Konten dari Pengguna

Lapar Atau FOMO? Ketika Makanan Viral Menjadi Gaya Hidup

Azka Tri Hayya

Azka Tri Hayya

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasakti Tegal

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azka Tri Hayya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita tiba-tiba ingin membeli makanan hanya karena melihatnya berkali-kali di media sosial?

Mungkin awalnya kita tidak tahu makanan apa yang sedang viral itu. Lalu muncul satu video, kemudian video berikutnya, dengan tambahan sedikit ulasan dari kreator tersebut, seperti kata-kata "wajib dicoba", beberapa orang juga rela mengantre selama berjam-jam hanya untuk mencobanya.

Foto oleh Manpreet Singh di Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Manpreet Singh di Unsplash

Fenomena makanan viral ini juga menjadi sangat dekat dengan kehidupan kita karena adanya media sosial, seperti TikTok dan Instagram, yang sekarang bukan hanya tempat untuk mencari hiburan saja tetapi menjadi tempat untuk membicarakan makanan. Makanan yang sebelumnya tidak dikenal banyak orang bisa dengan mudah menjadi perbincangan banyak orang.

Pertanyaannya: kita benar-benar lapar atau hanya FOMO?

FOMO atau fear of missing out adalah rasa ketakutan tertinggal dari sesuatu atau pengalaman yang sedang dilakukan oleh banyak orang. Przybylski dan rekan-rekannya menjelaskan FOMO sebagai kekhawatiran bahwa orang lain sedang mendapatkan pengalaman yang menyenangkan sementara kita tidak mengalaminya. Penelitian tersebut juga menunjukkan adanya keterkaitan FOMO dengan keterlibatan seseorang dalam media sosial.

Dalam konteks makanan, FOMO bisa muncul saat melihat orang lain mencoba makanan tertentu secara berulang-ulang. Semakin sering makanan itu muncul di media sosial, kita merasa makanan tersebut harus dicoba juga. Padahal kita tidak sedang membutuhkannya, tetapi agar tidak merasa tertinggal dari yang lain.

Menurut saya, di sinilah masalahnya. Media sosial secara perlahan mengubah cara pandang kita terhadap apa yang ingin kita makan. Selera pribadi yang seharusnya menjadi pertimbangan juga bisa kalah dengan apa yang sedang ramai di media sosial.

Kita pasti pernah mengatakan, "Aku penasaran sama rasanya". Namun, terkadang rasa penasaran itu muncul setelah melihat puluhan ribu video orang lain yang sudah mencobanya dan memberi ulasan positif. Padahal selera orang pasti berbeda-beda.

Tidak semua makanan viral cocok dengan lidah kita, apa yang kita lihat sangat enak juga belum tentu saat kita mencobanya kita akan menyukainya dan belum tentu semua tempat yang ramai harus kita datangi. Tetapi, di media sosial batasan antara "saya ingin" dan "saya butuh" menjadi sangat tipis.

Pada sebuah penelitian systematic review yang meninjau 377 penelitian tentang media sosial dan perilaku konsumen makanan menunjukkan bahwa media sosial memang memiliki kaitannya dengan niat, sikap, dan perilaku konsumen membeli makanan. Video yang dibuat oleh orang lain juga menjadi salah satu unsur penting dalam membentuk persepsi konsumen terhadap makanan. Artinya, video seseorang yang mengatakan bahwa makanan tertentu "enak banget" bukan hanya sebuah hiburan tetapi bisa menjadi informasi dan dorongan untuk mencoba.

Penelitian yang sudah dilakukan terhadap Gen Z di Indonesia menemukan bahwa FOMO personal dan sosial berpengaruh positif terhadap perilaku pembelian impulsif makanan viral. Penelitian ini melibatkan 275 responden Gen Z Muslim di Indonesia dan menunjukkan bahwa keputusan membeli makanan viral tidak selalu muncul karena kebutuhan, tetapi juga dipengaruhi oleh dorongan sosial dan psikologi.

Fenomena tersebut menunjukkan perubahan yang lebih besar: makanan mulai menjadi bagian dari gaya hidup yang harus ditampilkan

Dulu, kita makan karena lapar. Sekarang, kita juga bisa makan karena ada sesuatu yang ingin diunggah. Sebuah makanan terkadang menjadi lebih menarik ketika memiliki nilai visual, cerita, atau status tertentu. Sebenarnya, tidak ada yang salah dari mengikuti tren atau sekadar mengabadikan makanan. Masalahnya muncul ketika kita merasa tidak nyaman jika tidak mengikutinya.

Foto oleh Spencer Davis di Unsplash

Menurut saya, persoalannya bukan apakah kita boleh mengikuti makanan viral atau tidak. Kita boleh ikut tren, asal kita tahu alasan apa kita mengikutinya.

Karena pasti ada perbedaan antara membeli karena benar-benar penasaran dan membeli karena takut merasa tertinggal. Ada perbedaan antara menikmati tren dan dikendalikan oleh tren.

Pada akhirnya, makanan seharusnya bukan menjadi ajang perlombaan. Kita tidak harus mencoba semua yang sedang viral. Kita juga tidak perlu merasa tertinggal hanya karena belum mencoba makanan yang sedang ramai dibicarakan di media sosial.

Karena, kita harus tahu apa yang harus dicoba dan tidak. Kemampuan untuk menentukan apa yang benar-benar dibutuhkan dan kita inginkan adalah bentuk kebebasan yang sangat sederhana, tetapi penting.

Jadi, lain kali saat kita melihat makanan viral dan tiba-tiba ingin membelinya, mungkin kita harus bertanya pada diri sendiri:

"Ini karena aku lapar, atau karena aku takut ketinggalan?"