Konten dari Pengguna

Peliknya Kisah di Rumah Ibu Asih

azka

azka

biographyy

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari azka tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi wanita (Sumber Foto: iStock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi wanita (Sumber Foto: iStock)

Hari raya menjadi salah satu ajang silaturahmi antara kamu, keluarga, hingga tetangga di sekitaran rumahmu. Suasana hangat masih menyelimutimu di hari kelima pasca perayaan lebaran Idul Fitri. Ini saat yang tepat untuk berkunjung ke rumah-rumah di daerah kediamanmu.

Kamu menarik napas panjang saat sampai di salah satu rumah. Tampak dari luar terlihat layaknya sebuah kosan putri yang minim penghuni. Seorang perempuan separuh baya menyambutmu dan keluargamu dengan

Sore hari yang kamu rasakan di tempat tersebut sangatlah hening dan sepi. Ibu Asih, sembari menyuguhkan cangkir-cangkir teh hangat berkata, “Kalau sore memang sepi. Nanti rame kalau sudah pulang kerja.” Kamu mengangguk dalam diam, masih memproses keadaan rumah tersebut.

Satu per satu pertanyaan dilontarkan oleh ayah dan ibu, sesekali kamu yang merasa penasaran dengan rumah ini, kepada Ibu Asih. Ia menjawab dengan sangat fasih, namun terdapat beberapa jawaban yang dijawabnya dengan hati-hati.

Kamu menyimak obrolan yang diselingi canda tawa, sembari menyeruput teh hangat yang diberikan oleh Ibu Asih. Selama Ibu Asih bercerita, kamu merasakan sakit hati, perasaan takut, sedih, dan marah.

Ibu Asih mengisahkan bahwa penghuni rumah tersebut sebagian merupakan perempuan-perempuan yang mengalami pengalaman yang tidak mengenakan. Kamu sebagai seorang perempuan merasa sesak atas kenyataan yang sangat pahit.

“Ada satu penghuni di sini, dia kabur dari desanya gara-gara dipaksa kawin sama laki-laki yang udah perkosa dia. Dia dianggep udah gak suci lagi sama keluarganya.” Kamu mendengarkan cerita mengenai salah satu penghuni yang dipaparkan oleh Ibu Asih.

“Waktu pertama kali dia ke sini, mukanya lebam-lebam sampai badan-badan.” Kamu terdiam sejenak dan menahan tangis, ingin rasanya pergi dari sana.

Langit mulai gelap dan tak terasa malam hampir tiba. Kamu melihat perempuan-perempuan yang memasuki rumah, sesuai ucapan Ibu Asih, mereka baru saja pulang bekerja. Ibu Asih segera menyapa para penghuni dengan hangat. Kamu melihat adanya sosok ibu di dalam Ibu Asih kepada para penghuni di rumah ini.

(Azka Nurfaiza Vania Putri/Politeknik Negeri Jakarta)