Bukan Pan-Islamisme: Kalkulasi Realpolitik di Balik Mecca Agreement

Mahasiswa Sastra Arab UGM-Pengamat geopolitik Timur Tengah dan Afrika Utara-Research Manager di Komunitas Kebijakan Kita.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Azky Zidane Qoimul Haq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menekan tombol perlawanan (balancing) atau memilih tunduk (bandwagoning) pada suatu kekuatan adalah keniscayaan yang harus dilakukan oleh aktor global di tengah turbulensi geopolitik yang tidak menentu. Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) adalah kawasan yang belakangan, kalau tidak selalu, dihadapkan pada pilihan tersebut, terlebih di tengah perang Iran–AS–Israel.
Keberlanjutan perang tersebut, yang diperparah oleh eskalasi konflik sejak 7 Oktober di Levant, menguliti ketidakpastian jaminan keamanan Washington terhadap mitra strategis di kawasan, termasuk Arab Saudi sebagai sekutu dekat AS di Timur Tengah. Beberapa kali agresi Iran terhadap pangkalan militer dan fasilitas minyak Arab Saudi serta gangguan rantai pasok dan perdagangan global, mendorong Riyadh untuk tidak menggantungkan infrastruktur pertahanannya secara eksklusif kepada superpower Barat.
Konfigurasi ini termaterialisasi pada penandatanganan kesepakatan pertahanan trilateral antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan, yang dinamai sebagai Mecca Joint Defence Agreement pada Jumat silam. Kesepakatan tersebut menetapkan bahwa serangan terhadap salah satu di antara ketiganya dianggap sebagai serangan terhadap seluruhnya.
Namun demikian, Wakil Menteri Diplomasi Publik Arab Saudi, Rayed Krimly, menekankan bahwa, "Kesepakatan ini tidak mencerminkan niat membentuk poros militer ataupun blok sektarian. Perjanjian ini juga tidak terkait ambisi nuklir maupun perlombaan senjata, melainkan membangun kemampuan pertahanan yang berkelanjutan dan mandiri," tulisnya melalui media sosial X. Berbagai respons global maupun regional serta dinamika terkini kawasan dapat menjelaskan apa yang perlu diketahui dari kesepakatan ini.
Anatomi Anggota Kesepakatan
Penting untuk diingat bahwa kesepakatan ini melibatkan tiga negara dengan populasi Muslim Sunni terbesar, yaitu Arab Saudi sebagai pelindung utama situs Islam di Mekkah dan Madinah, Turki sebagai anggota NATO dengan pasukan militer terbesar kedua, dan Pakistan sebagai satu-satunya negara Muslim bersenjata nuklir.
Dari ketiga unsur tersebut, ditambah dengan penandatanganan simbolis di Mekkah, tidak mengherankan jika kesepakatan ini banyak dipandang sebagai aliansi untuk membendung pengaruh Syiah Iran di kawasan. Terdapat pula pandangan romantistis di media sosial yang menganggap kesepakatan ini sebagai titik balik persatuan umat Islam atau bahkan momentum untuk membentuk tatanan dunia baru.
Bukan tidak simpatik dengan persatuan umat Islam, tetapi ada pertanyaan yang lebih penting yang seharusnya lebih dulu diajukan: mengapa ketiga negara tersebut menandatangani kesepakatan ini?
Kalkulasi Strategis Riyadh
Bagi Riyadh, ini adalah bagian dari upaya untuk mendiversifikasi aliansi sambil secara perlahan melunturkan ikatan dengan AS, sekaligus menyeimbangkan pengaruh Iran di kawasan. Upaya ini bukan pertama kalinya dilakukan oleh Saudi. Pada minggu lalu, untuk menjagal kekuatan Iran beserta resistance proxy-nya, Riyadh membentuk Koalisi Keamanan Maritim yang bertujuan untuk melindungi Laut Merah dan Teluk Aden demi menjaga stabilitas rute perdagangan vital dari serangan eksternal seperti Houthi yang didukung Iran di Yaman. Koalisi ini terdiri dari 14 negara termasuk Turki, Pakistan, Mesir, serta Arab Saudi sebagai pemimpin koalisi.
Namun demikian, kesepakatan trilateral ini terpisah dari koalisi tersebut. Kesepakatan trilateral ini merupakan bentuk yang lebih khusus dari upaya Riyadh untuk membendung tidak hanya kekuatan Iran, melainkan juga ancaman lain seperti milisi Syiah di Irak dan baru-baru ini Houthi di Yaman.
Selain itu, dengan hadirnya Pakistan sebagai negara bersenjata nuklir dalam kesepakatan ini, Saudi dapat melonggarkan tuntutan AS untuk menormalisasi hubungan dengan Israel sebagai syarat konsesi pengembangan nuklir sipil yang ditandatangani bersama AS pada 22 Juli silam. Pakistan, sebagai pihak yang tidak menandatangani NPT (Nuclear Non-Proliferation Treaty), pada gilirannya akan sangat mudah untuk melakukan transfer teknologi nuklir dalam bentuk apa pun ke Riyadh, baik dalam bentuk program nuklir sipil maupun persenjataan.
Terlebih, indikasi tersebut diperkuat dengan sikap Arab Saudi yang memang sudah lama menginginkan pengembangan senjata nuklir. Kini, perkara tersebut semakin dekat dengan kenyataan tanpa harus melibatkan AS. Riyadh tidak lagi dalam posisi terdesak untuk menerima kompromi dengan Israel semata-mata demi mendapatkan jaminan keamanan AS ataupun konsesi nuklir.
Dampaknya, posisi tawar Israel dalam dinamika regional akan tergerus di dalam peta kebijakan luar negeri Washington. Sebab demi kepentingan vitalnya di Timur Tengah—termasuk kelancaran pasokan energi, keamanan jalur pelayaran, dan pembendungan rival seperti Iran, Rusia, dan China—AS tidak perlu lagi bergantung kepada Israel sebagai "polisi regionalnya".
Munculnya blok baru ini, dengan agregat kekuatan teknologi militer Turki, daya gempur Pakistan, serta kekuatan finansial Saudi, meringankan biaya keamanan AS melalui mekanisme burden-sharing terhadap sekutunya. Walaupun tentu saja, agregat kekuatan ini perlu diuji langsung di lapangan.
Ankara: Otonomi Industri dan Keuangan Pertahanan
Dari sudut pandang Ankara, nuklir dan otonomi strategis juga menjadi salah satu intensi utama kepemimpinannya. Di bawah Presiden Recep Tayyip Erdoğan, Turki telah lama menyuarakan ketimpangan tata kelola keamanan nuklir global dan berupaya melepaskan diri dari ketergantungan terhadap Barat. Pendepakan Ankara dari program F-35 serta sanksi CAATSA oleh Amerika Serikat justru memicu akselerasi mandiri industri pertahanan domestik melalui raksasa teknologi seperti Baykar dan TAI.
Namun, pengembangan alutsista generasi baru membutuhkan biaya riset (R&D) yang sangat masif. Di sinilah Arab Saudi hadir sebagai capital provider berlikuiditas tinggi yang menjamin keberlanjutan proyek ambisius seperti jet tempur generasi kelima KAAN dan ekosistem drone tempur (UAV/UCAV).
Di luar instrumen ekonomi pertahanan, Ankara menghadapi persaingan ketat di Mediterania Timur melawan Yunani dan Siprus, serta ancaman utama dari kelompok separatis Kurdi (PKK/YPG) di Suriah dan Irak Utara. Dengan mengunci aliansi strategis bersama Riyadh dan Islamabad, Ankara memperoleh legitimasi politik dan "sabuk pengaman" diplomasi dari pusat dunia Islam, yang meminimalisir dampaknya terhadap isolasi Barat.
Terkait ancaman Iran, sebagaimana disorot dalam ulasan Al-Monitor, Turki memandang Teheran sebagai rival strategis sekaligus tetangga yang harus dikelola secara pragmatis. Aliansi trilateral ini memberi Ankara daya tawar untuk menahan ekspansi milisi proksi Iran di Levant dan Irak, tanpa harus terseret dalam konfrontasi militer konvensional secara terbuka.
Islamabad: Survival Ekonomi dan Penggentar Nuklir
Sedangkan bagi Islamabad, keterlibatan dalam Mecca Joint Defence Agreement adalah kalkulasi realpolitik untuk bertahan hidup di tengah krisis ekonomi domestik dan himpitan geopolitik Asia Selatan. Secara ekonomis, Islamabad sangat bergantung pada dana talangan, deposit devisa, dan pasokan energi dengan skema pembayaran lunak dari Arab Saudi guna menjaga stabilitas makroekonominya.
Namun secara strategis, motif utama Pakistan adalah melakukan re-balancing terhadap rivalitas utamanya dengan India, yang dalam beberapa tahun terakhir kian gencar menjalin kemitraan ekonomi dan keamanan dengan negara-negara Teluk.
Melalui kesepakatan ini, Pakistan menegaskan kembali posisinya sebagai tulang punggung keamanan di dunia Islam. Dalam ekosistem aliansi ini, Pakistan menyumbangkan sumber daya manusia militer teruji (hard manpower), pengalaman tempur konvensional, serta nuclear umbrella shadow (bayangan penggentar nuklir) secara implisit.
Sebagai imbalannya, Pakistan tidak hanya mengamankan arus modal Saudi, tetapi juga mendapatkan alih teknologi militer modern berstandar NATO dari Turki, seperti integrasi kapal perang corvette dan sistem kedirgantaraan—tanpa perlu bergantung pada restu AS.
Sebagaimana dianalisis oleh Al Jazeera, sinergi komplementer ini menandai lahirnya "tatanan regional baru" yang digerakkan oleh otonomi kekuatan menengah (middle powers), di mana ketiga negara saling menutup defisit strategis masing-masing demi stabilitas kawasan. Namun, semua itu lagi-lagi harus diuji di lapangan. Oleh karena demikian, jika dilihat dari anatomi anggotanya, Mecca Joint Defence Agreement pada intinya bukanlah manifestasi poros sektarian maupun kebangkitan ideologis Pan-Islamisme, melainkan bentuk saling ketergantungan komplementer yang bersifat pragmatis-transaksional di antara tiga middle powers.
