Konten dari Pengguna

Tidak Semua Perasaan Bisa Diucapkan, Sebagian Bisa Dipanggang

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azka Tri Hayya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak semua orang pandai mengungkapkan perasaannya melalui kata-kata. Ada yang sulit mengatakan rindu, sulit menyampaikan kesedihan, atau merasa canggung untuk menunjukkan kasih sayang secara langsung. Namun, perasaan tidak selalu berbentuk kalimat panjang untuk disampaikan. Terkadang, perasaan dapat hadir dalam bentuk yang lebih sederhana, seperti sepotong kue yang dibuat dengan sepenuh hati.

Foto oleh Monika Grabkowska di Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Monika Grabkowska di Unsplash

Baking sering kali dianggap sekadar kegiatan membuat makanan. Padahal, bagi sebagian orang, proses mencampur bahan, menguleni adonan, hingga menunggu kue matang dapat menjadi cara untuk mengekspresikan diri. Aktivitas ini melibatkan perhatian terhadap proses dan kesabaran dalam mengikuti setiap tahapannya. Penelitian mengenai aktivitas kreatif juga menunjukkan bahwa kegiatan yang melibatkan keterampilan tangan dapat mendukung kesejahteraan emosional, meskipun dampaknya berbeda pada setiap orang.

Menurut saya, baking sendiri memiliki keistimewaan karena memberikan ruang bagi setiap perasaan yang sulit diungkapkan. Ketika pikiran penuh, mengikuti langkah-langkah resep bisa menjadi kesempatan untuk menghilangkan pikiran yang terlalu ramai. Ada sesuatu yang menenangkan dan kesenangan tersendiri saat melihat hasil dari proses yang sudah dilakukan. Proses tersebut seolah mengingatkan kita bahwa tidak semua hal harus selesai dengan cepat; beberapa hal membutuhkan waktu, perhatian, dan kesabaran.

Lebih dari itu, baking juga bisa menjadi bahasa kasih sayang. Membuat kue untuk seseorang bisa menjadi cara untuk menyampaikan "Aku suka kamu" tanpa harus mengucapkannya secara langsung. Sepotong kue yang diberikan kepada teman, keluarga, atau seseorang yang sedang mengalami hari buruk mungkin terlihat biasa dan sederhana. Namun, di baliknya terdapat waktu, tenaga, dan niat untuk membuat orang lain merasa diperhatikan. Dalam hal ini, baking bukan hanya tentang rasa, melainkan juga tentang makna yang menyertainya.

Meski demikian, baking bukan solusi bagi semua persoalan emosional. Tidak setiap kesedihan dapat hilang setelah membuat kue, dan tidak semua perasaan bisa disampaikan melalui sepotong kue. Komunikasi tetap penting, terutama untuk masalah yang membutuhkan kejujuran dalam penyelesaiannya. Namun, baking bisa menjadi salah satu jalan untuk mengenali perasaan sebelum mengungkapkannya secara langsung.

Foto oleh Will Echols di Unsplash

Pada akhirnya, mungkin itulah yang menarik dari baking: kita tidak hanya membuat sesuatu untuk dimakan, tetapi memberikan ruang pada sesuatu yang sulit dijelaskan menggunakan kata-kata. Sebab, tidak semua perasaan harus segera diungkapkan dengan kata-kata. Ada yang cukup dituangkan melalui tangan, ditemani aroma kue yang khas dan memenuhi ruangan, lalu dibagikan kepada seseorang yang berarti. Dan terkadang, sepotong kue mampu menyampaikan perhatian yang tidak berhasil kita ungkapkan secara langsung.