Konten dari Pengguna

KUA Penuh Gara-Gara Takut Jadi Duda: Ketika Primbon Bikin Orang Buru-Buru Nikah

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azka Nazan Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pernikahan Remaja (Sumber: artikel.rumah123.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pernikahan Remaja (Sumber: artikel.rumah123.com)

Akhir tahun 2024 kemarin, KUA di berbagai daerah Jawa sampai kewalahan melayani pendaftaran nikah. Antriannya mengular panjang, bahkan ada yang harus booking dari jauh-jauh hari.

Apakah ada promo diskon nikah akhir tahun? Bukan.

Masyarakat keburu-buru ingin menikahkan anak mereka sebelum 2025 tiba. Soalnya, tahun depan adalah Taun Wawu dalam kalender Jawa—atau yang sering disebut Tahun Duda. Konon, siapa yang nekat menikah di tahun ini akan terkena sial, mulai dari rumah tangga yang mudah berantakan hingga risiko kehilangan pasangan.

Tapi tunggu dulu. Di balik hiruk-pikuk antrean KUA ini, ada pertanyaan yang lebih penting: apakah mereka menikah karena sudah siap, atau sekadar takut kelewat tahun yang dianggap bagus?

Ketika Kepercayaan Jadi Alasan Terburu-buru

Taun Wawu memang bukan sekadar mitos kosong. Kepercayaan ini sudah turun-temurun di masyarakat Jawa sejak ratusan tahun lalu. Primbon Jawa menyebutkan bahwa tahun ini kurang baik untuk memulai kehidupan berumah tangga.

Yang jadi masalah: di balik kepercayaan ini, banyak pasangan muda—bahkan remaja—yang akhirnya memutuskan menikah tanpa persiapan matang. Karena mereka takut melewatkan “deadline” sebelum tahun pantangan tiba.

Berdasarkan data dari DP3AP2KB Jawa Tengah. Selama pandemi kemarin, tercatat 11.301 kasus pernikahan dini untuk anak perempuan dan 1.671 kasus untuk anak laki-laki. Angka yang tidak main-main. Dan lonjakan pendaftaran nikah menjelang Taun Wawu justru menambah daftar panjang pernikahan yang di landasi ketakutan, bukan kesiapan.

Data yang Bikin Miris

Pernikahan dini bukan sekadar angka statistik. Ada manusia dengan beban psikologi nyata di baliknya.

Penelitian di Ngemplak, Yogyakarta, menemukan fakta mengejutkan: dari 49 remaja yang menikah muda, 53,1 persen mengalami depresi sangat berat. Belum lagi 42,9 persen yang mengalami kecemasan sangat berat, dan 40,8 persen yang mengalami stress berat.

Bayangkan: ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ini adalah remaja yang seharusnya masih menikmati masa muda, tapi malah terpaksa menanggung beban psikologi luar biasa karena harus masuk ke dunia dewasa yang belum mereka pahami.

Mengapa bisa begitu?

Karena mereka belum matang secara emosional, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi masih minim, dan belum siap menghadapi tanggung jawab sebagai suami-istri—apalagi menjadi orang tua. Yang seharusnya pernikahan menjadi ikatan indah, malah berubah jadi sumber stres berkepanjangan.

Nikah Dini: Beban yang Terlalu Berat untuk Bahu Remaja

Pernikahan dini dipicu banyak faktor: ekonomi keluarga yang sulit, kehamilan di luar nikah, atau tekanan orang tua yang ingin segera melihat anaknya menikah. Di Jawa, kepercayaan seperti Taun Wawu menambah daftar alasan untuk mempercepat pernikahan.

Yang lebih mengkhawatirkan, di beberapa daerah seperti Sumenep, pernikahan dini dianggap hal yang wajar. Bahkan alami. Normalisasi seperti ini sangat berbahaya, karena membuat orang tidak lagi mempertanyakan apakah remaja itu benar-benar siap atau hanya ikut-ikutan arus.

Taun Wawu: Saatnya Refleksi, Bukan Kepanikan

Daripada melihat Taun Wawu sebagai ancaman yang harus dihindari dengan cara buru-buru menikah, bagaimana kalau kita maknai tahun ini sebagai waktu untuk refleksi?

Larangan menikah dalam primbon Jawa bisa kita anggap sebagai ajakan untuk berhenti sejenak. Untuk berpikir ulang. Untuk memastikan bahwa keputusan menikah didasari kesiapan yang matang—bukan sekadar menghindari pantangan.

Pernikahan adalah komitmen jangka panjang yang butuh kematangan emosional, stabilitas ekonomi, dan dukungan sosial yang kuat. Kalau semua itu belum siap, tidak ada salahnya menunda.

Menunggu bukan berarti kalah melawan mitos. Justru menunjukkan kebijaksanaan dan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri dan pasangan.

Nikah karena Siap, Bukan karena Takut

Taun Wawu akan berlalu. Kehidupan terus berjalan. Tapi keputusan menikah yang diambil karena takut atau terburu-buru bisa meninggalkan bekas luka yang jauh lebih lama.

Pernikahan bukan sekadar ritual sosial atau cara untuk menghindari pantangan budaya. Pernikahan adalah pilihan sadar yang membutuhkan kesiapan mental, emosional, dan sosial.

Untuk para remaja, mari gunakan momen ini untuk bertanya pada diri sendiri: apakah kita sudah benar-benar siap?

Bukan siap untuk menghindari tahun sial, tapi siap untuk membangun kehidupan bersama dengan penuh tanggung jawab dan cinta. Taun Wawu bisa menjadi pengingat bahwa menikah bukan soal waktu yang tepat menurut kalender, tapi kesiapan yang matang menurut hati dan pikiran.

Kesehatan mental generasi muda adalah investasi masa depan bangsa. Jangan sampai tradisi atau kepercayaan tertentu mengorbankan kesempatan mereka untuk tumbuh, belajar, dan menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.

Karena pada akhirnya, pernikahan yang bahagia bukan ditentukan oleh tahun kapan kita menikah, tapi seberapa siap kita menghadapinya.

Tentang Penulis

Azka Nazan Maulana adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.