Konten dari Pengguna

Pentingnya Perencanaan SDM Dalam mendukung Perkembangan Perusahaan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azka Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Unsplash / [ Vitaly Gariev ]
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Unsplash / [ Vitaly Gariev ]

Bayangkan sebuah negara dengan lebih dari 7 juta orang menganggur, sementara ribuan lowongan kerja tidak terisi karena ketidaksesuaian kompetensi. Itulah potret ironis ketenagakerjaan Indonesia saat ini. Badan pusat statistik (BPS) mencatat Tingkat pengangguran terbuka (TPT) per Februari 2024 masih berada kisaran di 4,8 persen, dan yang lebih memprihatinkan, Sebagian besar pengangguran justru berasal dari kalangan terdidik lulusan SMA hingga perguruan tinggi. Disisi lain, dunia usaha mengeluh sulit menemukan talenta yang siap pakai. Ada yang salah dalam cara kita merencanakan sumber daya manusia.

Akar persoalan ini bukan hanya semata mata kurangnya lapangan kerja. Persoalan utamanya adalah lemahnya peramalan (forecasting) kebutuhan dan penawaran sumber daya manusia (SDM) di Indonesia. Selama ini, perencanaan tenaga kerja lebih bersifat reaktif menunggu masalah muncul, cari solusi. Kementerian, Perusahaan, dan institusi Pendidikan berjalan sendiri sendiri tanpa peta jalan bersama. Akibatnya, dunia Pendidikan menghasilkan lulusan yang tidak sesuai dengan kebutuhan industri, sementara Perusahaan merekrut berdasarkan kebutuhan jangka pendek tanpa proyeksi jangka Panjang. Perencanaan SDM yang lemah membuat Perusahaan kehilangan arah dalam membangun kompetensi yang tepat.

Dampak yang Tidak Bisa Diabaikan

Lemahnya perencanaan SDM melahirkan tiga dampak serius. Pertama, mismatch atau ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan pasar kerja. Banyak lulusan sarjana bekerja dibidang yang tidak relevan dengan studinya, atau bahkan menganggur karena keterampilannya tidak dibutuhkan. Kedua, Pengangguran terdidik yang terus meningkat, menciptakan frustasi sosial dan hilangnya produktivitas generasi muda. Ketiga, hilangnya peluang ekonomi Perusahaan tidak dapat tumbuh optimal karena kekurangan talenta yang tepat, sementara negara kehilangan potensi pertumbuhan ekonomi yang seharusnya bisa dicapai. Dalam jangka panjang, ketidakmampuan Perusahaan merencanakan SDM akan menurunkan daya saing di Tingkat global.

Lantas, bagaimana seharusnya perencanaan SDM dilakukan? Kunci nya ada pada kemampuan meramal (forecasting) kebutuhan tenaga kerja dimasa depan. Ada dua pendekatan yang saling melengkapi :

  1. Pendekatan kuantitatif yaitu menggunakan data historis, analisis tren, proyeksi pertumbuhan ekonomi, dan model statistik untuk memperkirakan berapa banyak tenaga kerja yang dibutuhkan dalam lima, sepuluh, atau dua puluh tahun ke depan.

  2. Pendekatan kualitatif yaitu menekankan penilaian ahli (expert judgment), wawancara mendalam, dan analisis perubahan teknologi serta preferensi industri.

Kombinasi keduanya memungkinkan Perusahaan tidak hanya mengetahui berapa tenaga kerja yang dibutuhkan, tetapi juga kompetensi apa yang harus dimiliki. Tanpa data yang akurat dan analisis yang tajam, perencanaan SDM hanyalah tebak tebakan belaka.

Beberapa negara telah membuktikan bahwa perencanaan SDM yang matang adalah fondasi kemajuan. Jerman dengan sistem dual vocational training nya berhasil menyelaraskan Pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri, menghasilkan tenaga kerja terampil yang siap kerja dan rendah pengangguran muda. Korea Selatan, secara agresif memetakan kebutuhan industry masa depan dan menginvestasikan sumber daya besar pada Pendidikan STEM serta riset teknologi. Sementara Singapura melalui Skillsfuture memberikan kerangka pembelajaran seumur hidup yang terintegrasi dengan proyeksi kebutuhan ekonomi nasional. Pelajaran pentingnya jelas: Perencanaan SDM yang sistematis, berbasis data, dan melibatkan semua pemangku kepentingan adalah kunci daya saing bangsa.

Jalan Tengah : Kolaborasi Pemerintah, Industri, dan Pendidikan

Solusi tidak bisa datang dari satu pihak saja. Pemerintah perlu membangun sistem informasi pasar kerja yang terintegrasi dan real time, serta menjadikan peramalan SDM sebagai dasar kebijakan ketenagakerjaan dan pendidikan. Industri harus aktif memberikan data dan proyeksi kebutuhan kompetensi kepada lembaga pendidikan, bukan sekadar mengeluh kekurangan talenta. Institusi Pendidikan wajib mendesain kurikulum yang adaptif dan berbasis kebutuhan nyata dunia kerja, bukan sekadar warisan akademik. Kolaborasi tripartit ini harus dilembagakan, bukan sekadar seremonial sesaat.

Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukanlah "berapa banyak tenaga kerja yang tersedia?", melainkan "tenaga kerja seperti apa yang kita butuhkan untuk masa depan?" Perencanaan SDM bukanlah beban administrasi, melainkan investasi strategis bagi perkembangan perusahaan dan kemajuan bangsa. Jika kita terus mengabaikannya, jangan heran jika mismatch dan pengangguran terdidik menjadi warisan yang sulit dihapus. Saatnya perusahaan, pemerintah, dan dunia pendidikan duduk bersama, meramal dengan data, merencanakan dengan cermat, dan bertindak dengan berani. Karena masa depan perusahaan dan masa depan jutaan anak muda Indonesia bergantung pada seberapa serius kita merencanakan SDM hari ini.