Dari Koleksi Jadi Obsesi: Saat Blind Box Menguasai Dompet

Saya merupakan mahasiswa universitas pamulang program studi Ilmu Komunikasi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Azliah Azzarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Satu blind box untuk sekadar mencoba. Namun, setelah membuka kemasan dan mendapatkan karakter yang diinginkan, muncul rasa penasaran untuk membeli lagi. Kali ini berharap mendapatkan karakter lain yang belum dimiliki.
Satu kotak berubah menjadi dua, tiga, bahkan satu seri penuh.
Tanpa disadari, aktivitas yang awalnya hanya untuk hiburan bisa berubah menjadi kebiasaan belanja yang sulit dihentikan. Blind box bukan lagi sekadar mainan koleksi, tetapi mulai memengaruhi cara seseorang menghabiskan uang.
Salah satu daya tarik utama blind box adalah unsur kejutan. Pembeli tidak mengetahui karakter apa yang akan didapatkan sebelum kemasan dibuka.
Di sinilah muncul sensasi penasaran.
“Dapat yang mana, ya?” Pertanyaan sederhana tersebut justru menjadi bagian paling menarik dari pengalaman membeli blind box. Ketika mendapatkan karakter yang disukai, muncul rasa puas. Namun ketika mendapatkan karakter yang tidak diinginkan, muncul keinginan untuk mencoba lagi.
Harapannya, pembelian berikutnya akan memberikan hasil yang lebih memuaskan.
Inilah yang membuat seseorang terkadang terus membeli meskipun sebenarnya sudah memiliki cukup banyak koleksi.
Masalah mulai muncul ketika koleksi berubah menjadi sebuah target yang harus diselesaikan. Misalnya, seseorang merasa harus memiliki seluruh karakter dalam satu seri. Ketika ada satu karakter yang belum didapatkan, rasa penasaran semakin besar.
Akibatnya, pembelian tidak lagi dilakukan karena benar-benar membutuhkan atau menyukai produknya, tetapi karena merasa harus mendapatkan karakter yang belum dimiliki.
Blind box akhirnya bukan lagi sekadar koleksi, tetapi menjadi sebuah “perburuan”
Tidak ada angka pasti yang menentukan seseorang sudah “terlalu banyak” mengoleksi blind box. Namun, beberapa hal dapat menjadi tanda untuk mulai mengevaluasi kebiasaan tersebut.
Misalnya, membeli secara impulsif meskipun kondisi keuangan sedang tidak memungkinkan, berulang kali merasa menyesal setelah membeli tetapi tetap mengulanginya, atau merasa gelisah ketika tidak membeli produk terbaru.
Jika membeli blind box mulai mengganggu kebutuhan utama, tabungan, atau aktivitas sehari-hari, mungkin sudah waktunya untuk membuat batas. Bukan berarti harus berhenti mengoleksi sepenuhnya. Hobi tetap bisa dinikmati selama dilakukan secara sadar dan sesuai kemampuan.
