Konten dari Pengguna

Kicauan Rindu dari Gadis di Perantauan

azka

azka

biographyy

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari azka tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi wanita. (Sumber foto: iStock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi wanita. (Sumber foto: iStock)

Berada jauh dari rumah merupakan rintangan bagi Nadira Athaya, mahasiswi arsitektur Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sebelum pergi merantau, Nadira selalu berada dalam dekapan hangat keluarga di Jakarta.

Perasaan rindu dan sendu selalu hadir di tengah kesendirian Nadira. Tak terdengar lagi suara bunda, ayah atau tangisan adik, yang ada hanya lantunan musik yang memecah keheningan di kamar kostnya.

Tidak ada cara selain terhubung melalui telepon, untuk bertukar kabar dan mengobati rindu. Meskipun dilakukan setiap hari, Nadira tetap merasa kehilangan.

Nadira selalu meminta bantuan Ayahnya ketika kesulitan dalam mengerjakan proyek dan tugas kuliah. Sekarang, asistensi dilakukan via Zoom Meeting karena jarak memisahkan mereka.

Suasana kesendirian menjadi lebih mendalam ketika Nadira jatuh sakit. Ia harus mengurus diri sendiri dan terpaksa memesan obat melalui aplikasi, karena belum ada teman kuliahnya yang dapat diandalkan.

Seiring berjalannya waktu, Nadira dapat mengontrol rasa rindunya pada keluarga. Kesibukan yang ia jalani, mulai dari projek kuliah hingga organisasi, membuat Nadira tidak memiliki banyak waktu sendiri.

Kini ia lebih memilih nongkrong di luar atau mengajak temannya ke kost, agar dapat sejenak lupa dan tidak selalu tersiksa rasa rindu. Nadira mulai menikmati alur hidup di perantauan yang baginya cukup menyenangkan.

Ada kalanya ia berharap keluarganya dapat berkunjung ke Yogyakarta. Untuk sekadar menengok, melepas rindu, dan berlibur bersama lagi di kota istimewa yang membawa banyak cerita untuk Nadira.

(Azka Nurfaiza Vania Putri/Politeknik Negeri Jakarta)