Konten dari Pengguna

When Ya: Kata-Kata Tentang Kapan Yang Tak Kunjung Datang

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azka Tri Hayya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

When Ya?

Dua kata sederhana yang sangat mudah ditemukan di media sosial era sekarang, seperti TikTok, Instagram, atau X. Kata-kata ini muncul setelah seseorang melihat sesuatu yang ingin dirasakan juga, seperti pasangan yang romantis, pekerjaan impian, tempat yang ingin dikunjungi, atau bahkan pencapaian kecil yang terasa jauh dari kehidupan kita.

"When ya aku bisa kayak gitu"

Sekilas, kalimat tersebut terdengar seperti candaan. Tetapi, di balik itu ada sebuah pertanyaan yang sebenarnya cukup dekat kehidupan banyak orang: Kapan giliranku?

Fenomena penggunaan kata "when ya" di media sosial memang menarik untuk dilihat lebih jauh lagi. Sebuah kajian yang membahas fenomena ini melihat "when ya" sebagai bentuk ekspresi keinginan setelah melihat pengalaman orang lain yang belum dapat kita rasakan. Dengan kata lain, apa yang kita lihat di layar dapat memunculkan keinginan serupa.

Foto oleh Berke Citak Di unplash

Di sinilah media sosial menjadi menarik sekaligus rumit. Media sosial menunjukkan kita untuk melihat kehidupan seseorang secara hitungan detik. Kita dapat dengan cepat melihat seseorang ketika sedang wisuda, mendapatkan pekerjaan impian, pernikahan seseorang, liburan, atau kehidupan yang terlihat menyenangkan. Sementara itu, kita di sini hanya perlu melihat layar beberapa menit untuk merasa semua orang lebih maju daripada kita. Padahal yang kita lihat hanya sedikit dari kehidupan mereka.

Penelitian mengenai social comparison atau perbandingan sosial menunjukkan bahwa media sosial memang dapat menjadi ruang bagi seseorang untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Penelitian pada dewasa muda menemukan hubungan antara upward social comparison (membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih unggul) dengan self-esteem yang lebih rendah. Namun, hubungan tersebut tidak berarti bahwa media sosial secara otomatis membuat seseorang memiliki masalah kesehatan mental. Pengaruhnya kompleks dan dapat dipengaruhi oleh banyak faktor.

Tetapi mungkin kita tidak perlu menunggu sebuah penelitian untuk menyadari satu hal: Melihat pencapaian orang lain terlalu sering memang bisa membuat kita bertanya tentang pencapaian diri sendiri.

Teman-temanku sudah punya pekerjaan, aku kapan?

Orang lain sudah sukses, aku kapan?

Orang lain sudah menikah, aku kapan?

Namun, pertanyaan itu bisa menjadi melelahkan jika kita terlalu sering menggunakan pencapaian orang lain untuk mengukur kehidupan sendiri. Karena kita sering lupa bahwa media sosial hanya memperlihatkan hasil, bukan keseluruhan prosesnya.

Kita melihat seseorang mendapatkan pekerjaan, tetapi tidak melihat banyak lamaran yang sudah dikirim sebelumnya.

Kita melihat seseorang bahagia dengan pasangannya, tetapi tidak melihat perjalanan dan perjuangan hubungan mereka.

Kita terbiasa melihat "sampai," tetapi jarang melihat "perjalanan." Mungkin karena itu kita sering merasa tertinggal, kita membandingkan proses awal kita dengan hasil akhir seseorang.

Padahal, setiap orang memiliki garis waktunya sendiri. Menunggu juga bukan sesuatu yang salah, ada banyak hal yang memang membutuhkan waktu.

Mungkin hari ini kita belum mendapatkan apa yang kita inginkan. Namun, bukan berarti kita tertinggal, karena hidup bukan suatu perlombaan yang memiliki satu jadwal keberhasilan yang sama dengan orang lain.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, suatu hari nanti kita akan berada di posisi yang dulu kita lihat melalui layar.