Konten dari Pengguna

Ketika Imperialisme Budaya Dianggap Keren

Azizan Ananda Salviano

Azizan Ananda Salviano

Mahasiswa ilmu komunikasi di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azizan Ananda Salviano tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penampilan tari tradisional oleh mahasiswi ISI Surakarta, Jawa Tengah (Dok. Azizan Ananda Salviano).
zoom-in-whitePerbesar
Penampilan tari tradisional oleh mahasiswi ISI Surakarta, Jawa Tengah (Dok. Azizan Ananda Salviano).

Waktu ada perempuan yang pakai kebaya selayaknya kebaya Indonesia di suatu acara, banyak yang bilang ‘ih jadul banget.’ Tapi pas ada perempuan yang pakai kebaya ala-ala outfit Korea, semua langsung memuji ‘cantik, cakep,’ hmmmm lagi pada kenapa deh ini budaya

Yakin cuma itu aja yang sering kita alami ?

Nyatanya tidak, apalagi kaum generasi zoomer pasti masih sering mendapat diskriminasi budaya yang distandarisasi dengan kata “Gen Z generasi gaul, generasi modern, masa masih kuno terus nggak ngikutin trend luar.”

Mari kita lihat contoh paling sederhana aja, waktu ada gen z yang senang dengan musik daerah atau tari tradisional selalu dianggap tidak punya selera yang gaul, dianggap terlalu ‘budaya banget’. Lalu apa iya, kalau ngikutin trend luar selalu dianggap keren? Justru trend-trend luar mereka bentuk karena mereka bangga dengan apa yang dimiliki. Lah di Indonesia bukannya bangga dengan budaya sendiri, justru mengagungkan budaya luar.

Anekdot di atas bukan sekadar cerita ringan, tapi gambaran nyata bagaimana budaya lokal kini sering dianggap usang, sementara budaya asing justru dianggap trendy serta yang terbaik.

Imperialisme Budaya yang terjadi di Indonesia

Fenomena ini bukan hal baru, bahkan semakin menguat di era media sosial dan globalisasi saat ini. Inilah wajah baru dari imperialisme budaya, ia hadir bukan dengan paksaan, tapi dengan pujian. Dan ironisnya, kita menerima dengan suka cita. Poin pentingnya yakni budaya kita dijajah lagi, tapi kali ini kita tidak marah.

Berbicara mengenai Imperialisme budaya dapat kita pahami secara mudah dengan melihat penjelasan Rachmad dan Bhakti (2023), bahwa inferioritas atau perasaan rendah diri karena merasa kurang menarik, masih sangat dominan dalam konteks budaya.

Negara Korea selalu dianggap sebagai yang terbaik, memiliki kebudayaan yang menarik, unik dan modern dibanding dengan negara kita sendiri yakni Indonesia. Inferioritas yang terbentuk oleh kalangan Gen Z, justru akan melanggengkan budaya-budaya asing semakin banyak yang masuk ke Indonesia dan jelas akan mereduksi budaya lokal. Tanpa disadari, inilah fakta yang terjadi dalam kebudayaan kita.

Mudahnya, imperialisme budaya terjadi ketika suatu budaya asing masuk, mendominasi dan menggerus nilai-nilai budaya lokal. Masalahnya bukan pada keterbukaan terhadap budaya asing. Masalahnya adalah ketika budaya lokal mulai ditinggalkan, dipandang remeh, bahkan dilupakan, karena dianggap tidak "sekece itu."

Mari kita lihat fenomena “kebaya model Korea” yang dianggap sebagai sesuatu yang lucu dan cantik. Pertanyaanya, mengapa muncul trend kebaya model Korea? mengapa model Korea? dan mengapa harus Korea? bukankah Kebaya merupakan pakaian tradisional asli Indonesia? Tentu fenomena ini menjadi contoh bagaimana budaya lokal sudah tereduksi.

Pada konsep imperialisme budaya, menurut Ocha dkk (2024) mengatakan bahwa terdapat keterkaitan kuat, dimana ketika suatu budaya asing masuk dan memberi pengaruh serta mengubah kebudayaan asli atau ketertarikan masyarakat, maka hal itu masuk kedalam imperialisme budaya. Ini tidak lepas dari pengaruh media massa, dimana negara-negara maju memiliki industri media massa yang sangat kuat untuk mempengaruhi negara lainnya.

Budaya lokal sebagai jati diri bangsa

Penting untuk diingat bahwa budaya asing bukan ancaman selama kita tidak kehilangan jati diri. Ini menjadi bagian dari adanya globalisasi yang memudahkan semua informasi masuk dengan cepat.

Imperialisme budaya bukan lagi soal penjajahan yang terlihat. Ia halus melalui media massa dan bahkan terkadang dibela. Tapi jika dibiarkan terus, semakin lama kita semakin kehilangan budaya sendiri. Budaya lokal tidak boleh hanya menjadi dekorasi seremonial saja. Ia harus hadir dalam keseharian untuk dikenali, dipraktikkan, dan diwariskan.

Tidak ada yang salah dengan mencintai K-Pop, suka melakukan cosplay anime Jepang, atau ikut tren global. Dunia memang makin terbuka, akan tetapi yang perlu menjadi perhatian ketika budaya sendiri dianggap tak layak dibanggakan, dan budaya asing dijadikan standar utama gaya hidup.

Karena pada akhirnya, yang akan membedakan kita dari yang lain bukan siapa yang paling mirip dengan luar tapi siapa yang tetap ingat siapa dirinya sendiri. Maka pertanyaannya bukan lagi “mengapa kita mengikuti budaya asing?” tapi “bagaimana kita bisa tetap menjadi diri sendiri di tengah budaya global?”

Azizan Ananda Salviano

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Sebelas Maret.

Referensi:

Rachmad, A. D., & Bhakti, A. D. P. (2023). Analisis Resepsi Imperialisme Budaya Dalam Film Seri Korea. WACANA: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi, 22(1), 56-68.

Ocha, O., Dilla, R., Dari, P., Gea, R. D., Azmi, N. A., & Putera, A. S. (2024). Analisis Persepsi Mahasiswa Universitas Negeri Padang Terhadap Budaya Pop Jepang dan Peran Media: Perspektif Imperialisme Budaya. Social Empirical, 1(2), 183-191.