Konten dari Pengguna

Perut Bukan Tong Sampah: Hadis soal Makan Secukupnya di Tengah Budaya Mubazir

Azkiya Nayla

Azkiya Nayla

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azkiya Nayla tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

gambar ini hasil dari generasi AI yang menggambarkan makan secukupnya di tengah mubazir makanan
zoom-in-whitePerbesar
gambar ini hasil dari generasi AI yang menggambarkan makan secukupnya di tengah mubazir makanan

Pernah ke restoran all you can eat? Piring penuh menumpuk, tapi ujung-ujungnya banyak yang tersisa. Hal yang sama sering terjadi di acara hajatan, saat nasi dan lauk dibuang karena tidak habis dimakan. Kita sering merasa itu hal biasa. Padahal, kalau dipikir lagi, makanan yang kita sia-siakan itu dulunya hasil kerja keras petani, nelayan, dan peternak.

Fakta Food Waste di Indonesia

Menurut kajian Bappenas, Indonesia menghasilkan puluhan juta ton sampah makanan setiap tahun, dengan kerugian ekonomi mencapai ratusan triliun rupiah. Ironisnya, di waktu yang sama masih banyak orang yang kesulitan mendapat makanan layak. Jadi, makanan yang terbuang bukan sekadar urusan kebersihan, tapi juga soal keadilan.

Pesan Nabi tentang Perut

Rasulullah SAW sudah memberi panduan sederhana tentang makan. Beliau bersabda:

"Tidak ada wadah yang diisi oleh manusia yang lebih buruk daripada perutnya.Cukuplah bagi anak Adam beberapa suapan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika ia harus makan lebih, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Tirmidzi menilainya hasan sahih)

Hadis ini bukan larangan menikmati makanan enak. Intinya adalah moderasi: makan secukupnya, jangan sampai kekenyangan. Pembagian sepertiga itu memberi ruang agar tubuh tetap nyaman, mudah bergerak, dan tidak mudah lesu setelah makan.

Prinsip ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-A'raf ayat 31: makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan, karena Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.

Dua Sisi: Diri Sendiri dan Sesama

Pertama, dari sisi pribadi. Makan berlebihan bisa membuat tubuh cepat lelah dan memicu berbagai masalah kesehatan. Tubuh punya hak untuk dijaga, bukan dipaksa menampung semua yang kita ambil karena lapar mata.

Kedua, dari sisi sosial. Membuang makanan berarti menyia-nyiakan rezeki yang bisa dinikmati orang lain. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa makanan untuk satu orang cukup untuk dua orang. Pesannya jelas: budaya berbagi lebih utama daripada budaya menimbun dan membuang.

Langkah Kecil yang Bisa Dilakukan

Mengamalkan hadis ini tidak harus rumit. Beberapa langkah sederhana bisa kita mulai dari sekarang:

Ambil makanan secukupnya dulu, tambah kalau masih lapar.

Habiskan makanan yang sudah diambil, dan bungkus sisa yang masih layak.

Atur porsi masakan di acara keluarga atau hajatan supaya tidak berlebihan.

Bagikan makanan berlebih ke tetangga atau salurkan lewat lembaga bank pangan.

Belanja sesuai kebutuhan agar bahan makanan di rumah tidak basi.

Penutup

Perut punya batas, dan Rasulullah SAW sudah mengingatkan kita sejak lama. Tapi bukan hanya perut yang punya hak. Bumi dan sesama manusia juga berhak atas rezeki yang Allah titipkan. Maka sebelum menambah satu piring lagi, mungkin kita perlu bertanya: ini untuk memenuhi kebutuhan, atau sekadar memuaskan keinginan?