Bukan Cinta, Ini Manipulasi: Saat Anak Terjebak Child Grooming

Saya merupakan mahasiswa universitas pamulang program studi Ilmu Komunikasi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Azliah Azzarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Awalnya hanya sebuah pesan sederhana.
“Sudah makan belum?”
“Kalau ada masalah, cerita sama aku.”
“Kamu beda dari anak-anak lain.”
Bagi seorang anak, perhatian seperti itu mungkin terasa menyenangkan. Apalagi ketika datang dari seseorang yang dianggap lebih dewasa, memahami, dan selalu ada ketika sedang membutuhkan tempat bercerita. Namun, tidak semua perhatian diberikan dengan niat baik.
Dalam beberapa kasus, perhatian tersebut justru menjadi awal dari child grooming, yaitu proses ketika seseorang secara sengaja membangun kedekatan, kepercayaan, dan keterikatan emosional dengan anak untuk kemudian memanipulasi atau mengeksploitasinya.
Pelaku dapat terlebih dahulu berusaha menjadi sosok yang dipercaya anak. Mereka mungkin memberikan perhatian berlebihan, menawarkan hadiah, menjadi tempat curhat, atau membuat anak merasa bahwa hanya pelaku yang benar-benar memahami dirinya.
Setelah hubungan emosional terbentuk, batas-batas mulai digeser, percakapan yang awalnya biasa dapat berubah menjadi semakin pribadi. Pelaku kemudian dapat meminta anak merahasiakan hubungan tersebut dari orang tua atau orang lain. Di Indonesia, hampir seluruh anak yang berusia di bawah 18 tahun sudah terhubung dengan internet. UNICEF mencatat sekitar 99,4 persen anak di Indonesia menggunakan internet, dengan rata-rata penggunaan sekitar 5,4 jam setiap hari.
Besarnya waktu yang dihabiskan di ruang digital membuat potensi interaksi dengan orang asing juga semakin besar.
Lebih mengkhawatirkan lagi, laporan Disrupting Harm in Indonesia menemukan bahwa sekitar 2 persen anak pengguna internet mengalami eksploitasi dan kekerasan seksual di ranah daring dalam 12 bulan terakhir. Angka tersebut diperkirakan setara dengan lebih dari 500 ribu anak setiap tahun| UNICEF.
Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang meminta anak merahasiakan hubungan mereka. Kalimat seperti “ini rahasia kita," “orang lain tidak akan mengerti," atau “kalau kamu cerita, kita tidak bisa dekat lagi” dapat digunakan untuk membuat anak merasa bertanggung jawab menjaga rahasia. Anak perlu dibekali kemampuan untuk mengenali batasan pribadi, memahami bahwa mereka boleh mengatakan “tidak," dan mengetahui bahwa mereka dapat bercerita kepada orang dewasa yang dipercaya ketika merasa tidak nyaman.
Orang tua juga perlu membangun komunikasi yang membuat anak merasa aman untuk bercerita tanpa langsung takut disalahkan. Sebab, ketika anak takut dimarahi, kemungkinan mereka menyimpan masalah sendiri justru semakin besar. Perubahan perilaku anak secara tiba-tiba, munculnya hubungan rahasia dengan seseorang, menjadi sangat tertutup ketika menggunakan gawai, mendapatkan hadiah dari orang yang tidak dikenal keluarga, atau terlihat takut ketika seseorang tertentu menghubunginya dapat menjadi alasan bagi orang tua untuk mengajak anak berbicara, bukan dengan menghakimi.
Bukan dengan mengatakan, “Kenapa kamu mau?”
Tetapi dengan mengatakan, “Kamu tidak salah. Ceritakan kepada Mama/Papa, kita hadapi bersama.”
Pada akhirnya, child grooming bukan kisah cinta antara anak dan orang dewasa. Di balik perhatian yang terlihat manis, dapat terdapat proses manipulasi yang dirancang untuk mendapatkan kepercayaan anak.
Dan ketika dunia digital semakin dekat dengan kehidupan anak, melindungi mereka bukan berarti menjauhkan anak dari internet sepenuhnya. Yang lebih penting adalah memastikan anak tahu kapan sebuah perhatian mulai berubah menjadi manipulasi, tahu bagaimana meminta pertolongan, dan tahu bahwa mereka tidak akan disalahkan ketika berani bercerita.
