Konten dari Pengguna

Linangan Air Mata di Takbir Pertama

azka

azka

biographyy

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari azka tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Makam almarhum Abah. (Sumber: Nila Rahma)
zoom-in-whitePerbesar
Makam almarhum Abah. (Sumber: Nila Rahma)

Ini terjadi setiap tahunnya, saat takbir pertama lebaran berkumandang. Aku melihat Bunda menangis sedu di atas hamparan sajadahnya. Lantunan suara takbir mengiringi isak tangisnya yang semakin menjadi-jadi. Aku berdiri di balik pintu mendengar tangis itu.

Ditinggalkan sosok seorang ayah terasa sangat menyakitkan. Berat, tetapi harus dihadapi dan diterima dengan hati yang lapang. Kepergiannya sudah cukup lama, namun lukanya masih sama seperti kala pertama ditinggalkan.

Mengapa ada tangis di setiap takbir pertama? Jawabannya pernah ku dengar, ketika Bunda bercerita. Dia selalu mengingat sosok dan kehadiran almarhum Abah, terlebih ketika takbir pertama berkumandang.

Sosok yang paling berarti, hadirnya tak akan terganti. Meskipun sudah berkeluarga, Bunda tetap seorang anak yang selalu merindukan figur ayah. Memori-memori indah bersama almarhum Abah terukir dan terbingkai utuh pada foto-foto yang menghiasi dinding rumah. Semuanya memiliki kisah tersendiri yang kini hanya bisa dikenang.

Rindu kadang kala mencekik ketika tidak sengaja mengingat sosok almarhum dan segala kebaikannya. Air mata tidak sengaja menetes saat memori dan kenangan hadir dengan tiba-tiba.

Untuk apa berada dalam kesedihan yang berlarut-larut, tidak akan bisa membawa almarhum kembali ke dekapan Bunda. Yang bisa dilakukan hanya mendoakan.

Dia abadi dan tidak akan pernah terganti. Sejauh apapun Bunda pergi, memori tentangnya akan selalu terpatri dalam sanubari. Hingga akhir nanti, bisa bertemu kembali.

(Azka Nurfaiza Vania Putri/Politeknik Negeri Jakarta)