Merayakan Guru Bukan Sekadar Penghargaan, Namun Refleksi Jati Diri Pendidikan

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Adzka Rafiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu bentuk apresiasi bangsa Indonesia kepada para guru yaitu dengan merayakannya. 25 November di tetapkan sebagai perayaan hari bagi para guru di seluruh Indonesia. Namun, apakah perayaan yang meriah itu mencerminkan penghargaan terhadap kesejahteraan, tantangan, dan martabat profesi guru?
Guru adalah profesi yang menjadi pondasi bangsa. Peran mereka dalam mencapai kesejahteraan masyarakat sangatlah vital. Mereka mendidik anak anak, dimana anak anak didik mereka kelak akan menentukan arah bangsa ini.
Di masa kini, tugas guru bukan hanya mendidik, namun mereka juga mengurus administrasi, menyesuaikan diri dengan perubahan kurikulum, dan yang utama yaitu mereka harus berjuang untuk memastikan kesejahteraan ekonomi mereka, di tengah upah minimal dan status yang tidak pasti.
Tekanan yang sistematis ini membuat idealisme guru dalam mendidik terkikis secara perlahan. Guru yang seharusnya fokus dalam mendengar, menginspirasi, dan menumbuhkan karakter bangsa, kini harus menghabiskan waktunya untuk mengurus berkas dan mencari uang tambahan di luar jam sekolah untuk memenuhi kebutuhan.
Jika ingin merayakan hari guru dengan tulus, maka hadiah dari perayaan itu harus berwujud komitmen. Penghargaan tertinggi bagi para guru bukan perayaan tahunan, melainkan jaminan profesionalisme, rasa aman, dan waktu yang berkualitas yang memungkinkan guru untuk fokus mendidik dengan hati. Inilah esensi sejati dari perayaan hari guru yang harus kita perjuangkan bersama
