilaian manusia, kekayaan, atau status sosial. Karena bila hal-hal tersebut menjadi acuan utama, hati akan mudah terguncang. Ketika mendapatkan pujian merasa terangkat, dan saat mengalami kegagalan merasa hancur. Ayat ini mengingatkan kita bahwa di tengah banyaknya “dukungan yang tidak nyata,” manusia sebenarnya memiliki tempat untuk bergantung yang tak pernah berubah dan tidak mengecewakan, yaitu Allah Swt. Dia adalah Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya dan selalu membuka jalan bagi setiap yang ingin kembali. Sebagai dukungan dari penegasan itu, Al-Qur’an menyajikan ayat yang menguraikan kebesaran Allah dengan lebih terperinci. Jika dalam QS Al-Baqarah ayat 163 ditegaskan tentang keesaan dan cinta Allah sebagai tempat bergantung bagi seluruh manusia.

Maka dalam QS Al-Baqarah ayat 255, yang juga dikenal sebagai Ayat Kursi, dijelaskan mengenai bentuk kekuasaan, perlindungan, serta sifat-sifat sempurna Allah yang menjadi pondasi bagi ketenangan seorang hamba. Ayat ini merupakan salah satu penjelasan yang paling kuat tentang siapa Allah dan mengapa manusia sejatinya hanya mesti bersandar kepada-Nya.

Tafsir QS Al-Baqarah Ayat 255 (Ayat Kursi): Keagungan Allah dan Ketergantungan Makhluk

Ilustrasi Ayat Kursi dalam Al- Qur'an (Sumber:https://www.pexels.com/id-id/foto/close-up-teks-arab-di-halaman-al-quran-325266/)

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ ۝٢٥٥

“Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Maha tinggi lagi Maha agung.”

Ayat Kursi tidak turun dalam ruang hampa, melainkan menjadi penegasan mendalam tentang hakikat ketuhanan dalam Islam. Setelah manusia diajak memahami berbagai dinamika kehidupan perjuangan, pertentangan, dan keterbatasanAl -Qur’an mengarahkan kesadaran bahwa di balik seluruh peristiwa itu terdapat Zat Yang Maha Mengatur, yaitu Allah.

Allah adalah Al-Hayy (Yang Maha Hidup) dan Al-Qayyum (Yang Maha Berdiri Sendiri). Para ulama menjelaskan bahwa Al-Hayy menunjukkan kehidupan Allah yang sempurna, tidak terbatas, dan tidak akan pernah berakhir, berbeda dengan makhluk yang hidupnya bergantung dan akan mengalami kematian. Adapun Al-Qayyum bermakna bahwa Allah berdiri sendiri tanpa bergantung kepada apa pun, justru seluruh makhluk bergantung kepada-Nya dalam keberadaan, rezeki, dan kelangsungan hidup. Sebagaimana dijelaskan dalam berbagai tafsir, seluruh makhluk tidak mampu berdiri sendiri tanpa pemeliharaan Allah. Dialah yang menciptakan, memberi rezeki, dan menjaga seluruh alam semesta. Bahkan segala bentuk kekuatan dan kemampuan makhluk pada hakikatnya adalah pemberian dari-Nya.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah mengabaikan, tidak pernah mengantuk, dan tidak pernah tertidur. Berbeda dengan manusia yang memiliki batasan dan memerlukan waktu untuk beristirahat, Tuhan selalu mengelola seluruh alam tanpa terputus. Ini mencerminkan kesempurnaan sifat-Nya yang tidak dimiliki oleh makhluk mana pun.

Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Tuhan semata. Dengan kata lain, manusia tidak memiliki apa pun secara total, melainkan hanya sebagai titipan. Konsep ini memperkuat tauhid rububiyah bahwa Tuhan adalah satu-satunya pemilik sekaligus pengatur seluruh alam semesta.

Di samping itu, tiada makhluk yang dapat memberikan syafaat tanpa izin dari Tuhan. Bahkan, mereka yang memberikan syafaat pun berada di bawah otoritas-Nya. Tuhan juga mengetahui segala perkara, baik yang sudah terjadi, yang sedang berlangsung, maupun yang akan datang. Tiada satu pun hal yang terlepas dari pengetahuan-Nya.

Kekuasaan Tuhan digambarkan dengan istilah Kursi, yang mencakup langit dan bumi. Para ulama menafsirkan istilah ini sebagai gambaran luasnya ilmu pengetahuan dan kekuasaan Tuhan yang tak terbatas. Meskipun demikian, Tuhan tidak merasa terbebani sedikit pun dalam menjaga keseluruhan alam semesta, karena Dia Maha Tinggi dan Maha Agung.

Ayat Kursi juga dikenal sebagai ayat paling utama dalam Al-Qur’an sebab mencakup esensi tauhid, keagungan Tuhan, dan keluasan sifat-sifat-Nya. Di dalamnya dinyatakan bahwa hanya Tuhan yang berhak untuk disembah, sedangkan selain-Nya adalah makhluk yang sepenuhnya bergantung pada-Nya.

Apa keutamaan yang membuat satu ayat ini begitu sering dibaca, dihafal, dan dijadikan pegangan dalam keseharian umat Islam?”

Ayat Kursi memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam Al-Qur’an. Bahkan dalam beberapa riwayat, ayat ini disebut sebagai ayat paling agung karena kandungannya yang merangkum inti ajaran tauhid, yaitu keesaan, kekuasaan, dan kesempurnaan Allah.

لِكُلِّ شَيْءٍ سَنَامٌ، وَسَنَامُ الْقُرْآنِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ، وَفِيهَا آيَةٌ هِيَ سَيِّدَةُ آيِ الْقُرْآنِ، هِيَ آيَةُ الْكُرْسِيِّ

Artinya:

“Setiap sesuatu memiliki puncak, dan puncak Al-Qur’an adalah Surah Al-Baqarah, dan di dalamnya terdapat ayat yang menjadi pemimpin ayat-ayat Al-Qur’an, yaitu Ayat Kursi.”(HR.Tirmidzi)

Keistimewaan lainnya terletak pada fungsinya sebagai doa perlindungan. Ayat Kursi diyakini menjadi salah satu bacaan yang menguatkan hati dan menjaga seseorang dari rasa takut, kegelisahan, serta berbagai bentuk gangguan. Karena itu, banyak umat Islam menjadikannya sebagai amalan harian untuk menghadirkan rasa aman secara spiritual.

Dalam praktik keseharian, Ayat Kursi juga sering dibaca pada waktu-waktu tertentu, seperti pagi dan malam hari, serta setelah salat. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa ayat ini tidak hanya dipahami sebagai bacaan, tetapi juga sebagai bentuk dzikir yang menenangkan hati dan menguatkan hubungan seorang hamba dengan Allah.

مَنْ قَالَهَا حِينَ يُمْسِي أَمِنَ مِنْهَا حَتَّى يُصْبِحَ، وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ أَمِنَ مِنْهَا حَتَّى يُمْسِيَ

Artinya:

“Barang siapa membacanya (Ayat Kursi) ketika sore hari, maka ia akan berada dalam perlindungan hingga pagi, dan barang siapa membacanya ketika pagi hari, maka ia akan berada dalam perlindungan hingga sore.”(HR.Ath-Thabrani)

QS Al-Baqarah ayat 163 dan 255 tidak hanya ayat yang sering diulang, tetapi juga merupakan panduan untuk menghadapi era yang sarat dengan tantangan. Ketika dunia terasa berat, Al-Qur’an mengingatkan bahwa Allah itu Tunggal, Penuh Kasih, dan selalu mendampingi hamba-Nya. Di tengah beragam perubahan yang terjadi, bergantung pada Allah menjadi salah satu metode terunggul untuk menjaga ketenangan.