Jawa yang Mulai Luntur

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Aziz Rizaldi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jawa Wis Ilang Separone
Sebuah ramalan yang dituturkan oleh Jayabaya. Jayabaya merupakan seorang Raja Kediri yang ramalannya tidak pernah meleset. Di zaman sekarang orang ketika meramal sesuatu yang akan datang tidak dapat dipercaya karena ramalan itu hanyalah bualan. Tetapi tidak dengan Jayabaya. Salah satu ramalannya adalah kreto mlaku tampo jaran yang artinya kereta berjalan tanpa kuda. Sekarang dapat dilihat bahwa kereta besi sudah mengitari pulau Jawa. Itulah salah satu contoh ramalan Jayabaya yang terbukti.
Dengan demikian maka ampuhlah tuturan Prabu Jayabaya ini. Apakah benar beberapa tahun, beratus tahun atau berabad tahun ke depan orang Jawa akan hilang separuh? Dalam tuturan itu dapat ditafsirkan menjadi dua arti. Tafsiran dapat dilihat di paparan berikut.
Pertama, populasi orang Jawa akan hilang separuh. Tapi, apakah mungkin? Menurut penulis mungkin saja. Karena sekarang di Pulau Jawa banyak dihuni oleh orang-orang pendatang, seperti dari Sumatra, Bali, Kalimantan, Ambon, Aceh, bahkan China. Itu tidak dapat dipungkiri karena dengan sistem perkawinan antar suku menyebabkan populasi jawa murni dapat disingkirkan. Apalagi oleh orang China. Dapat dilihat saja sekarang para pengusaha besar, pemilik warung, dan pengangguran di daerah Jawa masih dikuasai oleh orang China. Bahkan penguasa ekonomi di daerah Jawa yang terpencil juga dikuasai oleh pembesar China.
Kedua, orang Jawa masih utuh namun perilaku yang menunjukkan orang Jawa telah mulai punah. Sekarang kita lihat saja pada orang yang ada di sekitar kita terutama pada anak kecil. Orang Jawa yang masih menganut norma-norma yang sudah ditentukan jauh-jauh hari pasti dapat menerapkannya. Tapi, anak kecil sekarang sudah acuh pada nilai kehidupan tersebut. Ketika anak-anak yang masih di bawah umur tengah berkumpul kemudian disapa oleh orang yang lewat di hadapannya mereka terlihat acuh. Apa itu masih mencerminkan kebudayaan Jawa? Itu contoh kecil saja. Bahkan budaya yang sakral seperti pernikahan saat ini telah diubah seperti pernikahan orang-orang luar.
Tetapi, ramalan tersebut masih simpang siur tafsirannya. Apakah yang sesuai dengan ramalan tersebut tafsiran yang pertama? Bisa jadi. Apakah tafsiran yang kedua? Bisa jadi juga. Coba Kita lihat saja 5 atau 10 tahun ke depan manakah tafsiran yang tepat yang akan terbukti.
Untuk menghindari kedua hal tersebut Kita sebagai manusia Jawa yang tumbuh dan besar oleh kebudayaan Jawa maka berusahalah untuk mengamalkan kebudayaan Jawa sesuai yang telah diajarkan. Untuk apa? Hal itu sangat bermanfaat untuk kelangsungan hidupnya budaya Jawa di tanahnya sendiri.
Sekali lagi, kita harus ingat dengan ramalan Prabu Jayabaya tersebut sebagai patokan atau jalan hidup masyarakat Jawa. Mengapa demikian? Itulah satu-satunya cara untuk menyadarkan diri kita semua bahwa sebenaranya kita merupakan manusia yang sudah tinggal di tanah Jawa dan harus mengamalkan norma-norma kejawaan. Mari Kita melakukan revolusi mental dan mulai menyaring budaya luar (westernisasi) yang secara tak sadar masuk. Bila tak bisa disaring maka kita mendekati ramalan Prabu Jayabaya, Wong Jawa Ilang Separone.
Janurai, 2021
