Konten dari Pengguna

Dari FYP Ke Checkout: Pengaruh Influencer Terhadap Keputusan Membeli Skincare

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azka Tri Hayya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah derasnya arus informasi media sosial saat ini, menemukan produk skincare kini terasa lebih mudah. Cukup dengan membuka TikTok atau Instagram, kita dapat dengan mudah menemukan banyak ulasan tentang berbagai produk, rekomendasi produk, sampai video perubahan seseorang setelah memakai suatu produk. Informasi yang dahulu kita hanya bisa mengetahuinya melalui konsultasi atau dengan pencarian panjang sekarang bisa hadir dalam hitungan detik saja. Namun, kemudahan tersebut kemudian memunculkan sebuah pertanyaan: apakah kita membeli skincare karena benar-benar membutuhkannya atau karena seseorang di media sosial berhasil membuat kita yakin bahwa produk tersebut layak untuk dimiliki.

Foto oleh dlxmedia.hu di Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh dlxmedia.hu di Unsplash

Fenomena ini menunjukkan bahwa sekarang media sosial bukan hanya menjadi tempat untuk berbagi informasi, tetapi juga berperan dalam membentuk perilaku konsumsi. Melalui konten yang dibuat, influencer memiliki kemampuan untuk memperkenalkan produk dan membangun persepsi audiens terhadap suatu produk. Ketika sebuah produk ditampilkan secara menarik dan disertai pengalaman penggunaan yang meyakinkan, rekomendasi singkat seperti itu terasa lebih dekat dibandingkan dengan iklan konvensional.

Pengaruh tersebut memiliki landasan dalam penelitian. Studi yang diterbitkan dalam Humanities and Social Sciences Communications pada 2024 oleh Garg dan Bakshi melibatkan 357 responden di India berusia 16–45 tahun yang menggunakan media sosial setiap hari. Penelitian tersebut menemukan bahwa kredibilitas beauty vlogger berkaitan dengan kepercayaan audiens dan niat membeli. Temuan ini memperlihatkan bahwa keputusan konsumen bukan hanya berkaitan dengan produk yang ditawarkan, tetapi juga karena siapa yang menyampaikan rekomendasi tersebut.

Dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa rekomendasi di media sosial bukan sekadar percakapan ringan tentang skincare. Di balik sebuah video ulasan, terdapat proses pembentukan kepercayaan yang dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk membeli. Ketika audiens merasa mengenal influencer yang mereka ikuti, rekomendasi produk bisa lebih mudah diterima bukan hanya sebagai informasi.

Menurut saya, persoalan mulai muncul ketika kepercayaan tersebut membuat konsumen menjadi kurang kritis dalam menilai kebutuhan pribadinya. Influencer dapat menjelaskan suatu produk dengan menarik, tetapi kondisi kulit setiap orang tidak sama. Produk yang cocok bagi influencer tersebut belum tentu memberikan hasil yang sama ketika kita menggunakannya.

Sayangnya, konten media sosial sering kali menyederhanakan hal tersebut. Sebuah produk dapat terlihat seolah-olah menjadi jawaban atas persoalan kulit hanya dengan ulasan yang meyakinkan. Ketika banyak influencer membuat konten dan membicarakan produk yang sama, muncul kesan bahwa produk tersebut harus dimiliki juga. Pengulangan konten membuat rekomendasi terasa semakin akrab. Popularitasnya dapat menciptakan anggapan bahwa produk yang viral pasti layak untuk dicoba. Padahal, popularitas bukan jaminan bahwa suatu produk sesuai dengan kebutuhan setiap orang.

Di sinilah batas antara keinginan dan kebutuhan menjadi semakin kabur. Seseorang yang awalnya hanya ingin membeli serum, misalnya, dapat berakhir dengan membeli pelembap, toner, masker, dan berbagai produk lain setelah melihat rekomendasi di linimasa. Setiap produk seolah menawarkan kesempatan agar kulit menjadi lebih baik.

Foto oleh Content Pixie di Unsplash

Menurut saya, kondisi ini bukan semata-mata persoalan kurangnya pengendalian diri konsumen, tetapi karena lingkungan digital sekarang memiliki peran dalam membentuk keinginan tersebut. Konten kecantikan hadir berulang kali, dikemas dengan visual yang baik, dan sering kali disertai ulasan yang mampu menarik perhatian sehingga konsumen ingin ikut mencobanya.

Meski demikian, tidak semua influencer hanya bertujuan untuk menjual produk. Banyak influencer yang membantu audiens memahami kandungan skincare, membandingkan produk sesuai kebutuhan, serta membagikan pengalaman penggunaan secara informatif. Bagi konsumen yang masih kesulitan memahami istilah dalam dunia perawatan kulit, konten edukasi dapat menjadi titik awal untuk mencari informasi yang lebih dalam. Influencer juga dapat membantu memperkenalkan merek lokal yang belum banyak dikenal masyarakat.

Karena itu, persoalan utamanya bukan terletak pada keberadaan influencer, melainkan pada cara mereka merekomendasikan produk. Influencer perlu menyampaikan informasi secara bertanggung jawab, termasuk menjelaskan apabila konten yang dibuat berdasarkan kerja sama berbayar serta membedakan pengalaman pribadi dari klaim yang telah didukung bukti ilmiah. Sementara itu, konsumen perlu memahami bahwa kepercayaan terhadap seseorang seharusnya tidak menghilangkan kebiasaan untuk memeriksa informasi.

Pada akhirnya, media sosial telah mengubah cara kita mengenal dan memilih skincare. Influencer dapat menjadi sumber informasi yang bermanfaat, tetapi juga memiliki kemampuan untuk membentuk keinginan melalui kepercayaan yang dibangun bersama audiens. Tetapi kita tetap harus bisa mengetahui apa yang kita butuhkan, tidak hanya membeli karena terlalu sering melihatnya. Karena keputusan tetap ada di tangan kita, maka dari itu kita harus membuat keputusan yang tepat untuk diri sendiri.