Konten dari Pengguna

Microteaching: Formalitas Perkuliahan atau Kebutuhan Nyata Calon Guru?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Farihatunnisa Azka Alwijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di berbagai program studi pendidikan, microteaching menjadi salah satu mata kuliah yang wajib ditempuh oleh mahasiswa calon guru sebelum terjun langsung ke sekolah. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diberikan kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan mengajar dalam skala kecil, mulai dari membuka pelajaran, menyampaikan materi, menggunakan media pembelajaran, hingga menutup pembelajaran. Namun, di tengah pelaksanaannya, muncul pertanyaan yang cukup menarik untuk dibahas: apakah microteaching hanya sekadar formalitas perkuliahan yang harus dilalui mahasiswa, atau justru merupakan kebutuhan nyata dalam membentuk calon guru yang profesional?

Bagi sebagian mahasiswa, microteaching sering kali dianggap sebagai tugas kuliah biasa yang harus diselesaikan demi mendapatkan nilai. Tidak sedikit yang mempersiapkan penampilan mengajarnya hanya untuk memenuhi tuntutan akademik tanpa benar-benar memahami tujuan utama dari kegiatan tersebut. Kondisi ini membuat microteaching terkesan sebagai formalitas belaka. Padahal, jika dilihat lebih dalam, proses mengajar bukanlah kemampuan yang muncul secara instan. Menjadi seorang guru membutuhkan latihan yang berulang agar mampu mengelola kelas, menyampaikan materi secara efektif, serta berinteraksi dengan peserta didik secara tepat.

Pada kenyataannya, microteaching memiliki peran yang sangat penting dalam mempersiapkan calon guru menghadapi situasi pembelajaran yang sesungguhnya. Melalui simulasi mengajar, mahasiswa dapat mengenali kelebihan dan kekurangan dirinya sebelum terjun ke lapangan. Kesalahan dalam menjelaskan materi, penggunaan bahasa yang kurang tepat, hingga pengelolaan waktu yang belum efektif dapat diketahui dan diperbaiki sejak dini. Dengan demikian, microteaching menjadi ruang belajar yang aman bagi mahasiswa untuk mencoba, melakukan kesalahan, dan memperbaiki diri.

Selain itu, perkembangan pendidikan di era digital menuntut guru untuk memiliki kemampuan yang lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Guru tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga harus mampu memanfaatkan teknologi, menciptakan pembelajaran yang interaktif, serta menyesuaikan metode pembelajaran dengan karakteristik peserta didik. Microteaching dapat menjadi sarana bagi mahasiswa untuk melatih berbagai keterampilan tersebut sebelum menghadapi kondisi nyata di sekolah. Melalui kegiatan ini, calon guru dapat belajar menggunakan media pembelajaran digital, mengembangkan kreativitas dalam mengajar, dan meningkatkan kemampuan komunikasi di depan kelas.

Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Meski demikian, efektivitas microteaching sangat bergantung pada bagaimana kegiatan tersebut dilaksanakan. Jika hanya berfokus pada penilaian akhir tanpa adanya refleksi dan umpan balik yang membangun, maka tujuan microteaching tidak akan tercapai secara optimal. Sebaliknya, apabila mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mengevaluasi penampilannya, menerima masukan dari dosen maupun teman sejawat, serta melakukan perbaikan secara berkelanjutan, maka microteaching akan menjadi pengalaman belajar yang sangat berharga.

Pada akhirnya, microteaching bukan sekadar formalitas perkuliahan yang harus dilalui untuk memenuhi syarat akademik. Lebih dari itu, microteaching merupakan kebutuhan nyata bagi calon guru dalam mengembangkan kompetensi profesionalnya. Kegiatan ini menjadi jembatan antara teori yang dipelajari di bangku kuliah dengan praktik pembelajaran di dunia nyata. Oleh karena itu, mahasiswa maupun institusi pendidikan perlu memandang microteaching sebagai proses pembelajaran yang penting, bukan hanya sebagai tugas yang harus diselesaikan. Dengan pemahaman tersebut, microteaching dapat berperan lebih maksimal dalam mencetak guru-guru yang kompeten, kreatif, dan siap menghadapi tantangan pendidikan di masa depan.