Konten dari Pengguna

Sampaikan Rinduku untuk Dia di Seberang Sana

azka

azka

biographyy

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari azka tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana kota di malam hari. (Sumber foto: Azka Nurfaiza)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana kota di malam hari. (Sumber foto: Azka Nurfaiza)

Kali pertama setelah sekian lama, aku jatuh cinta. Pada seorang laki-laki yang tidak sengaja kukenal waktu itu. Aku dan dia berada di garis waktu yang sama dan takdir mempertemukannya. Aneh rasanya, sebuah ketidaksengajaan bisa menjadi kisah romansa yang bertahan lama.

Pada mulanya, kami berbicara layaknya teman biasa. Notifikasi darinya selalu kutunggu untuk memecah kesunyianku di malam hari. Obrolan ringan bisa menjadi menyenangkan, jika bersama dia.

Seringkali muncul pertanyaan, Tuhan apakah ini jatuh cinta? Detak jantung yang berpacu, senyum yang muncul tiba-tiba, dan tidak bisa membawa dia keluar dari pikiranku. Sudah lama aku tidak merasakannya, kini rasa itu hadir lagi.

Aku dan dia adalah dua pribadi yang beterbalikan, hampir tidak memiliki kesamaan. Cara kami memandang kehidupan dan seisinya berbeda. Hal ini bukan menjadi penghalang, melainkan celah untuk saling melengkapi. Tidak bisa ada dua matahari di langit yang sama, bukan?

Usianya diatasku, wajar saja jika dia lebih dewasa. Jika bersamanya, aku merasa seperti anak-anak yang belum mengetahui banyak hal. Dia bersedia untuk menjelaskan apapun hingga aku mengerti.

Hari demi hari kulewati. Semua terasa lebih berwarna dan menyenangkan. Aku dan dia mengenal lebih dalam, kami memiliki kesibukan masing-masing. Dia tidak suka berorganisasi, sedangkan aku anggota dalam beberapa organisasi. Dia lebih suka nongkrong dan jalan-jalan bersama teman, karena kuliah di jurusan teknik sudah banyak menyita waktunya. Baginya, pengalaman bisa didapatkan dimana saja.

Waktu berjalan, ia berada di tingkat akhir bangku kuliahnya. Laporan, magang, serta tugas akhir akan banyak menyita waktunya. Skala prioritasnya akan berganti, tidak seperti dulu dan aku harus siap untuk itu. Benar saja, obrolan semakin menyurut. Kami tidak berkomunikasi untuk waktu yang lama.

Suatu hari, aku dan dia meluangkan waktu untuk pergi ke suatu tempat. Yang aku harapkan adalah hal-hal baik, tetapi sayangnya berbeda. Dia berpamitan. Program magang yang dia dapatkan berlokasi di pulau seberang, Lampung. Untuk jangka waktu dua bulan lamanya, dia tidak akan berada di Jakarta.

Entah aku harus apa waktu itu, tetapi yang bisa terlontar dari mulutku hanyalah doa-doa baik. Semoga Tuhan selalu melindunginya. Sedih rasanya, setelah sekian lama tidak bersua, yang kuterima adalah berita di luar prasangka.

Di tengah perjalanan pulang, dia fokus menyetir dan aku terdiam. Aku dihantui oleh kemungkinan-kemungkinan buruk untuk hubungan ini kedepannya. Kemudian aku memberanikan diri untuk berkata, sepertinya kita tidak akan bertemu lagi. Dia bertanya ada alasan apa di balik ucapanku. Aku mengatakan dia harus berfokus pada kelulusannya. Dia terdiam. Suasana malam itu dingin dan sunyi terdengar begitu keras di antara aku dan dia.

Setelah malam itu, apa yang aku takutkan benar terjadi. Dia pergi dan hilang begitu saja. Tidak pernah lagi kudengar kabar tentangnya. Apakah dia baik-baik saja? Mungkin ini adalah konsekuensi dari ucapanku malam itu.

Jika dilihat dari unggahan sosial medianya, dia tampak bahagia. Menikmati kehidupan dan kesibukan barunya di pulau seberang. Aku ikut bahagia, tapi di satu sisi juga terluka.

Kini yang tersisa hanyalah kenangan. Sesekali aku membuka album foto ponselku dan histori ruang obrolanku dengannya, ketika rindu menghampiri. Sulit rasanya terbiasa untuk tanpa seseorang yang hadir menemani keseharian. Namun, aku harus bisa, seperti dia.

Aku tidak perlu kehadiran sosok baru, untuk melupakan yang lalu. Menyibukkan diri dengan melakukan hal-hal produktif merupakan pelarian terbaik. Melakukan semua hobi dan sering keluar bersama teman juga membantu menyadarkanku, aku banyak dikelilingi orang-orang baik, kehilangan satu bukan apa-apa bagiku.

Untaian kata penuh makna yang tersimpan dalam catatanku menjadi saksi, aku pernah merindu sedalam itu, kepada seseorang yang ada di seberang sana. Mungkin dia tak tau dan tidak akan pernah tau.

(Azka Nurfaiza Vania Putri/Politeknik Negeri Jakarta)