Menciptakan Keberuntungan dalam Hidup

Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Andalas
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Azizah Efpratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menciptakan keberuntungan dalam hidup bukan sekadar mitos, melainkan bisa dijelaskan secara ilmiah. Banyak orang masih menganggap keberuntungan hanyalah kebetulan. Ada yang merasa terus ditemani peluang, ada pula yang merasa diselimuti kesialan. Namun, psikologi modern menunjukkan bahwa keberuntungan tidak sepenuhnya acak. Ia bisa dipahami, bahkan diciptakan lewat cara kerja otak manusia.
Di sinilah Bayesian Brain Theory memberi penjelasan menarik. Teori ini melihat otak kita bekerja layaknya “mesin prediksi” yang bisa menebak apa yang akan terjadi, lalu memperbarui tebakan itu berdasarkan pengalaman baru. Semakin kaya pengalaman yang dimiliki, semakin akurat pula otak memperkirakan peluang yang datang. Dengan kata lain, keberuntungan bukan hanya soal nasib baik, melainkan hasil dari kebiasaan memperbarui prediksi melalui langkah-langah nyata.
Keberuntungan Bisa Diciptakan
Bayesian Brain Theory menjelaskan mengapa orang yang merasa dirinya beruntung cenderung benar-benar lebih sering menemukan peluang. Keyakinan bahwa “saya bisa beruntung” membuat otak lebih terbuka, peka terhadap sinyal lingkungan, dan berani mengambil langkah.
Sebaliknya, jika seseorang yakin dirinya sial, otaknya akan memfilter dunia sesuai keyakinan itu, hingga kesempatan lewat begitu saja tanpa disadari. Artinya, cara menciptakan keberuntungan bisa dilatih. Tidak cukup dengan doa atau afirmasi positif, tetapi melalui tindakan nyata:
Mencoba hal baru
Berinteraksi dengan orang asing
Bergabung dengan komunitas
Hingga berani gagal dalam proses.
Setiap langkah kecil memperkaya “dataset otak”, yang pada akhirnya meningkatkan kemungkinan bertemu momen keberuntungan.
Relevansi untuk Gen Z
Bagi Gen Z, cara pandang ini terasa sangat relevan. Terlahir di era digital dengan paparan informasi tanpa batas, mereka terbiasa hidup cepat, menghadapi ekspektasi tinggi, sekaligus sering terjebak dalam perbandingan sosial.
Namun justru di tengah dinamika itu, ruang untuk menciptakan keberuntungan dalam hidup semakin besar. Contohnya:
Dari hobi membuat konten media sosial, bisa terbuka peluang kolaborasi dengan brand.
Dari keberanian ikut komunitas olahraga, muncul pencapaian kesehatan yang sebelumnya tak terbayangkan.
Dari interaksi singkat dengan orang asing, lahir relasi yang berpengaruh pada karier.
Semua itu bukan kebetulan, melainkan hasil dari pola coba–gagal–belajar yang konsisten.
Dari Mindset ke Konsistensi
Bayesian Brain Theory menekankan hubungan erat antara keyakinan, pengalaman, dan peluang. Mindset positif membuat seseorang berani bergerak, keberanian itu melahirkan pengalaman baru, dan pengalaman itulah yang memperbesar probabilitas keberuntungan.
Bagi Gen Z, pesan ini sederhana namun penting. Keberuntungan tidak turun dari langit, tapi bisa diciptakan. Di tengah ketidakpastian zaman, langkah kecil yang konsisten, menjaga rasa ingin tahu, berani berkata “iya” pada kesempatan baru, hingga terus memperbaiki diri adalah cara paling nyata untuk menjemput keberuntungan.
