Konten dari Pengguna

Anak Sulit Terbuka, Siapa yang Sebenarnya Harus Berubah?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azliah Azzarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Kenapa sih kamu nggak pernah cerita?"

Kalimat ini mungkin sering terdengar di banyak keluarga. Orang tua menginginkan anaknya lebih terbuka, sementara anak justru memilih diam. Ketika ditanya, jawabannya hanya singkat, "Nggak apa-apa," atau "Lagi capek aja."

Banyak orang menganggap anak yang pendiam berarti tidak menghargai orang tuanya atau sengaja menutup diri. Padahal, kenyataannya tidak selalu sesederhana itu. Di balik sikap diam, sering kali ada rasa takut, tidak nyaman, atau pengalaman yang membuat anak merasa bahwa bercerita bukanlah pilihan yang aman.

Generated Gemini AI

Hubungan antara orang tua dan anak bukan hanya tentang seberapa sering mereka berbicara, tetapi juga tentang seberapa aman seseorang merasa ketika menyampaikan isi pikirannya.

Tidak semua anak tumbuh dalam lingkungan yang membuat mereka nyaman mengungkapkan perasaan. Ada yang pernah dimarahi ketika jujur, dibandingkan dengan saudara atau teman, bahkan dianggap berlebihan saat mengungkapkan emosi.

Lama-kelamaan, anak belajar bahwa diam terasa lebih aman daripada harus menghadapi kritik atau penolakan. Di era digital, tantangan itu semakin besar. Anak memiliki banyak tempat untuk meluapkan perasaan, mulai dari media sosial, komunitas daring, hingga teman sebaya. Akibatnya, orang tua sering menjadi orang terakhir yang mengetahui apa yang sebenarnya sedang dialami anak.

Ironisnya, banyak keluarga tinggal dalam satu rumah, tetapi jarang memiliki percakapan yang benar-benar bermakna. Waktu bersama sering kali diisi dengan masing-masing menatap layar ponsel daripada saling mendengarkan.

Keterbukaan bukan hanya soal keberanian anak untuk bercerita. Keterbukaan juga bergantung pada bagaimana respons yang diterima.

Bayangkan seorang anak menceritakan nilai ujiannya yang menurun. Jika respons pertama yang muncul adalah kemarahan atau ceramah panjang, besar kemungkinan ia akan berpikir dua kali untuk bercerita di lain waktu. Sebaliknya, ketika orang tua lebih dulu mendengarkan, mencoba memahami situasi, lalu berdiskusi tanpa menghakimi, anak akan merasa bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk pulang, bukan ruang sidang yang penuh penilaian.